pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

45 Anak Terlahir Kebutaan di Sulsel

MAKASSAR, BKM–Kebutaan akibat Retinopati Prematuritas atau Retinopathy of Prematurity (ROP) kini menjadi perhatian di Kota Makassar. Data di RSUP Wahiddin Sudirohusodo dan RSPTN Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa sejak 2013 hingga 2019, terdapat 682 bayi prematur yang diskrining dan 45 di antaranya mengalami ROP.
Olehnya, Helen Keller International bersama dengan (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia) PERDAMI Sulawesi Selatan, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sulawesi Selatan dan Rumah Sakit Perguruan Tinggi Negeri (RSPTN) Universitas Hasanudin meluncurkan prakarsa baru skrining untuk pencegahan kebutaan akibat ROP ini.
Prakarsa ini menerima pendanaan penuh dari program Seeing Is Believing, Standard Chartered Bank. Dilakukan penandatangan MoU di Gedung Ipteks Unhas, Kamis (19/12).
Kelompok Kerja (POKJA) Nasional untuk ROP dan Bayi Prematur menyebutkan dalam lokakarya tahun 2010, data anggota POKJA menunjukkan 32 dari 613 bayi prematur yang diskrining di 21 fasilitas kesehatan di Indonesia mengalami ROP.
Pada 2012, peneliti Departemen llmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melakukan analisis prevalensi ROP di RS Cipto Mangunkusumo. Berdasar data kelahiran hidup bayi prematur antara tahun 2005 hingga 2010 menemukan bahwa 32 dari 269 bayi atau 11,9 persen, terdiagnosa ROP.
Di Makassar, data di RSUP Wahiddin Sudirohusodo dan RSPTN Universitas Hasanuddin menunjukkan bahwa sejak 2013 hingga 2019, terdapat 682 bayi prematur yang diskrining dan 45 di antaranya mengalami ROP. Dari total bayi yang mengalami ROP, 9 bayi memperoleh perawatan laser dan injeksi, dan 4 bayi kehilangan penglihatan karena terlambat skrining.
Protokol nasional untuk skrining dan terapi ROP kini sudah tersedia. Di Makassar, prakarsa untuk melakukan skrining ROP di rumah sakit tempat bayi dirawat dijalankan oleh kolaborasi antara RSPTN Universitas Hasanuddin, PERDAMI Sulawesi Selatan, dengan IDAI Sulawesi Selatan.
Country Head of Corporate Affairs Standard Chartered Bank Indonesia, Diana Mudadalam mengatakan mencegah kebutaan di Indonesia merupakan fokus utama program Seeing is Believing dari Standard Chartered Bank.
“Kami senantiasa berkolaborasi bersama pemerintah dan mitra terkait lainnya untuk menjalankan berbagai inisiatif antara lain melalui pemberian akses pemeriksaan mata yang terjangkau bagi masyarakat,” kata Diana.
Ketua PERDAMI Sulawesi Selatan, Dr Habibah S. Muhiddin menyampaikan bahwa melihat kondisi dan data yang ada di Makassar, pihaknya perlu memunculkan inovasi untuk melakukan skrining di rumah sakit tempat bayi prematur dirawat. Bahkan bila perlu, terapi juga dilakukan di RS tempat bayi dirawat.
“Upaya ini bertujuan agar penglihatan bayi-bayi prematur ini dapat terselamatkan sehingga kualitas hidup mereka lebih baik. Di sisi lain, ini merupakan upaya untuk melengkapi sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sampai masing-masing rumah sakit mampu menjalankan mekanisme pencegahan kebutaan akibat ROP,” ungkapnya.
Dengan diluncurkannya Prakarsa ini, penanganan kasus ROP diharapkan lebih baik. Sehingga terwujud upaya deteksi dini dan penanganan ROP yang tepat pada bayi prematur.
Gangguan penglihatan karena ROP dapat terjadi mulai tahap ringan sampai berat, yang dapat mengakibatkan ablasi retina dan kebutaan permanen pada anak-anak. (nug)



×


45 Anak Terlahir Kebutaan di Sulsel

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar