MAKASSAR,BKM — Peristiwa pembunuhan seorang mahasiswa Universitas Muslim, Andi Fredi Akirmas mendapat atensi khusus pihak kepolisian. Terkait kematian Mahasiswa Fakultas Hukum itu, petugas tengah memburu para tersangkanya.
Saat ini, menurut Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Indratmoko, penyidik memeriksa 15 orang saksi. Pengejaran terduga pelaku dilakukan berdasarkan bukti rekaman kamera pengintai (CCTV). ”Kasusnya masih dalam proses lidik,” ujarnya, kemarin.
Dari informasi yang diterima kasat reskrim, disebutkan bahwa penyerangan diduga dilakukan orang tak dikenal (OTK). Pemicunya adalah peristiwa bentrokan yang terjadi sebelumnya pada tanggal 28 Oktober 2019 lalu.
“Ada indikasi bahwa penyerangan dilakukan oleh OTK dari bentrok sebelumnya, yang melibatkan kedua kelompok pada tanggal 28 Oktober lalu. Tapi kami masih dalami motifnya. Yang pertama kami lebih dulu melakukan pengamanan,” tandasnya.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Yudhiawan Wibisono, menyebut ada 10 orang terduga pelaku yang sudah diamankan untuk dimintai keterangannya. Hanya saja, penyidik belum menetapkannya sebagai tersangka.
“10 orang diamankan itu masih menjalani pemeriksaan maraton dan belum ditetapkan statusnya sebagai tersangka. Motifnya belum juga diketahui. Masih ada 10 orang lagi yang dalam pengejaran, untuk mengetahui siapa eksekutor penyerangan,” tegas Kombes Yudhiawan.
Penyerangan yang berujung kematian Fredi berlangsung, Selasa (12/11) pukul 16.30 Wita. Beberapa orang mahasiswa yang bernaung di bawah wadah Organda (Organisasi Daerah) Lamellong tengah duduk-duduk di Bos Cafe. Tepatnya di samping Fakultas Hukum UMI Jalan Urip Sumoharjo. Korban ditemani tujuh orang rekannya.
Tak lama kemudian, tetiba kurang lebih 20 orang dengan menggunakan penutup wajah datang. Mereka menenteng senjata tajam berupa parang, badik, serta besi pipa. Penyerangan membabi buta kelompok ini membuat kocar-kacir delapan orang yang ada di dalam cafe. Mereka berusaha menyelamatkan diri.
Namun, salah satu dari mereka bernasib nahas. Andi Fredi menjadi sasaran pengeroyokan. Dia pun jatuh terkapar setelah mendapat luka tebas sajam.
Sesaat setelah kejadian, aparat Polsek Panakkukang yang dipimpin Kepala SPK Aiptu Sultan yang dibackup Polrestabes Makassar dan Polda Sulsel tiba di lokasi. Mereka langsung melakukan sterilisasi lokasi. Selanjutnya mengevakuasi korban ke Rumah Sakit Ibnu Sina. Sejumlah personel lainnya melakukan penyisiran.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Pukul 18.00 Wita, korban Andi Fredi mengembuskan napas terakhirnya. Dokter menyatakan ia meninggal dunia akibat luka sabetan senjata tajam di punggung sebelah kanan. Ada pula luka lecet pada lutut dan kaki kiri.
Pihak Rumah Sakit Ibnu Sina kemudian menyerahkan jenazah korban ke pihak keluarganya bernama Ashar. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di Dusun Luppureng, Desa Biccoing, Kecamatan Tonra, Kabupaten Bone untuk kemudian korban dimakamkan di kampung halamannya itu.
Sikap Rektor UMI
Rektor UMI Makassar Prof Basri Modding, sangat menyayangkan insiden berdarah yang menyebabkan satu orang mahasiswa meninggal dunia. Apalagi kejadian tersebut berlangsung di dalam kampus. Jika pelakunya adalah mahasiswa UMI, Basri berjanji memberi sanksi dan tindakan tegas.
Untuk proses hukumnya, rektor menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Khususnya mengungkap dalang serta otak pelakunya.
”Kita masih terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mencari pelakunya. Kita tidak bisa tinggal diam, karena kejadiannya berlangsung di dalam kampus. Korbannya juga mahasiswa kami. Bahkan meninggal dunia. Kita di internal rektorat maupun kepolisian, akan mencari sampai dapat pelakunya,” tegas Basri, kemarin.
Selaku pimpinan di UMI, Basri menegaskan bahwa dirinya tidak akan segan-segan memecat secara tidak terhormat mahasiswa yang terbukti terlibat. Karenanya, pihak UMI telah membentuk tim pencari fakta guna membantu pihak kepolisian untuk menemukan eksekutor pembunuhan. (ish-ita/rus)

