MASUKNYA puncak hujan tahun ini tidak hanya berdampak negatif karena banjir, dampak positif juga ada karena para penjual jaz hujan menjadikan musim hujan sebagai berkah. Seperti yang dilakoni Herman Saputera.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Di dalam Kota Makassar sangat mudah kita jumpai penjual jaz hujan bahkan mulai marak. Seperti kita jumpai di pinggiran Jalan Perintis Kemerdekaan, Hertasning dan Rappocini Raya.
Herman Saputera sehari-harinya adalah penjual baju kaos dan kemeja. Tapi karena kondisi hujan, pria berusia 32 tahun ini beralih menjual jas hujan di Jalan Perintis kemerdekaan. Bahkan keuntungan yang dirasakan Herman jauh lebih besar dibandingkan menjual baju.
“Awalnya saya tidak sengaja ji’ menjual jas hujan. Dulunya saya berjualan baju, tapi karena datang musim hujan terus omset penjualan bajuku kurang, akhirnya saya jadi pedagang jas hujan saja,” ungkapnya saat ditemui di tempat jualnnya, kemarin.
Pria kelahiran Jeneponto, 6 Mei 1983 ini, juga mengakui, meski tidak mendapatkan keuntungan setiap bulannya yang cukup besar, namun diakuinya keuntungan menjual jas hujan bisa menutupi kehidupannya dalam musim kemarau.
“Penjualan di musim hujan itu lumayan banyak ji’, tapi kalau di musim panas jarang sekali, biasa juga tidak ada sama sekali. Sudah resiko yang harus dihadapi. Tapi lumayan ji’ kalau sehari itu bisa ki’ dapat Rp300 ribu lebih, apalagi musim hujan berbulan-bulan juga, lebih bagus lagi lebih banyak saya dapat,” bebernya.
Beberapa jenis jas hujan yang Herman jual adalah jas hujan model ponco/batman, jas hujan setelan baju celana, setelan baju rok, dan jenis jas hujan lainnya yang menyesuaikan dengan ukuran dan jenis bahannya. Berlaih usaha tentu dirasakan berat oleh Herman, terlebih lagi modal usaha bajunya ia alihkan untuk berjualan baju, sebesar Rp3 Juta lebih.
“Awalnya itu saya jualan jas hujan, karena saya sulitkah dapat pelanggan karena saya tempat jualanku di mobil, yang terkadang tidak menentu tempatnya. Kebanyakan yang mampir di jalan dan hanya tanya harga,” jelasnya.
Olehnya itu, terkadang ia merasa minder dan menyerah menjual jas hujan. Namun, berangkat dari komentar dan kritikan pelanggannya, ia merubah gaya usahanya yang lebih mengutakan kualitas jas hujan miliknya.”Saya sempat ji’ rasa capek marah dan emosi kalau ada yang hina jualanku ini, tapi bukan saya kalau menyerah begitu saja dengan begitu-begitu,” ucapnya.
Lanjut Herman menjelaskan, kebanyakan pembelinya dari kalangan pekerja, yang memilih jas hujan berkualitas. Sedangkan anak muda lebih senang membeli jenis ponco yang cepat dipakai sekali pasang. Apalagi kini, jas hujan miliknya dibandrol harga yang menegah hingga keatas sesuai kualitas jas hujannya.
“Beda-beda ki, tapi lebih banyak yang cari itu yang jas hujan sepasang. Kalau yang setelan langsung, kurang mi cari. Kalau harganya tergantung kualitasnya ji yang paling murah biasanya itu Rp50 ribu- Rp100 ribu itu lumayan tebal, anti sobek, terus kualitasnya juga bagus,” tuturnya. (*)

