pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Meski Baru Produknya Sudah Merambah ke Toko-toko

MENGHUNI Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Makassar tidak membuat warga binaan rendah diri. Mereka tetap bisa mengasah kreativitas dan membuat beragam karya seperti pembuatan roti. Selain membuatnya terampil, warga binaan tidak lagi jenuh berada di lapas.

Laporan: JUNI SEWANG

Seperti yang dilakukan warga binaan pria. Dengan ruangan yang agak luas mereka mengasak kemampuan masing-masing.
“Kami baru mencari pasar, kami baru mulai ramai, untuk di dalam Lapas sendiri kami pasarkan di kantin kantin,” ujar Anto, salah seorang anggota D’Laps Bakery.
Bahkan menurutnya, usahanya meski masih terbilang baru atau belum lama hadir di dalam Lapas, pihak Kemenkumham mulai memasarkan hingga ke toko-toko besar di dalam Kota Makassar. “Mudah-mudahan usaha bersama kami ini bisa tumbuh besar dan menjadi usaha yang meraup keuntungan bagi lapas. Keuntungan tersebut bisa digunakan untuk membina warga yang mendekam di dalam lapas agar nantinya bisa terampil setelah bebas,” harap Anto.
Sambil sesekali mengusap keringat yang menempel di dahinya, Anto di depan penulis menambahkan, orang pasti tidak menyangka, khususnya orang yang membesuk keluarganya di dalam lapas bahwa roti yang mereka beli adalah buatan para narapidana Lapas. Roti halus dengan isi cokelat, keju, cokelat keju, pisang cokelat, pisang cokelat keju, abon, selai kaya, roti boy itu ternyata dibuat dari tangan para mantan kriminal. Meski begitu, tidak perlu risau, roti itu dipastikan halal.
Dari dapur yang tidak terlalu luas ini, ribuan roti dan donat diproduksi setiap hari.
Sementara itu, Kepala satuan kerja Lapas Kelas I Makassar, Budi Sarwono menceritakan, berawal dari sekedar pembinaan narapidana, roti dan donat sukses menarik banyak peminat. Nama D’Laps Bakery pun diambil sebagai merek dagang para warga binaan.
“Awalnya hanya sekedar dibuatkan agar warga binaan di sini memiliki keahlian. Apalagi Lapas Kelas 1 Makassar sudah disebut sebagai lapas industri,” ucapnya.
Untuk diketahui, roti dan donat merupakan salah satu dari beberapa industri di dalam lapas. Industri lainnya yakni jasa bengkel serta pengecatan mobil, insutri perkayuan dan las juga terbilang hidup.
“Hidup itu seperti roti. Berawal dari bagian-bagian kecil yang menyatu dengan baik. Tepung, gula, mentega, telur dan ragi. Walaupun diadut, diputar, diremas, dibanting, semua itu tak merusaknya. Bahkan membuatnya makin menyatu, lembut dan kalis. Hanya setelah bersatu dengn baik, adonan tadi bisa berkembang,” katanya.
Lebih jauh kata dia, D’Laps Bakery juga menerima pesanan roti yang siap diantarkan ke tempat tujuan, mengenai rasa dan kualitas D’Laps Bakery dijamin tidak menggunakan bahan pengawet.
Karena tidak menggunakan bahan pengawet Roti, D’Laps Bakery hanya bertahan hingga 4 sampai 5 hari, untuk produksinya setiap hari D’Laps Bakery menerima pesanan hingga 500 roti perhari tergantung dari permintaan pasar, dan pesanan yang datang, namun diperkirakan D’Laps Bakery akan menargetkan penjualan rotinya hingga 1000 biji perhari, dengan memperluas penjualan roti D’Laps Bakery.
Saat ini pemasaran D’Laps Bakery memperluas hingga memenuhi target 1.000 biji perharinya, dengan seluruh kantin dan acara dibawah naungan Kanwil Kemenkum HAM Sulsel berharap dapat memesan D’Laps Bakery.
“Fokus kita adalah pembinaan kepada warga binaan, untuk urusan pemasaran sudah ditangani oleh bidang kegiatan kerja beserta salah seorang WBP yang memiliki chanel pasar diluar, sementara untuk keuntungannya tetap akan dilelola oleh Lapas Makassar, namun Lapas lebih berfokus ke pembinaanya karena diharapkan skill yang diperoleh oleh WBP dapat menjadi keterampilan WBP ketika ia bebas” ujar Kalapas.(jun)



×


Meski Baru Produknya Sudah Merambah ke Toko-toko

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar