ADA cukup banyak pengalaman yang dirasakan Alex selama berjualan stiker di jalan poros Gowa-Makassar tepatnya di Hertasning Baru. Yang paling berkesan adalah pernah terjaring oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Lembar-lembar stikernya kemudian digulung. Sementara tali pengikat stiker di pohon diputus.
Laporan: ARIF AL QADRY
Untung saja dalam giat penertiban itu, lembaran stiker-stikernya tidak disita oleh penegak perda. Cuma teguran keras berupa pemutusan tali gantungan stikernya yang di pohon dan diberikan imbauan secara lisan untuk tidak lagi berjualan di wilayah Makassar. Setelah kejadin itu, Alex memilih berpindah tempat jualan sekaligus berdiri sendiri jualan stiker.
Karena mendapat dukungan dari orang tuanya, pria yang lahir di Gowa 9 September 1990 mendapat bantuan cukup modal dari orang tuanya. Uang itupun digunakan untuk beli stiker berbagai bentuk, corak dan model untuk kemudian dijual. Stiker dibelinya di langgananya di Jalan Tinumbu.
“Saya jualan stiker karena sejak SMP saya senang modif motor apalagi variasi aksesoris seperti stiker. Jadi saya kumpulkan uang untuk gabung sama teman jualan stiker di Jalan Hertasning. Jadi pulang sekolah ke tempat jualan sampai malam. Orang tua mendukung justru kasih saya modal untuk usaha sendiri jualan stiker,” akunya.
Saat ini model stikernya yang dijual Alex semakin banyak dan bertambah. Di mana Alex baru-baru ini sudah selesai di SMA. Sehingga dia sudah fokus berjualan stikernya di tepi jalan umum. Sekarang ini Alex sudah mempekerjakan satu orang temannya untuk membantunya jualan setiap hari dari pukul 10:00 WITA sampai 18:00 WITA. Tapi saat hujan Alex memilih untuk tidak berjualan.
Di musim hujan seperti sekarang ini, mobilitas Alex jualan stiker cukup terbatas. Bahkan kadang terpaksa selama berhari-hari libur dan tidak jualan. Sebab jika dipaksa bisa-bisa stikernya basah dan rusak terkena air hujan.
“Kalau hujan, semua stiker-stiker langsung diambil dan dibungkus baru pulang. Tidak berani jualan kalau hujan karena bisa-bisa rusak semua stiker kena air hujan. Ini pasti setiap tahun dan pernah hampir seminggu cuma di rumah saja tidak keluar jualan karena hujan terus-terus,” akunya.
Dia berkeinginan suatu saat nanti, usaha bisnis stikernya ini bisa berkembang dan memiliki tempat yang menetap dengan memiliki Rumah Toko (Ruko). Dan sekarang ini ia sudah mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari hasil jual stiker di tepi jalan.
“Semoga rezeki lancar-lancar dan bisa juga punya ruko sendiri untuk jualan stiker. Itu cita-cita saya dan inilah yang sementara saya tabung-tabung uang juga untuk itu. Secara bertahaplah,” tambahnya.
Pengendara sepeda motor maupun mobil yang datang ke tempat jualan stiker Alex, dapat dengan bebas memilih-milih stiker yang unik sesuai selera. Sementara pembeli yang ingin dipasangkan juga bisa. Pemasangan stiker di tempat Alex sama sekali tidak ada biaya tambahan alias gratis.
“Alat untuk pasang stiker body cukup sederhana ji, cuma korek gas, gunting dan silet. Kalau ada yang minta untuk dipasangkan, saya pasangkan dan itu gratis beda dengan tempat-tempat jualan stiker lain yang ada biaya untuk pemasangan stiker. Disini kami gratiskan,” kata Alex ke penulis.
Berjualan stiker kendaraan di tepi jalan poros Makassar-Gowa ini mulai dilakukan Alex ketika masih bersekolah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dan saat itu masih gabung bersama temannya. Namun setelah cukup mendapatkan pengalaman, ia memutuskan berdikari tuk jualan stiker.
“Sudah 10 tahun mi jualan stiker terhitung waktu masih gabung atau ikut dengan temanku. Dua tahun bersama, saya berdiri sendiri jualan stiker dibantu sama teman yang bertugas melayani kalau ada pembeli datang dan sampai sekarang bertahan,” tambahnya.
Harga stiker yang dijual Alex paling murah seharga Rp4 ribu, dan paling mahal seharga Rp85 ribu. Harga stiker dijual sesuai dengan ukurannya. Semakin besar, harga stikernya semakin mahal dan biasanya untuk body pada kendaraan sepeda motor.
“Paling banyak yang datang beli dari pengendara motor. Biasanya untuk body motornya dan aksesoris tambahan di motornya. Stiker mobil banyak, tapi jarang ada yang pesan singgah,” akunya. (arf)

