HUJAN yang mengguyur wilayah Kabupaten Gowa, ditambah dengan dibukanya pintu air Bendung Bilibili telah memicu terjadinya banjir di banyak tempat. Kondisi ini juga berpengaruh pada ketinggian air di Sungai Jeneberang yang melintas di bawah jembatan kembar Kota Sungguminasa.
Di saat-saat seperti itu, banyak pengendara yang melintas di atas jembatan mencoba menantang maut. Mereka ramai-ramai singgah untuk mengabadikan keadaan terkini. Baik melalui video maupun swafoto. Selanjutnya mengunggahnya di media sosial.
Spontan, kembatan kembar yang jalur kiri di Jalan Usman Salangke (poros Sungguminasa-Pallangga) penuh sesak. Bahkan ada yang mengan sengaja datang sekadar untuk mengambil gambar.
Sesaknya pengguna jalan membuat gerbang gapura jembatan kembar yang baru dibangun sebulan lalu bergoyang. Gerbang yang terbuat dari besi itu hanya ditopang penahan dari bambu.
Karena kondisinya mengkhawatirkan, dan ditakutkan gerbang gapura besi itu jatuh, Pemkab Gowa memutuskan untuk menutup sementara jalur jalan ke jembatan kembar untuk sisi kiri. Sementara jembatan jalur kanan dari arah Pallangga menuju Sungguminasa tetap dibuka agar akses kendaraan tetap berjalan.
“Iya, tadi (kemarin) Pak Bupati Gowa sempat menginstruksikan agar jalur kiri jembatan kembar (arah Sungguminasa-Pallangga) ditutup dulu, karena terlalu banyak warga bergerombol sehingga membuat gapura jembatan bergoyang. Jadi bukan fisik jembatan yg bergerak, tapi gerbang gapura yang baru dibangun yang bergerak. Karena penopangnya hanya bambu, sementara warga makin nekat bergerombol di jembatan. Makanya untuk menghindari gerbang jatuh dan menimpa orang, sementara ditutup dulu,” jelas Abdullah Sirajuddin, Kabag Humas dan Kerja Sama Pemkab Gowa yang menyertai rombongan bupati melakukan pemantauan kondisi banjir di Mappala Pallangga, Selasa siang (22/1).
Sementara itu di Malino, Kecamatan Tinggimoncong, terjadi longsor di Jalan Colleng, Kelurahan Malino. Dari longsoran yang menimpa satu unit rumah ini satu orang tewas. Sementara penghuni lainnya selamat, dan satu orang masih dicari.
Camat Tinggimoncong Andry Mauritz mengatakan, longsor yang terjadi ini akibat curah hujan yang cukup tinggi. “Satu orang telah ditemukan dalam kondisi hidup setelah dilakukan evakuasi selama dua jam. Satu dalam kondisi tidak bernyawa. Sedang satunya lagi masih dalam pencarian. Jadi mereka ini satu keluarga yang rumahnya tertimpa tanah longsor,” kata camat.
Menurut Andry Mauritz, proses evakuasi memang berlangsung agak lama karena masih menggunakan peralatan manual, seperti sekop. Belum lagi hujan yang terus turun semakin menyulitkan warga yang dibantu kepolisian dan koramil.
“Kami evakuasi semampunya. Identitas korban pun juga masih saya konfirmasi,” ujarnya. (sar/rus)

