INGIN sukses dalam usaha? Harus jeli melihat peluang pasar. Prinsip itu yang coba diterapkan Denny, owner atau pemilik usaha kuliner Meed Food Container yang berlokasi di Bukit Baruga, Antang.
Laporan: RAHMA AMRI
Lelaki plontos ini tiga bulan terakhir fokus menekuni usaha kuliner masakan masakan korea. Tepatnya Korean Barbeque yakni Yakiniku.
Makanan ini memang asalnya dari Korea. Tapi lebih populer di Jepang sehingga banyak yang menganggap jika jenis makanan tersebut asalnya dari negeri matahari terbit tersebut.
Apalagi Yakiniku adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang. Merupakan daging yang dipanggang atau dibakar di atas api. Dalam arti luas, yakiniku juga mencakup berbagai masakan daging hingga jeroan yang dipanggang, seperti bistik, panggang daging domba (jingisukan), dan barbeque.
Soal promosi produk makanan ini, cukup unik. Lelaki yang akrab disapa Edo ini manfaatkan media sosial untuk memperkenalkan usahanya. Promosi itu dinilai cukup efisien dan efektif. Dia tidak perlu mengeluarkan biaya promosi yang besar. Cukup modal kuota saja. Selain itu, tak perlu lokasi yang besar untuk menjalankan usaha tersebut. Pasalnya, Edo menggunakan sistem jemput bola. Maksudnya, dia menawarkan ke konsumen yang ingin menggelar acara barbeque di rumah/kantor atau di suatu lokasi tertentu, berupa bahan makanan dan peralatannya.
“Jadi kami menyiapkan bahan seperti beragam jenis daging, peralatan masak hingga tempat bakar-bakarnya. Kami akan mengantarkan ke lokasi yang dimaksud pengorder. Nanti setelah acaranya selesai, kami ke sana lagi ambil peralatan yang sudah digunakan,” kata Edo.
Namun, jelas lelaki yang sudah melepas masa lajang itu, pihaknya juga tetap menyiapkan tenaga untuk melayani konsumen yang ingin dibuatkan yakiniku atau barbeque-nya.
“Jadi tergantung konsumennya. Kan ada yang ingin lebih terkesan hommy, mereka ingin membuat Yakiniku sendiri. Namun ada juga yang meminta untuk dilayani pembuatannya,” ungkap Edo.
Dia mengaku, dibanding restoran barbeque yang ada di Makassar, harga yang ditawarkan cukup ramah. Tidak sampai merogoh kantong terlalu dalam.
“Yah bisalah dijangkau untuk berbagai kalangan. Termasuk skala mahasiswa yang ingin bikin acara barbeque dengan teman-temannya. Bisa juga untuk arisan, dan lainnya,” tambah Edo.
Untuk menjalankan usaha ini, lanjut dia, modalmya tidak terlalu banyak. Namun dia enggan untuk membeberkan modal awal dalam merintis usaha tersebut.
Diapun tidak sekaligus membeli peralatan masak dan peralatan makannya.
“Saya beli bertahap. Awalnya dua set, kemudian tiga, dan seterusnya hingga saat ini saya sudah punya sekitar 25 set alat bakar dan makan,” tambahnya. (*)

