MERINTIS usaha bisa dilakukan dengan background apapun, asalkan punya ambisi dan tekad yang bulat. Seperti yang kini dikerjakan Suryo S pendiri sabun cair multifungsi di Makassar.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Ia memang merupakan anak farmasi, yang baru menyelesaikan studinya di Jepang.
Pria Kelahiran Makassar 9 September 1990 ini sejak muda sudah menjadi wirausaha muda di Makassar. Sebab di umur 20 tahun dirinya sudah merintis usaha, hingga akhirnya bisnis usaha sabun cair dilabeli nama ‘maKs’ ini telah dipasarkan di Kota Makassar sejak tahun 2009 lalu.
“Saya dulu tidak ada niat buat jadikan ini (sabunnya) jadi usaha, karena itu cuman penelitian saya di kampus saya dulu di Unhas untuk dapat nilai. Tidak tahu dan kepikiran bisa jadikan ladang usaha,”katanya.
Hanya saja, karena kebetulan dosennya bilang banyak peneliti senior yang hanya berhenti disitu saja saat penelitian. Olehnya itu, ia meminta ke Suryo untuk terus mengembangkan produknya.”Saya disuport oleh dosen saya sehingga saya memulai pasarkan dulu di warung makan,” ungkpanya saat ditemui penulis di salah satu cafe di Makassar, akhir pekan lalu.
Pendiri sabun multifungsi ini akhirnya mempatenkan usahanya itu dengan diberi nama sefactorpharma, dengan alasan background jurusannya.
Alasan lain Rio sapaan akrabnya tetap mempertahankan merintis usaha sabunnya karena, prihatin dengan banyaknya sabun yang beredar di Masyarakat tidak peduli lingkungan dan dirinya juga dapat menciptakan lapangan kerja.
“Puji tuhan sih bisa, bantu masyarakat bisa hemat kantong, ramah lingkungan dan sabun ini aman untuk kulit bahkan bisa menghaluskan kulit tangan. Kalau dulu saya pasarkan sendiri, sekarang sudah ada beberapa karyawan saya yang jual dan membuatnya, tinggal saya arahkan saja. Sabunnya itu multifungsi karena bisa mencuci mobil, motor, piring, pakaian dan tangan dalam satu kemasan,” jelasnya.
Rio juga mengakui kewalahan dan takut merintis usaha sabunnya sebab dirinya hanya memiliki tiga orang teman yang membantunya membuat sabun cuci piring. Sedangkan pada saat itu, dirinya ditawari membuat sabun untuk mobil, motor, lantai, pakaian. Hingga dirinya memutar otak, agar tidak kewalahan dirinya menciptakan satu produk yang bisa digunakan untuk semua.
“Pusing juga dulu karena tidak ada tenaga, uang juga dulu terbatas, ditambah harus segera selesaikan skripsi. Setelah saya lakukan 70 eksperimen saya, baru saya temukan itu (sabunnya). Selesai itu, baru saya putuskan saya jual curah saja 5.000 dulu. Kalau sekarang saya jual sebesar Rp20 ribu ukuran 500ml,” katanya.
Menjadi anak pertama dari tiga orang saudara ini juga menyayangkan jika banyak penelitian yang diciptakan mahasiswa tidak bisa dikembangkan menjadi ladang usaha dan membuka lapangan kerja. Seperti yang ia lakukan dengan modal usahanya itu, Rio sudah bisa memenuhi kebutuhan orangtuanya dan melanjutkan studi keluar negeri.
“Sekarang juga saya merintis usaha lain dari limbah tahu, hasil penjualan sabun itu sangat membantu saya. Termasuk penelitian dan kuliah saya di Jepang dan mengelilingi 5 negara. Orantua saya tinggal mama, sedikit membantu di rumah juga untuk adek juga,” ucapnya. (*)

