pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Sedih kalau Anak Bertanya Kapanki Pulang, Bu

Kisah Garda Terdepan Perawat Pasien Covid-19

KISAH sedih berbalut haru selalu saja datang dari garda terdepan petugas medis yang merawat pasien terpapar covid-19. Mereka rela terpisah dari sanak keluarga demi kesembuhan orang lain.

NAMANYA Syarifa Waliani. Ia bertugas di Rumah Sakit Batara Siang (RSBS) Pangkep. Diberi amanah selaku penanggung jawab ruang isolasi di Ruang Asoka.
Awal bertugas menangani pasien dalam pengawasan (PDP), Syarifa sempat diliputi kecemasan. Karena kala itu ia hanya menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa jas hujan. APD standar masih sangat kurang.
Kekhawatiran yang lebih besar ketika dirinya ditugaskan merawat pasien dengan status positif terpapar covid-19. Ia bersama rekannya sesama petugas medis bahkan diminta untuk menjalani karantina di Hotel Mattampa Inn, Bungoro. Jaraknya sekitar 4 km dari RSBS.
Diakui Syarifa, dirinya menjalani proses karantina sejak 2 April hingga 6 Mei 2020. Dia pun harus terpisah untuk sementara dengan suami serta tiga buah hatinya selama sebulan lebih.
”Saya dan teman-teman terkadang menangis saat pulang dari tempat kerja ke lokasi karantina. Kami hanya bisa berbicara dengan keluarga lewat telepon dan bertemu melalui video call,” tuturnya kepada BKM yang mewawancarainya lewat gawai, Selasa (6/5).
Terkadang, sebagai seorang perempuan dan seorang ibu, Syarifa tak bisa membendung air matanya ketika ketiga anaknya bergantian menelepon. ”Mereka selalu bertanya, kapanki pulang, Bu? Berapa lamaki di sana? Apalagi si bungsu, sudah sangat rindu ingin bertemu,” ujar Syarifa dengan nada sedih.
Syarifa pertama kali ditugaskan sebagai penanggung jawab ruang isolasi pada tanggal 23 Maret 2020. Karena saat itu sudah ada pasien pertama masuk, yang berasal dari Kecamatan Ma’rang. Disusul kemudian pasien berstatus PDP dari klaster Ijtima Gowa.
“Saya dan beberapa rekan paramedis pertama kali dipanggil oleh Pak Direktur Utama RSBS. Kami diberitahu bahwa tugas anda akan bertambah karena menangani pasien dalam pengawasan (PDP), yang sewaktu-waktu bisa berubah status menjadi positif covid-19,” terangnya.
Rasanya ketika itu bak disambar petir bercampur kaget, karena tiba-tiba dipanggil dan diamanahkan untuk menangani pasien yang bisa mengancam jiwanya sebagai perawat. Apalagi berhadapan langsung dengan pasien terinfeksi virus corona.
Memang, kata perempuan kelahiran 1983 ini, sudah dari awal tugas sebagai perawat di ruang Asoka yang khusus menangani pasien dengan kasus infeksi. Tetapi tidak ada embel-embel corona pada status penyakitnya. Namun, ketika mendapat tugas dari pimpinan, dirinya tidak mungkin menolak karena ini tanggung jawab.
“Ketika menerima penugasan ini dari manajemen rumah sakit, saya kemudian meminta izin ke suami dan menyampaikan kepada ketiga anak saya. Apalagi saya punya anak bungsu yang masih berusia 3 tahun,” ucapnya.
Beruntung, sang suami memberikan dukungan penuh dalam penugasan istrinya. ”Pandemi ini menjadi pembelajaran berharga bagi masyarakat dan saya pribadi sebagai perawat,” tambahnya.
Duka ketika menjalani tugas ini, menurut Syarifa, karena berhadapan dengan pasien yang sudah terjangkit virus yang sangat mematikan. Bukan hanya pasien yang bisa terancam nyawanya, tapi juga petugas medis juga sangat berpotensi mengalami hal serupa.
Apalagi intens diberitakan adanya beberapa perawat dan dokter yang mengembuskan napas terakhir akibat terpapar covid-19. ”Rasa takut dan khawatir terkadang ikut menjadi beban psikologi bagi kami yang bertugas di ruang isolasi,” imbuhnya.
Walau begitu, ada pelajaran berharga yang didapat Syarifa dan rekannya selama merawat pasien covid-19. ”Merawat pasien covid-19 memberikan dorongan semangat dan kekuatan kepada kami, bahwa kalau berhasil menyembuhkan mereka, berarti satu keberhasilan menjalankan tugas,” terangnya.
Hal itu pun dirasakan Syarifa dan petugas medis RSBS lainnya ketika seorang nenek bernama Besse, berhasil sembuh dari covid-19.
Diakui Syarifa, selama bertugas di ruang isolasi dan menjalani karantina, perhatian manajemen RS sangat baik. Semua kebutuhan tenaga medis dipenuhi. Seperti tempat istirahat, jaminan gizi, nutrisi dan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Meski begitu, Syarifa dan rekannya yang bertugas di ruang isolasi masih menyimpan harapan kepada pemerintah. ”Semoga pemerintah lebih memberikan perhatian kepada kami. Khususnya pengadaan alat pelindung diri yang standar. Hal ini penting, karena kami tidak hanya mau menyelamatkan pasien. Tapi kami juga butuh keselamatan diri,” kata Syarifa. (udi/b)



×


Sedih kalau Anak Bertanya Kapanki Pulang, Bu

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar