Enam Hari Mengungsi di Kodim, Pinjam Uang Beli Tiket ke Makassar
GOWA, BKM — Bencana kemanusiaan yang terjadi Wamena, Papua 23 September 2019 lalu menjadi sejarah kelam dalam hidup Nurul Yaqin. Pekerja harian di Kantor Pos Wamena ini, terpaksa kembali ke Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan usai peristiwa berdarah itu.
Berbekal pinjaman dari seorang dermawan di Jayapura, Nurul Yaqin yang juga berprofesi sebagai dai ini memboyong istri, dua anaknya yang masih kecil serta seorang adiknya mengungsi ke Gowa. Dia pun mengaku trauma untuk kembali ke sana dalam waktu dekat.
Saat ini, Nurul Yaqin tinggal sementara di rumah keluarganya di Kompleks Griya Majannang Permai, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga. Ia tak terlalu merisaukan harta bendanya yang ada di Wamena. Yang terpenting adalah keluarganya bisa diselamatkan.
Sesaat setelah kerusuhan tercetus, Nur Yaqin memilih untuk pergi. Dia dan keluarganya hanya mengenakan pakaian di badan. Selama enam hari mereka menginap di markas Kodim 1702 Wamena.
Sebelumnya, Nurul Yaqin bersama istrinya Titin Irayani dan dua orang anaknya, Arsila Nahwa dan Dzaki Zafran Syabani, serta adiknya sempat bersembunyi di rumah seorang kepala suku bernama Lio Kusai di Jalan Honai Lama, Wamena.
“Delapan jam saya dan keluarga bersembunyi di rumah kepala suku Lio Kosai. Saya ditolong oleh beliau. Sampai akhirnya TNI dari Kodim 1702 datang menjemput semua warga pendatang. Termasuk saya dan keluarga untuk disatukan di Kodim 1702 sebagai pusat pengungsian para pendatang. Saya dan keluarga tidak bisa ke mana-mana. Saya dan semua warga pendatang dari berbagai daerah luar Papua berada di Kodim sambil menunggu pesawat TNI Hercules untuk membawa kami semua pulang ke Makassar,” kenang Nurul.
Nurul Yaqin lalu mengisahkan kerusuhan Wamena yang membuatnya trauma. Dibeberkannya, pagi itu Senin (23/9), arus lalulintas kendaraan di Jalan Timur Kota Wamena tampak normal. Cuaca pagi itu cerah berawan.
Nurul Yaqin tiba di kantor Pos Kota Wamena, tempatnya kerjanya sekitar pukul 08.00 Waktu Indonesia Timur (WIT). Aktivitas di kantor berjalan seperti biasanya. Tidak ada tanda-tanda akan terjadi peristiwa kerusuhan.
“Tidak pernah ada tanda-tanda sebelumnya. Hari Senin itu semua siswa sekolah tetap belajar. Tidak ada yang libur. Semuanya berlangsung seperti biasa,” kata Nurul Yaqin.
Hanya berselang sejam kemudian, kira-kira pukul 09.00 WIT, semua yang tampaknya biasa-biasa saja langsung berubah mencekam dan menakutkan. Saat itu dirinya masih tengah bersih-bersih dalam kantor.
“Selesai bersih-bersih di kantor, tiba-tiba ada orang teriak-teriak dari luar kantor. Katanya ada kerusuhan dan pembakaran. Saya kaget. Kan selama ini masyarakat sipil baik-baik saja. Kita tidak pernah mendengar apa-apa. Jadi kejadiannya betul-betul secara tiba-tiba,” ungkap Nurul Yaqin yang sudah lima tahun mencari nafkah di Wamena.
Nurul Yaqin melihat pembakaran, pengrusakan dan suara teriakan di pusat Kota Wamena. Gumpalan asap tebal hasil pembakaran terlihat membumbung tinggi ke angkasa.
Peristiwa yang membuat ribuan orang harus mengungsi tersebut merupakan kejadian pertama yang Nurul Yaqin alami semenjak berada Wamena sejak keberadaannya di rantau. Tanpa berpikir panjang, Nurul Yaqin langsung menuju rumah kontrakannya di Jalan Honai Lama, Wamena untuk menemui istri dan anak-anaknya.
“Istri saya menelepon, katanya ada kerusuhan. Kami kan punya dua anak kecil. Saya bergegas pulang. Setelah itu saya bawa istri dan anak-anak. Kami bersembunyi di dalam rumah tuan tanah yang juga kepala suku di situ. Beliau bernama Lio Kosai,” kata Nurul Yaqin.
Situasi sangat mencekam sore itu. Karenanya, Nurul Yaqin tak sempat menyelamatkan harta benda yang dimilikinya. Ia dan keluarga hanya menyelamatkan diri dengan pakaian melekat di badan kala itu.
Selama enam hari di Makodim 1702 Wamena bersama ribuan pengungsi lainnya, Nurul Yaqin merasakan hidup dalam ketakutan. Secara giliran para pengungsi diterbangkan ke Jayapura menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara (AU).
“Untuk bisa diberangkatkan menggunakan Hercules, kami harus menunggu. Karena orang berdesak-desakan untuk naik. Jadi harus menunggu giliran. Satu minggu saya berada di Kodim. Setelah itu saya ke rumah keluarga di Jayapura,” tuturnya.
Setelah dua hari mengungsi di rumah keluarga di Jayapura dan melihat kondisi Wamena yang masih mencekam, Nurul Yaqin akhirnya memutuskan untuk membawa keluarganya kembali ke Gowa. Berkat pinjaman uang, ia akhirnya menggunakan pesawat komersil untuk membawa keluarganya kembali ke Kabupaten Gowa.
“Dari Jayapura ada dermawan membantu saya. Saya pinjam uangnya untuk beli tiket. Yang penting bisa kembali dulu ke Makassar lalu ke Gowa,” ungkapnya.
Dijelaskan Nurul Yaqin, keberadaannya di Wamena sejak 2015 silam, karena ia ditugaskan dai pedalaman dari Pondok Pesantren Darul Ulum, Banyuanyar, Jawa Timur. Selama melaksanakan tugas syir Islam di Tanah Papua, Nurul Yaqin mengakui bahwa tidak ada kendala berat yang dihadapinya.
Bermodalkan ilmu agama dari mondok di Ponpes Darul Ulum Banyuanyar, Nurul Yaqin terus menyampaikan dakwah dari masjid ke masjid. Memanfaatkan waktu luangnya, selain sebagai pegawai di kantor Pos, ia juga mengajar mengaji anak-anak penduduk muslim di Wamena. Selama perjalanan dakwahnya, Nurul Yaqin sudah mengislamkan beberapa warga non muslim di sana.
“Selama di sana saya juga mengajar anak-anak mengaji. Artinya, selama ini saya bersama masyarakat Papua itu baik-baik saja. Orang Papua itu semuanya baik-baik. Orang Papua semuanya ramah-ramah. Tapi ini adalah musibah bagi kita semua. Kita harus bersabar,” ucapnya.
Lalu kapan rencananya kembali ke Wamena? Nurul Yaqin mengaku berpikir tiga kali. Menurutnya, peristiwa kerusuhan, pengrusakan, pembakaran dan teriakan yang terjadi di depan mata masih membekas di memorinya. Rasa trauma yang ia alami bersama keluarga membuatnya harus berpikir untuk kembali ke Wamena.
“Kita lihat kondisi dulu. Saya sendiri masih trauma melihat kejadian itu. Wallahua’lam, kita tidak tahu ke depannya bagaimana. Kalau misalnya ada yang lebih baik, untuk sementara saya di Gowa dulu. Saya bertahan di sini dulu, siapa tahu nanti ada jalan yang lebih baik,” harapnya.
Selama kebaradaannya di Kabupaten Gowa, Nurul Yaqin memenuhi kebutuhan makan dan minumnya dari bantuan dermawan di Pallangga. Rumah yang ditinggalinya saat ini merupakan kediaman keluarga sang istri.
Pascakerusuhan Wamena, tercatat ada 15 warga Gowa yang tercatat dalam daftar pengungsi. Mereka dipulangkan melalui jalur laut laut dengan menggunakan KM Gunung Dempo, Jumat (4/10).
Pemulangan ke Makassar ini difasilitasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel. Bagian Komunikasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel Mustafa Mathar, mengatakan ada 15 warga Wamena asal Gowa di antara ratusan pengungsi lainnya dari berbagai wilayah Sulsel dan Indonesia.
Sebanyak 15 warga yang selama ini menetap di Wamena dan telah tiba di Gowa, yakni Rizal (26), Sultan (20), Daeng Sarrah (45), Daeng Ramma (40), Kamaruddin (20), Daeng Sallang (40), Huttang (23), Muh Nasir (40), Noro (40), Syamsul Bahri (42), Saldi (3), Khaeruddin (45), Risal (40), Muh Nasir (40), dan Naru (40).
Dalam daftar, mereka berasal dari Desa Bilibili.
Hanya saja, Irwan Hana selaku kepala Desa Bilibili, Kecamatan Bontomarannu, membantah jika 15 pengungsi Wamena tersebut adalah warganya.
”Kalau dikatakan berasal dari Desa Bilibili, sepertinya bukan. Tidak pernah ada laporan tentang warga Bilibili yang merantau ke Wamena. Mungkin mereka dari Kecamatan Manuju atau Parangloe. Yang jelas tidak ada satupun warga saya seperti yang ada dalam daftar tersebut,” jelas Irwan Hana, Sabtu sore (5/10).
Hal tersebut dibenarkan Camat Bontomarannu Muh Sabir Bangsawan. Ia menegaskan, pengungsi yang menyebut dirinya dalam daftar itu, tak satupun warga Desa Bilibili.
“Saya sudah minta konfirmasi dari Pak Kades Bilibili. Ternyata mereka yang terdaftar itu bukan warga Bilibili. Mungkin saja mereka warga kecamatan lain, tapi menyebutkan dirinya berasal dari Bilibili supaya memudahkan pendataan,” terang Muh Sabir. (sar/rus)

