pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Weekend, Hari Handphone untuk Anak

Teknologi memang banyak membantu manusia dalam memudahkan beragam aktivitasnya. Tidak terkecuali handphone (telepon genggam) yang kini sudah dimiliki hampir setiap orang. Sayangnya, di balik kemanfaatannya yang tinggi, telepon genggam juga memiliki mudarat atau membahayakan bagi penggunanya. Terutama bagi anak-anak yang belum terlalu paham penggunaan setiap fitur dari telepon genggam.
Data tentang banyaknya anak yang terpapar dampak buruk handphone ramai diberitakan di media, baik cetak maupun media sosial. Kebanyakan yang menjadi korban adalah anak berusia 12 tahun ke bawah. Sebagian dari mereka sudah masuk usia sekolah.
Banyak bahaya atau dampak negatif bagi anak yang menggunakan handphone cukup lama. Dikutip dari www.theasianparent.com, dampak negatif itu antara lain menghambat pertumbuhan otak, tumbuh kembang yang lambat, obesitas, kurang tidur, dan kelainan mental. Dampak negatif lainnya adalah muncul sikap agresif, kecanduan, pikun digital, radiasi emisi, dan proses belajar yang tidak berkelanjutan.
Penelitian di Bristol University tahun 2010 juga mengungkapkan, bahaya penggunaan gadget pada nak dapat meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, kurang atensi, autisme, kelainan bipolar, psikosis, mengganggu penglihatan, dan perilaku bermasalah lainnya.
Seorang anak kawan saya mengalami gangguan penglihatan karena keseringan main handphone. Sang anak mulai mengenal handphone sejak duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar.
Semula kebijakan untuk memberi telepon genggam pada anak semata untuk memudahkan komunikasi, terutama untuk penjemputan. Karena kedua orang tuanya sibuk, sang anak diminta untuk menghubungi mamanya saat jam pulang agar tukang bentor langganannya bisa menjemput tepat waktu.
Dua tahun pertama, handphone sang anak dirasakan manfaatnya. Selain jadwal penjemputan tepat waktu, anak yang bersangkutan juga senang karena bisa menggunakan telepon genggam miliknya untuk game, foto-foto, dan penggunaan fitur lainnya.
Masalah muncul saat sang anak duduk di bangku kelas enam, atau tiga tahun setelah dibolehkan menggunakan handphone. Penglihatan sang anak terganggu. Matanya agak rabum. Ia terpaksa menggunakan kacamata minus. Kebiasaannya belajar dan membaca juga mulai berkurang.
Sang ibu konsultasi ke dokter spesialis mata untuk pengobatan sekaligus mencari penyebab gangguan penglihatan pada anaknya itu. Sang ibu aget mendengar penjelasan dokter kalau semuanya karena pengaruh gadget.
Sang ibu pun akhirnya menyesal memberi kebebasan kepada anaknya untuk menggunakan gadget. Apalagi hingga kini sang anak sudah tidak mau melepaskan handphone dari tangannya.
Sejatinya memang, penggunaan gadget bagi anak dibatasi. Ini penting agar anak tidak terpapar radiasi yang berakibat pada terganggunya penglihatan.
Menghabiskan waktu sepanjang hari dengan handphone atau gadget lainnya akan mengakibatkan pekerjaan lainnya tertunda atau terbengkalai.
Akademi Dokter Anak Amerika dan Perhimpunan Dokter Anak Kanada mengklasifikasi penggunaan handphone sesuai umur. Anak berusia 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali. Selanjutnya anak berumur 3-5 tahun dibatasi menggunakan teknologi hanya satu jam per hari. Dan anak umur 6-18 tahun dibatasi 2 jam saja per hari.
Agar tidak terpapar radiasi handphone, ada baiknya menetapkan jam atau hari tertentu bagi anak untuk membolehkan menggunakan gadget.
Inisiator ‘Semua Murid Semua Guru’, Najeela Shihab dalam sebuah diskusi di Ariobimo Plaza, Jakarta, tahun lalu juga memberi rekomendasi terkait efektivitas waktu yang paling ideal bagi anak dalam menggunakan gadget. Najeela membagi waktu tepat menggunakan gadget sesuai usia. Untuk anak usia di bawah 18 bulan, Najeela menyarankan sebaiknya tidak perlu dibiasakan menggunakan gadget terlebih dahulu. Alasannya, usianya masih terlalu dini untuk dikenalkan dengan teknologi, kecuali video call sebagai sarana komunikasi dengan orang tua ataupun anggota keluarga yang berjauhan.
Selanjutnya anak usia 18-24 bulan, disarankan untuk memilih program yang berkualitas serta sesuai tahap perkembangannya. Selalu dampingi dan pantau anak ketika bermain gadget.
Anak usia 3-5 tahun, Najeela membolehkan penggunaan gadget. Cuma rekomendasinya batasi maksimal satu jam per hari. Pastikan juga apa yang sedang ia mainkan atau tonton sesuai dengan usianya. Dan jangan lupa secara rutin memantau gadgetnya untuk mengecek apakah yang ditontonnya sesuai dengan tahap perkembangannya atau tidak. Bantu juga ia memahami berbagai hal yang dilihatnya untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemudian anak usia 6 tahun ke atas, dibolehkan bermain gadget selama dua jam dalam sehari. Akan tetapi penerapan waktunya harus konsisten agar ia disiplin. Orang tua juga mesti memastikan pola tidur dan makan sang anak tidak terganggu akibat bermain gadget.
Yang tidak kalah pentingnya adalah rutin memperhatikan postur tubuh anak. Sebab banyak anak yang postur tubuhnya jadi kurus karena keasyikan main gadget.
Opsi lainnya adalah memanfaatkan hari-hari akhir pekan atau weekend. Sabtu dan Minggu sangat cocok dijadikan hari untuk menggunakan handphone atau gadget bagi anak, terutama anak sekolah. Alasannya, weekend anak-anak sekolah sedang libur. Hampir semua sekolah saat ini sudah menerapkan sistem full day school atau hari sekolah Senin hingga Jumat. Sabtu dan Minggu diliburkan.
Menjadikan weekend sebagai hari handphone buat anak sudah diterapkan beberapa orang di Makassar. Nadhirah, salah seorang PNS di Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memberlakukan kebijakan ini bagi tiga anaknya: Ifa, Fahri, dan Rezki. Ifa duduk di bangku SMP kelas tiga, Fahri di SMP kelas dua, dan Rezki di Sekolah Dasar kelas lima.
Senin sampai Jumat, ketiga anaknya ini diharamkan menggunakan gadget. Ia mengaku selama bertahun-tahun menerapkan kebijakan ini, anak-anaknya menjadi senang dan terhindar dari dampak radiasi gadget.
Semula anak-anak Nadhirah protes dengan kebijakan ini. Mereka keberatan dengan pembatasan waktu penggunaan handphone itu. Alasannya macam-macam. Mulai dari susah berkomunikasi dengan temannya sampai kewalahan mencari referensi di internet jika ada tugas sekolah atau pekerjaan rumah.
Tetapi setelah diberi pemahaman soal dampak gadget, mereka paham dan mengerti. Untuk urusan komunikasi dengan temannya, Nadhirah menyiapkan telepon genggam biasa yang tidak punya fitur lain selain menelepon dan mengirim pesan. Begitu juga jika ingin berselancar di dunia maya untuk referensi tugas sekolah, sewaktu-waktu disiapkan laptop di rumah.
Selain Nadhirah, warga Makassar lainnya, Ardi juga menerapkan pola sama: weekend hari gadget bagi anak. Pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini membatasi kedua anaknya untuk menggunakan gadget. Selama hari sekolah, dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar itu sama sekali tidak dibolehkan menyentuh gadget. Mereka hanya bisa menggunakan gadget Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya saat tidak sekolah.
Bagi Nadhirah dan Ardi, tanpa pembatasan waktu penggunaan, anak-anak bisa terdampak bahaya dan dampak buruk gadget. Sebab sudah cukup banyak fakta anak-anak yang menjadi “korban teknologi” terutama dari gadget. Mulai dari gangguan penglihatan, sikap agresif berlebihan, serta gangguan fisik dan psikislainnya.
Tetapi weekend sebagai waktu gadget bagi anak juga tetap butuh pengawasan orang tua. Tidak benar juga kalau selama dua hari itu, Sabtu dan Minggu, anak menggunakan gadget sebebas-bebasnya. Orang tua harus tetap hadir. Mengontrol dan mengawasi aktivitas anak saat pegang gadget. Sebab tanpa pengawasan, anak-anak bisa kebablasan. (*)



×


Weekend, Hari Handphone untuk Anak

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar