DI USIANYA yang sudah renta, kakek Daeng Runru, (62) tahun tetap tegar menjalani sisa hidupnya. Setiap hari di Jalan Poros Bulurokeng, ia menjajakan jualannya berupa bunga tabur. Meski usahanya itu kadang sepi, ia tidak memperlihatkan kekecewaan.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Memang diakui, tabur bunga ke makam merupakan salah satu budaya masyarakat Indonesia yang sering dilakukan setiap hendak menziarahi kuburan keluarganya. Apalagi di saat-saat menjelang ramadan atau sehabis lebaran Idul Fitri.
Hal ini memberi peluang usaha penjualan bunga, seperti Kakek Daeng Runru. Daeng Runru telah menekuni profesi tersebut selama puluhan tahun. Dengan berjualan bunga, Daeng Runru dapat membantu penghasilan keluarganya.
Tuntutan ekonomi terhadap berbagai kebutuhan membuat Daeng Runru harus banting tulang bekerja berjualan bunga.
Tempat jualannya berdekatan dengan pemakanan Bonelenga dan pekuburan keluarga H Kalla ini.
Warga yang seringkali melintas di jalan tersebut mengakui ketegaran dari kakek Daeng Runru. Perjuangan hidupnya tak pantang menyerah meskipun di tengah terik panas matahari. Bahkan hujan sekalipun, ia masih terus berjualan untuk menghidupi kebutuhannya sehari-hari dan kelima cucunya.
“Iye lamami, kalau dulu jualan daun pisang di Pasar Daya sana. Biasanya kujual 10 ikat adami ku dapat Rp20 ribu kadang-kadang Rp40 ribu. Itu untuk pembeli sayur sama ikan. Kalau anakku ada tiga orang tapi lamppa ngaseng mi (pergi semua), cucuku ji biasa kesini bantu ka,” ungkapnya kepada penulis kemarin.
Bunga-bunga yang diperoleh Daeng Runru untuk dijual juga tidak mudah didapatkan. Ia bahkan harus mengeluarkan uang untuk membeli bunga dan daun pandan dari orang. Modal berjualan bunga besarannya sampai Rp200 ribu. Bunga-bungan tersebut ia potong lalu dibagi menjadi beberapa kantong untuk dijualnya. Dalam ukuran plastik berukuran kecil dijajakan Rp5.000, ada pula dalam ukuran kerangjang mangkok dijual Rp10.000, ditambah air dalam botol Rp3.000.
“Macam-macam ini ada harga Rp5 ribu ini ada juga Rp10 ribu. Punna ni tawari rua disareangi seng yang penting nia erang mottere (pulang). Itu yang kudapatkah sikedde ji (sedikit) kadang Rp20 ribu kadang tong ada yang sareki Rp50 ribu sukkurumi,” bebernya.
Diusianya yang kini setangah baya Kakek Daeng Punna tidak membebani anaknya untuk menghidupinya.”Biasanya jam 10.00 disini ma, tidak mau ja juga minta-minta di anakku kalau ada alhamdulliah kalau tidak ada, tidak apa-apa juga,” ucapnya.(*)

