pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Pohon Dibabat untuk Tol Layang, RTH Tersisa 7 Persen

MAKASSAR, BKM — Bencana yang kerap terjadi, seperti banjir, kekeringan, pencemaran, pemanasan global dan sebagainya adalah contoh dari permasalahan lingkungan. Oleh karena itu, jika tidak ada pengendalian untuk memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak, akan terjadi krisis lingkungan yang berujung pada ketidakseimbangan ekosistem.

Hal tersebut disampaikan Dewan Pembina Mahasiswa Lingkungan Hidup Selaras (Sintalaras) Universitas Negeri Makassar Ahmad Yusran Azis, dalam sesi Podcast untuk kanal Youtube Harian Berita Kota Makassar. Wawancara menjelang peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada hari Sabtu (5/6) lusa, dilaksanakan di area tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Tamangapa, Antang, Kamis (3/6).

Dijelaskan Yusran, kondisi lingkungan hidup saat ini menjadi tantangan serius bagi umat manusia agar lebih bijak pada alam, supaya kelestarian dan keberlanjutannya bisa terjaga.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia bukan hanya prosesi perayaan saja. Melainkan momentum perjalanan untuk memperbaiki tata kelola lingkungan yang dimulai dari lingkungan terkecil seperti orangtua, ayah, ibu dan anak-anaknya. Apalagi, realitas sekarang ini, dari jumlah penduduk Kota Makassar 1,7 jiwa, penanganan lingkungan dari rumah saja sudah buruk. Seperti tidak mampu memilah mana sampah organik dan sampah plastik yang berbahaya,” ujar Yusran yang diwawancarai Warta Shally Hidayat.
Founder NGO Farum Komunikasi Hijau Makassar ini melanjutkan, limbah dari lingkungan rumah, limbah domestik organik dan plastik, limbah berbahaya dan beracun yang dihasilkan industri, rumah sakit, hotel dan restoran masih ditemukan di mana-mana.
“Manusia adalah poros dan pangkal dari kerusakan lingkungan. Hal itu karena pola perilaku manusia sendiri yang belum peka pada lingkungan. Secara ekplisit bahwa kerusakan alam yang terjadi karena akibat perbuatan manusia yang kurang ramah pada lingkungan,” jelasnya.
Lebih jauh, kata ketua Badan Lingkungan Hidup MPW Pemuda Pancasila Sulsel ini, pada tahun 2015 kota Makassar patut berbangga. Karena di periode pertama Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto, tata kelola lingkungan, khususnya penanganan sampah menjadi percontohan di Indonesia. Bahkan, jika ingin belajar soal pengelolaan lingkungan dan sampah datang saja di kota Makassar.
Hanya saja, kata Yusran, saat ini kondisi tersebut tak sama lagi. Sebab sampah-sampah yang dihasilkan industri, kompleks perumahan, hotel, restoran dan rumah sakit sudah sangat berbahaya. Sampah-tersebut telah menyatu di TPA Tamanggapa, sehingga menghasilkan gas berbahaya.
“Menumpuknya sampah plastik dapat meningkatkan suhu panas bumi. Suhu panas bumi bukan hanya dihasilkan dari rumah kaca. Sejak tahun 2017 lalu, kami sudah sampaikan ke pemerintah kota dan pemerintah pusat kalau kota Makassar sangat darurat sampah. Apalagi, sangat berpotensi terjadinya kebakaran, pengelolaan gas metan yang tidak optimal. Sementara realitanya sapi juga datang mencari makan, bukan hanya masyarakat. Sapi bebas berkeliaran,” bebernya.
Karena itu, anggota Dewan Presidium Kongres Sungai Indonesia ini kembali meminta di perayaan Hari Lingkungan Hidup ini, komitmen kepala daerah untuk membenahi lingkungan hidup serta tegas dalam pemberian sanksi para pembuang limbah berbahaya. Termasuk sampah-sampah yang dihasilkan dari para pasien covid-19.
“Komitmen dan konsisten dibutuhkan dari kepala daerah, dinas, kecamatan dan kelurahan. Ruang terbuka hijau (RTH) sebagai kebutuhan pokok masyarakat masih kurang dari 30 persen yang dianjurkan pemerintah pusat. Menurut data tahun 2018 saja, RTH di kota Makassar kini hanya tersisa di angka 7 persen. Bahkan terus berkurang akibat pembabatan pohon untuk proyek tol layang di Jalan AP Petta Rani,” jelasnya.
Syamsir selaku Pengawas Umum UPTD TPA Tamanggapa, berbicara soal tata pengelolaan sampah di TPA Tamanggapa. Ia mengklaim, pengelolaan sampah tetap berjalan. Mulai dari proses membuang hingga mendorong sampai menumpuk setinggi-tingginya. “Kita tetap siap selama 24 jam untuk merapikan sampah-sampah yang setiap hari datang,” ujarnya.
Ditanya soal data volume sampah per harinya, Syamsir mengaku, datanya saat ini tidak akurat, karena timbangan rusak. Tapi seperti data-data sebelumnya, jumlah volume sampah di TPA Tamanggapa mencapai 1.000 ton per hari.
“Sampah rumah tangga terbanyak. Sampah tersebut datang dari 1,7 juta jiwa warga kota Makassar, belum urban pedagang yang transit. Pemberdayaan sampah melalui daur ulang tetap kita lakukan. Seperti mengelola komposter dari kayu, daun kayu yang cepat proses pembusukannya. Kalau ada pihak kecamatan yang minta untuk membuat pupuk, kita berikan,” jelas Syamsir.(war)




×


Pohon Dibabat untuk Tol Layang, RTH Tersisa 7 Persen

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar