pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Siap-siap Tanggung Sendiri Jika Ada Kelapa yang Rusak

TIDAK mudah juga untuk mulai berjualan kelapa di pinggiran jalan tersebut. Uslan mengakui, ia harus mengambil kelapanya jauh hingga ke Jeneponto.

Laporan: NUGROHO

Di Makassar memang dikatakan Uslan tak ada kelapa yang memiliki kualitas cukup baik dibanding di Jeneponto. Makanya walaupun jauh, dirinya rela mengorder kelapa-kelapa tersebut dari Jeneponto.
Walaupun begitu, dirinya bukanlah sebagai pihak pertama, melainkan sebagai pihak ketiga yang telah mendagangkannya.
“Saya kan ndak punya kebun kelapa. Ini saya saya sebagai pihak ketiga. Jadi tempatku ambil ini kelapa, dia juga beli dari kebunnya orang,” kata pria asli Makassar ini.
Untung saja saat ini dirinya tak perlu jauh-jauh lagi harus ke Jeneponto. Karena si pengorder dikatakan Uslan bersedia mengantarkannya ke tempat jualannya kini.
Uslan sendiri menjual kelapanya seharga Rp12 ribu perbuah. Harga tersebut sudah termasuk jika para pelanggannya ingin kelapa tersebut dikerok. Namun jika tidak dikerok, Uslan biasa juga menjualnya hanya Rp10 ribu perbuah.
Harga tersebut sudah cukup terjangkau jika dilihat dari keuntungan yang didapatkannya. Pasalnya untuk mendapatkan satu buah kelapa dari pengordernya di Jeneponto, ia membeli satu buahnya seharga Rp7 ribu.
Belum lagi jika ada kelapa yang rusak. Uslan mengatakan, kerap kali ia membeli, beberapa kelapa yang didapatkannya ternyata rusak. Dan ternyata hal itu tak bisa dikomplainnya. Jika ada yang rusak, maka Uslan sendiri lah yang menanggung.
“Iya banyak biasa yang rusak. Kita yang tanggung. Memang begitu resikonya,” ucapnya.
Namun ternyata Uslan masih tetap bersyukur walaupun seperti itu. Penjualan kelapanya hingga saat ini masih dirasanya cukup menguntungkan untuk menghidupi keluarganya.
Diketahui Uslan saat ini bertempat tinggal di Jalan Malengkeri dengan istri dan empat orang anaknya yang masih sekolah. Dengan berjualan kelapa, ia mengaku telah sedikit terbantu dari menjual kelapa ini.
Saat penulis mengunjungi tempat jualannya pun, Uslan tampak menjajakan kelapanya bersama dengan istrinya. Selain istrinya, ayahnya pun ia bawa serta untuk membantu dirinya berjualan.
“Ya begitu mi. Saya sama istri sama bapak jualan. Karena ini mi memang yang hidupi ki khususnya selama Ramadhan,” tambahnya.
Walaupun bukan kerjaan hari-harinya, Uslan tetap berharap bisa membesarkan usaha jualan kelapanya ini. Dirinya tetap punya harapan supaya usahanya ini perlahan akan besar dan membawa kesejahteraan bagi keluarganya.
Jika bukan ramadan, tempat itu kosong tak ada yang berjualan. Pemilik tempat jualan, Uslan menangatakan, memang dirinya membuka usaha kelapa muda ini, hanya saat bulan ramadan saja.
Tempat berjualan milik Uslan memang amat sederhana. Hanya ada dinding terbuat dari seng bekas di belakangnya. Sementara atapnya dari terpal yang ditopang dengan balok kayu.
Uslan mengakui, untuk tahun ini tidak sejak awap Ramadhan dirinya berjualan. Baru sekitar 10 hari lalu ia membuka jualannya tersebut. Namun memang telah menjadi kebiasaannya menjual kelapa jika ramadan tiba.
Uslan sehari-harinya adalah seorang buruh bangunan. Ia memilih berjualan kelapa saat ramadan karena proyek membangun bangunan saat ramadan sepi. Begitupun sebaliknya, berjualan kelapa saat ramadan bisa menghasilkan untung berlipat, berbeda dengan saat bukan Ramadhan yang mana berjualan kelapa akan sepi.
“Saling menutupi ini. Kalau ndak ramadan, saya kerja bangunan karena sepi ki yang cari kelapa. Kalau Ramadhan, ndakda orang kerja bangunan, kalau jual kelapa banyak yang cari,” kata Uslan.
Soalnya dikatakan Uslan, dirinya pernah mencoba berjualan kelapa saat bukan bulan ramadan. Hasilnya, sedikit sekali yang mencari kelapa jika dibandingkan saat Ramadan tiba.
“Kalau hari biasa palingan satu dua orang ji yang beli, paling banyak 15 orang. Tapi kalau ramadan, bisa sampai 70 sampai 100 kelapa yang saya jual,” jelasnya.
Ini tentu menjadi kesyukuran baginya. Karena dalam sehari, keuntungan yang ia dapat bisa mencapai Rp900 ribu perhari. Jumlah itu tentu sudah cukup mencukupi untuk biaya hidup dirinya beserta keluarga.
Uslan sendiri mulai membuka jualannya sejak pagi pukul 10.00 Wita hingga malam hari setalah buka puasa. Para pembeli baru akan membludak jika telah memasuki sore hari sekitar pukul 17.00 wita.
“Kalau siang memang masih sedikit. Kalau sore mi, jam 5 sore, baru banyak sekali mi yang beli. Ini saja kemarin, ada satu orang yang beli langsung 10 buah,” tambahnya.(b)



×


Siap-siap Tanggung Sendiri Jika Ada Kelapa yang Rusak

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar