SEBUAH lapak kayu berukuran satu meter panjang dengan lebar dua meter berdiri di Jalan Toddopuli Raya Timur. Lokasi itu menjadi tempat bagi Abdul Kadir mencari pundi rupiah. Sudah 18 tahun, pria akrab dipanggil Wawan berada di sini menjual jasanya sebagai tukang jahit atau tukang sol sepatu.
Laporan: ARIF AL QADRY
Siang kemarin, sekitar pukul 14:00 WITA, penulis melintas di jalur ini. Sebelum persimpangan, Wawan terlihat serius memperbaiki sepatu. Seorang bapak tua duduk di sebelah nampak serius menyaksikan Wawan bekerja.
Kedua tangan Wawan begitu terampil bekerja. Dari memasukkan jarum sol ke bagian dalam sepatu, lalu memasukkan benang ke pengait jarum sol dari dalam sepatu, menarik jarum keluar bersamaan dengan benangnya sampai semua bagian terjahit dan rapi.”Mari duduk di sini pak, apa yang bisa saya bantu?,” sambut Wawan kepada penulis.
Setelah penulis meminta izin melakukan wawancara, pria yang lahir di Takalar pada tahun 1942 itu pun bercerita. Sambil bekerja memperbaiki sepatu, dia berkisah bahwa jadi tukang jahit sepatu sudah dilakoninya sejak tahun 2.000. Satu tahun di Kabupaten Merauke, Papua, dan kemudian pulang ke Makassar buka jasa jahit sepatu hingga sampai saat ini.
Keterampilan menjahit sepatu dimiliki Wawan berawal hanya dari melihat tukang jahit sepatu di lokasi pasar yang berada di Merauke. Pada waktu itu, diakui masih lontang-lantung mencari pekerjaan di tanah rantau.
“Dulu saya ke Merauke merantau berharap bisa dapat pekerjaan. Tapi satu tahun berada di sana, saya tidak kunjung dapat pekerjaan. Sempat di sana saya menjadi gembel. Tidur di pinggir jalan. Beruntung saya cepat tangkap peluang ini menjadi tukang jahit sepatu,” ucapnya.
Sebagai perantau, tempat tinggal Wawan di Merauke tidak menetap. Terakhir dia tinggal sekitaran pantai tidak jauh dari pelabuhan. Dari sanalah ia mendapat banyak sepatu rusak terbuang. Ia mengambilnya dan membawanya ke tukang jahit sepatu untuk diperbaiki (jahit) atau hanya sekadar di lem. Ada sebanyak lima pasang sepatu rusak di bawanya ke tukang jahit itu.
“Waktu itu saya tidak punya uang untuk bayar jasa jahit. Jadi saya tawarkan kepada tukang jahit untuk ambil tiga sepatu saya, dan dua berikan kepada saya untuk saya jual. Tapi tetap tidak bisa. Sehingga saya cuma lihat dia saja bekerja sampai saya berpikir coba sendiri jahit sepatu,” katanya.
Sepulang dari situ, Wawan mencari terali besi pelek motor untuk diubah jadi jarum sol sepatu dan mencari benang bekas. Sepatu rusak yang didapatnya satu per satu dia jahit. Hanya satu hari dikerjakan, sapatu rusak berubah menjadi sepatu layak pakai. Hingga akhirnya ia menjual nya dan menjadikan sebagai modal beli benang dan lem.
“Dari situ saya kemudian bangun lapak dan buka juga tempat jahit sepatu. Ada satu tahun lamanya saya buka di Merauke. Kumpulkan uang beli tiket, saya langsung pulang ke Makassar dan buka lagi,” akunya. (*)

