TERNYATA bisnis perabot rumah tangga yang terbuat dari rotan maupun bambu masih cukup menjanjikan. Sebab, menjadi kebutuhan yang banyak dicari oleh masyarakat khususnya di Kota Makassar.
Laporan: RAHMA AMRI
Jika cukup cerdas membaca peluang pasar, maka produk yang dihasilkan akan tetap mendapat tempat di hati konsumsen. Seperti yang dilakoni Aleks Lapaksa.
Di tengah gempuran berbagai produk perabotan rumah tangga dari bahan plastik, kayu, besi hingga sintetis, lelaki ini konsisten memproduksi furniture berbahan dasar rotan.
Di tempat produksi yang juga rumahnya di bilangan Jalan Rappocini, dibantu dua pekerja dan cucunya, Aleks menyulap rotan-rotan menjadi kursi, meja, ayunan bayi, lemari dan lainnya.
Aleks merupakan salah satu perajin rotan yang masih eksis hingga kini. Semua bermula dari hobinya menganyam.
Jadi, tujuannya menggeluti profesi ini tidak hanya semata demi memenuhi kebutuhan keluarganya melainkan demi mempertahankan Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia serta menyalurkan hobi menganyam.
Kata Aleks Lapaksa, profesi yang digelutinya sejak 1985 hingga saat ini sangat bermanfaat selain dapat membantu perekonomian keluarganya juga mampu menyalurkan bakat kepada keempat buah hatinya.
“Saya bersyukur karena saya sudah salurkan bakat kepada seluruh anak saya sehingga mereka tidak lagi mencari pekerjaan di luar sana,” ungkapnya.
Menurut Aleks, butuh kreatifitas untuk menciptakan produk agar bisa mendapat tempat di hati masyarakat.
Untuk produk kursi misalnya, harus yang unik dan kalau bisa tidak sama yang sudah ada di pasaran.
Awalnya, usaha ini dirintis dengan modal Rp1 jutaan. Namun, tidak banyak produk yang bisa dihasilkan dengan modal sebesar itu. Beruntung ada program CSR untuk modal bantuan UMKM dari salah satu perusahaan otomotif sebesar Rp5 juta, usahanya bisa dikembangkan.
Saat ini, Aleks tidak hanya membuat produk furniture untuk wilayah Makassar dan sekitarnya, namun sudah meluas hingga ke Papua.
Pesanan juga bukan sebatas skala rumah tangga melainkan juga kafe-kafe yang mengusung tema unik. (*)

