MAKASSAR, BKM–Pemerintah saat ini berusaha menstabilkan ekonomi yang menurun akibat dampak pandemi covid-19.
Bahkan kata Indra Dermawan, staf ahli bidang Ekonomi Makro, tahun Lalu tepatnya di tahun 2020 dunia seakan-akan ditutup dari harapan untuk lebih maju. Namun di tahun ini harapan itu mulai bangkit lagi karena tahun ini adalah tahun pemulihan dari resesi.”Resesi terjadi kalau dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonominya negatif. Krisis ekonomi karena dampak masyarakat yang hanya berdiam diri di rumah tanpa berkegiatan.Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diharapkan selalu rata-rata positif 5 persen dianggap sebuah kewajaran. Namun, begitu ada penurunan di bawah 5 persen, 1 hingga 2 kuarter dimana di Q1 sudah di bawah 5 persen, dan di Q2 (-5,3 persen),”jelasnya.
Termasuk di kuarter ketiga (Q3) ekspektasi pertumbuhan antara (-2,9 persen) hingga (-1 persen), artinya waktu perlambatan ekonomi sudah berkepanjangan, dan itu bisa disebut resesi.
Ia bahkan mengatakan sepanjang tahun ini Indonesia sebenarnya telah mengalami resesi
Dan dilihat dari ekonomi setiap daerah rata mengalami krisis ekonomi. Hanya ada dua wilayah yakni Sulawesi tengah dan Maluku Utara yang masih stabil sepertidiketahui dua daerah tersebut adalah penghasil sumber daya alam yakni nikel Karena kedepannya permintaan mobil listrik akan naik meskipun di masa pandemi. Setelah itu, wilayah Sulawesi Selatan pertumbuhan ekonominya 2,8 persen.”Tahun ini APBN akan difokuskan untuk pemulihan ekonomi. Angka defisit yang terus naik disebabkan oleh meningkatnya jumlah pembelanjaan negara akibat penanganan covid-19 dan diperkirakan pada 2021 Indonesia masih akan fokus dalam penanganan covid-19. Oleh karena itu, disepakati bahwa defisit APBN 2021 menjadi 5,7 persen,”tutupnya saat diskusi di simposium ekonomi nasional.(pkl)
Pemerintah Stabilkan Ekonomi dari Dampak Covid
×

