pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pemprov Harusnya Malu

Dua Korban Tewas di Galian Stadion Mattoanging Bertetangga dan Satu Sekolah

MAKASSAR, BKM — Peristiwa yang tidak diinginkan dari bengkalai pembongkaran Stadion Mattoanging, Makassar akhirnya terjadi. Dua anak yang masih duduk di bangku SMP terenggut nyawanya di lokasi tersebut.
Kejadiannya berlangsung, Minggu (23/5) pukul 10.00 Wita. Tujuh orang anak-anak datang ke tempat ini untuk mandi-mandi dan bermain di kubangan bekas galian yang memiliki kedalaman sekitar dua meter itu.
Sekitar pukul  10.00 Wita ,  Minggu (23/5) tujuh orang anak-anak datang mandi-mandi dan bermain di kubangan bekas galian pembongkaran stadion yang berlokasi di Jalan Cendrawasih itu. Kedalamannya diperkirakan dua meter.
Tak lama setelah sampai di lokasi, mereka langsung masuk ke dalam air. Tiba-tiba saja, satu dari mereka yang belakangan diketahui bernama Faiz berteriak minta tolong sambil melambaikan tangannya. Seorang rekannya bernama Fajri berusaha memberikan pertolongan. Namun ia juga ikut tenggelam.

Data yang diperoleh BKM, korban bernama lengkap Ahmad Yusuf Ilham Fajri (15). Ia duduk di bangku kelas IX SMP Negeri 1 Makassar. Fajri tinggal menunggu pengumuman kelulusannya, setelah sebelumnya mengikuti ujian. Satu korban lainnya adalah Muh Nurfaiz (14), juga berasal dari sekolah yang sama. Ia masih duduk di bangku kelas IIX. Rumah orangtua keduanya tinggal berdekatan di Jalan Kakatua II.
Seorang saksi mata bernama Ahmad yang ditemui di TKP, mengatakan sejak pekerjaan proyek Stadion Mattoanging dihentikan, setiap sore banyak anak-anak yang selalu datang ke lokasi ini untuk mandi-mandi sambil bermain. Walau sudah dilarang, mereka tetap datang. Apalagi tidak ada pengawasan di tempat ini, khususnya pada kubangan air yang ukurannya cukup luas dan dalam.
Peristiwa yang dialami dua siswa SMP tersebut, diketahui Ahmad setelah ada yang menyampaikan kalau temannya tenggelam dalam kubangan. Bersama beberapa orang yang ada di sekitar lokasi, Ahmad lalu datang ke TKP. Selanjutnya melaporkan kejadian tersebut ke polisi. ”Kita khawatir untuk turun ke dalam air, karena kubangan tersebut diketahui berlumpur di bagian bawahnya,” ujarnya.
Tak lama berselang aparat Polsek Mariso dan Polrestabes Makassar beserta tim SAR tiba. Upaya pencarian langsung dilakukan. Kedua korban ditemukan dengan kondisi tak bernyawa. Jasadnya telah terapung di atas air. Petugas kemudian mengevakuasinya ke pinggir kubangan. Pihak keluarga meminta agar keduanya langsung dibawa pulang ke rumahnya masing-masing.
BKM datang ke rumah duka, kemarin. Menurut keterangan dari pihak keluarga, kedua korban sudah sering dilarang untuk pergi mandi-mandi di bekas bongkaran stadion. Namun tetap saja mereka pergi bermain di tempat tersebut. Usai salat Ashar, jenazah keduanya dimakamkan.
Selain kedua korban meninggal dunia, satu korban lainnya bernama Reka (13) masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara, Makassar. Sementara empat orang temannya selamat.
Kapolsek Mariso AKP Anita Taherong, mengatakan sudah ada larangan bagi warga, terutama anak-anak untuk mandi-mandi di lokasi tersebut. ”Sebagian sudah dipasangi kawat duri, karena bekas galian cukup dalam. Kurang lebih dua meter,” ujarnya, kemarin.
Dua pimpinan DPRD Sulsel angkat bicara terkait peristiwa yang menelan korban jiwa tersebut. Mereka mendesak agar
bekas galian yang membahayakan itu segera ditutup guna menghindari timbulnya korban jiwa selanjutnya.
”Sebagai langkah antisipasi, bekas galian tersebut harus segera ditimbun dan ditutup,” ujar Wakil Ketua DPRD Sulsel Syaharuddin Alrif, kemarin.

Wakil Ketua DPRD Sulsel dari Partai Demokrta Ni’matullah Erbe juga berharap demikian. “Saya sangat menyayangkan kejadian itu dan turut berduka. Kita semua di pemprov (eksekutif dan legislatif) mestinya malu dengan kejadian tersebut. Karena itu berarti pada tempat itu tidak ada antisipasi keamanan memadai yang disiapkan dinas terkait. Minimal ada papan bicara bahwa dilarang berenang atau mandi-mandi di lokasi itu,” cetus Ulla, panggilan akrab Ni’matullah Erbe.
Tak hanya itu, Ulla juga berharap adanya pengawasan reguler dari pihak keamanan. “Satpol PP misalnya, harusnya rutin melakukan kontrol. Jangan dibiarkan seperti itu,” tandas ketua DPD Partai Demokrat Sulsel ini.
Ketua Komisi D bidang pembangunan DPRD Sulsel Rusdin Tabi, meminta agar Dinas Pemuda dan Olahraga segera mengambil langkah dan menutup bekas galian. ”Kita harus mencegah timbulnya korban berikutnya,” ujar legislator Partai Gerindra ini.

Satpol PP Ditambah

Sebelumnya, kubangan di lokasi stadion Mattoanging ini pernah menelan korban. Pemprov Sulsel sudah memasang larangan kepada setiap orang untuk masuk ke dalam lokasi. Terlihat tulisan larangan menggunakan spanduk yang sudah robek di dekat lokasi kubangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman memastikan akan melanjutkan proses pembangunan Stadion Mattoanging tahun depan. Pihaknya sedang melakukan review desain.
“Tahun ini akan kita review desainnya, kemudian tahun depan ada progress (pengerjaan) sesuai kemampuan keuangan daerah,” ujar Sudirman, Jumat (21/5) lalu.

Pemprov Sulsel mengaku menyiapkan dua opsi desain. Salah satunya adalah mengurangi kapasitas stadion. Kapasitas stadion dikurangi karena beberapa hal. Selain karena kondisi keuangan, juga karena pertimbangan perizinan oleh Pemkot Makassar.
“Tapi pembangunan Stadion Mattoanging kita fokuskan berstandar FIFA. Kita fokus review desain ulang dulu,” jelasnya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sulsel Andi Arwin Asiz menjelaskan, pembangunan Stadion Mattoanging dilanjutkan tapi didesain ulang. Artinya, ada penyesuaian anggaran, dari target Rp1,1 triliun menjadi Rp250 miliar saja.
“Redesain dilakukan pada tahun 2021 sambil menunggu perubahan alokasi Rp1 triliun lebih bisa dikurangi pada perubahan APBD 2021,” jelas Arwin.

Usai mendengar kabar kubangan stadion Mattonging menelan korban jiwa, Kepala Satpol PP Provinsi Sulsel Mujiono mengatakan, pihaknya sebenarnya telah melakukan langkah preventif, seperti memasang pagar kawat tangsi disekeliling kubangan air, menutup lokasi dengan seng, dan memasang papan bicara larangan bagi warga untuk masuk ke area kubangan.
Namun, kata Mujiono, hal tersebut tidak digubris oleh anak-anak dan remaja yang sering ke lokasi. Bahkan menurutnya, seringkali anak-anak yang ditegur oleh petugas Satpol PP, malah melawan balik.
“Kami sudah memasang pagar kawat tangsi agar tidak ada masyarakat apalagi anak kecil bisa masuk ke dalam,” ujar Mujiono di ruang kerjanya, Minggu (23/5).

Selama ini, sejak bulan Maret kemarin, pernah ada kejadian warga yang tenggelam. Padahal sebelumnya personel Satpol sudah memberikan teguran, namun tidak diindahkan. Kejadian kedua, juga terjadi di bulan Ramadan kemarin, tapi tidak ada korban jiwa.
Selain melakukan perlawanan, pagar pembatas disekeliling kubangan dicabut dan dilubangi. “Bahkan kawat tangsi yang sudah dilapisi seng itu dicabut dan dilubangi, agar mereka tetap bisa masuk,” terangnya.
Atas kejadian ini, pihaknya akan melakukan penambahan personel untuk melakukan pengawasan sebanyak delapan orang. Sebelumnya yang berjaga di sana ada empat petugas. ”Kami akan tambah menjadi dua kali lipat. Mereka akan berjaga selama 24 jam,” jelasnya.
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) agar melakukan penimbunan di kubangan air Stadion Mattoanging “Kami juga sudah meminta ke pihak dinas PU untuk menimbun kubangan air tersebut, dan besok sudah dilakukan penimbunan,” tutupnya. (jul-jun-rif)




×


Pemprov Harusnya Malu

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar