MENJALANI keseharian sebagai penjual cermin ternyata banyak suka dan dukanya. Dengan berbekal gerobak, Anto memasuki lorong-lorong di dalam Kota Makassar. Tak terasa sudah 15 tahun ia melakoni profesi itu.
Laporan: ARIF AL QADRY
Pengalaman pahit yang sempat dirasakan pria berusia 47 tahun itu saat tidak ada cermin laku terjual. Padahal dirinya sudah menyusuri lorong-lorong, kompleks atau perumahaan hingga mangkal di tepi jalan.
“Usia sudah tidak lagi muda. Pilih-pilih pekerjaan sudah tidak bisa lagi. Terpaksa harus bertahan demi memenuhi kebutuhan keluarga di kampung. Kan masih ada juga satu anak saya sekarang ini sudah di SMP. Jadi perlu biaya,” katanya.
Cermin yang dijual milik seseorang bosnya, hanya berbagai hasil saja. Tidak ada gaji tetap atau bonus dari bosnya tersebut. Pria kelahiran Brebes, 5 Juli 1972 baru merasakan dan mendapatkan upah ketika ada cermin yang laku terjual.
Setiap hari pukul 07:00 WITA sampai pukul 18:00 WITA, dia bekerja. Setiap hari ia berkeliling di kompleks, perumahan, hingga lorong-lorong menawarkan barang dagangannya. Dan kadang jarak berkilo-kilo meter tak terasa ditempuhnya hanya dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak berisi cermin.
Harga cermin yang dijual terbilang terjangkau, mulai dari harga Rp75 ribu sampai Rp200 ribu. Untuk ukuran panjang 117 cm lebar 43 cm seharga Rp200 ribu. Ukuran panjang 86 cm dengan lebar 40 cm seharga Rp150 ribu, dan untuk ukuran panjang 50 cm dengan lebar 30 cm seharga Rp75 ribu.
“Tidak ada gaji cuma bagi hasil saja. Kalau ada cermin yang laku, dapat persenan. Lumayan persenannya juga dalam satu cermin kalau laku. Apalagikan rumah tempat tinggal disediakan oleh bos,” ungkapnya.
Dia mengatakan, uang yang didapat dari jualan cermin sebagian besarnya ditabung dan dikirimian ke keluarga yang ada di Brebes. Sementara sisanya digunakan tuk makan sehari-hari di kota perantauannya.
“Tempat tinggal sudah ditanggung bos, cuma makan saja yang sendiri-sendiri. Setiap bulan uang yang saya dapat saya kirim ke kampung. Saya mau anak-anak saya dapat selesai sekolah dan menjadi orang sukses lebih dari saya,” tutupnya.
Di kota ini Anto bersama teman-temannya tinggal di Jalan Batua Raya 3, Lorong 1. Rumah kontrakan itu disediakan oleh bos pemilik modal cerimin yang dijual. (*)

