pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dia Berharap Setiap Bulan Musim Melahirkan

DI TENGAH teriknya matahari yang masih terasa di sore hari, Jumariah Dg Ngasseng terlihat bersandar di tempat penjualan gerabah yang ia sewa di Jalan Poros Sultan Alauddin.

Laporan: JUNI SEWANG

Belum banyak gerabah yang ia jual. Ia mengamati setiap pejalan kaki dan kendaraan yang lalu lalang sehabis bekerja atau aktifitas lainnya, sesekali Jumariah Dg Ngasseng mengusap-usap gerabah dari debu-debu yang menempel. Maklum, lokasi jualannya dekat dengan jalan raya yang sering dilewati kendaraan bermotor.
“Belakangan sepi yang beli. Malah barang saya sekarang baru satu dua biji terjual,” ujar wanita tua ini.
Setiap pukul 04.30, Jumariah Dg Ngasseng harus berangkat dari rumahnya untuk mencari rezeki, ia mengangkut belasan kendi, wajan, anglo, celengan, dan panci tempat jualannya yang tidak jauh dari terminal Mallengkeri. Jumariah Dg Ngasseng mengatakan, sehari-hari barang dagangan yang terbuat dari tanah liat itu juga ada titipan dari pengrajin lain.
Menurut Jumariah dagangan gerabah tidak menentu, bahkan nihil. Peminat barang berwarna cokelat kegelapan itu terbatas bagi mereka yang hobi mengoleksi benda-benda kuno. Tidak ada barang baru yang dijual, kecuali ada yang memesan.
Harga jual barang dagangan Jumariah bervariasi, tapi tak lebih dari Rp50.000. Sebut saja wajan dipatok Rp50.000, satu set perlengkapan minum (satu nampan dan tiga cangkir) ditawarkan Rp40.000, kendi dengan berbagai ukuran antara Rp20.000 dan Rp25.000, panci Rp30.000, dan celengan Rp10.000 – Rp15.0000 saja.
“Terhitung murah, kan? Itu masih boleh ditawar loh. Mungkin ada pengaruh perkembangan zaman. Makin modern dunia ini, makin sedikit pula yang beli gerabah. Pembelinya kadang ada yang bermobil, ada pula yang tidak,” ucap Jumariah.
Meninggalkan pekerjaan kuli sawah di desa, Jumariah yang mempunyai dua putra ini beralih berjualan kendi keliling guna mewujudkan cita cita putra bungsunya. Anak pertama Jumariah, berprofesi buruh bangunan, dan putra keduanya yang bercita cita menjadi tentra, Jumariah berharap, suatu saat nanti dapat mewujudkan cita cita anak bungsunya.
Kepada penulis, ia sangat berharap adanya musim kelahiran. Soalnya di musim itu, banyak masyarakat yang beli kendi untuk memasukkan ari-ari bayi sebelum di tanam.
“Kalau musim kelahiran penjualan bisa mencapai 30-50 biji per bulannya. Tapi kalau tidak musim, sebulan cuma bisa menjual lima hingga enam biji saja yang laku,” ucapnya.
Jumariah juga mengaku telah bertahan 30 tahun lebih menjual gerabah di dalam Kota Makassar yang dibantu kedua anaknya. Namun dalam beberapa tahun terakhir ini penjualan gerabahnya susut drastis.
“Dulu di tahun 1980 dan 1990 an jualan saya ini laris manis. Namun sekarang masyarakat lebih suka yang plastik karena ringan dan praktis,” ucapnya.
Meski begitu, Jumariah tidak menyerah. Dia tetap bertahan kendati dihadapkan dengan kenyataan. Bahwa menjual gerabah sudah semakin susah.
Dalam usianya yang sudah renta, Jumariah masih fasis menjawab pertanyaan penulis. Menurutnya, kebutuhan gerabah pada saat kelahiran bayi, nikahan, dan kegiatan lainnya. “Meskipun banyak yang suka plastik, tapi masih ada saja yang membutuhkan alat dapur yang terbuat dari gerabah,” katanya.
Untuk mengatasi sedikitnya peminat, Jamariah berinisiatif untuk lebih memerbanyak produk kebutuhan rumah tangga lainnya. Semisal tempat celengan.
Warga Desa Sandi Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Takalar, ini mengaku hidup bersama suami dan punya dua anak laki-laki di rumah yang tidak terbilang luas. Dia turut membantu sang suami yang menjadi tulang punggung untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Selama ini dia dan suami hanya mengandalkan penghasilan dari menjadi buruh tanam padi dan panen padi pada orang, perlahan lahan tenaga dirinya dan suaminya mulai tidak dibutuhkan dikarenakan para pemilik lahan mulai menggunakan mesin panen.
Akhirnya pasangan suami istri ini membuat kerajinan tangan dengan membuat gerabah tradisional dari bahan baku tanah liat mengikuti para pengrajin tanah liat yang ada disekitar rumahnya.
“Penghasilan saya untuk kebutuhan keluarga selama ini hanya dari buruh tanam dan panen padi, perlahan lahan tenaga kami tidak lagi dibutuhkan karena orang tanam dan panen padi sudah pake mesin,” cerita Jumariah Dg Ngasseng.
Setiap hari rata-rata Jumariah Dg Ngasseng mampu memproduksi enam hasil kerajinan tangan yang ia pelajari secara otodidak, seperti panci masak, guci kecil, asbak dari bahan baku tanah liat yang dia beli oleh suaminya dimana harga satu karung seharga Rp12.000.
“Satu hari rata-rata hanya mampu saya produksi sendiri enam buah, dengan harga jual mulai dari Rp15.000 hingga Rp20.000 per buahnya, kata dia.
Pasarannya hingga ke Kota Makassar, jelas Jumariah dibantu oleh dua orang anaknya yang telah berumah tangga. gerabah tersebut dibawa pakai mobil bak terbuka.
“Saya dibantu dua anak laki-laki ku jika ada pemesanan di Makassar termasuk sekalian berjualan di pinggir jalan. Tidak tiap hari ja di Makassar, karena tidak mampu ma, anakku mami yang lanjutkan ki,” katanya.
Kepada penulis, ia juga berharap ada bantuan modal usaha kerajinan tangannya dari pemerintah untuk meningkatkan produksi dan penghasilan guna membiayai anak bungsunya yang bercita cita menjadi Tentara.
“Itu ji kodong saya mau wujudkan cita cita anak bungkoku, Mauki jadi tentara karena masih bisa umurnya masuk tentara prajurit,” tuturnya. (*)



×


Dia Berharap Setiap Bulan Musim Melahirkan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar