MAKASSAR, BKM — Penyelenggaraan sekolah tatap muka di Sulawesi Selatan bakal dikaji ulang. Pasalnya, dalam beberapa waktu terakhir kasus covid-19 mengalami peningkatan.
Bahkan, sempat beredar surat edaran tentang perpanjangan masa belajar di rumah pada perguruan tinggi, satuan pendidikan SMA/SMK/MA, SMP/MTs-sederajat, SD/MI dan SLB negeri dan swasta se-Sulsel dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, yang belum ditandatangani.
Menanggapi hal itu, Sudirman mengatakan ia akan kembali mengecek surat edaran yang dimaksud. Namun, ia mengakui perlunya melakukan pengkajian ulang untuk penerapan sekolah tatap muka bagi wilayah-wilayah zona oranye.
“Sebenarnya bukan menunda. Kita sudah ada yang tatap muka. Beberapa wilayah sudah kan. Hanya untuk zona-zona oranye. Makanya saya mau cek ulang kembali suratnya. Jadi zona-zona yang oranye, area-area wilayah yang berhubungan langsung dengan luar mungkin kita kaji,” ujarnya, Rabu (30/6).
Lebih lanjut, kata adik Menteri Pertanian RI 2014-2019 Andi Amran Sulaiman tersebut, untuk wilayah kabupaten/kota yang sudah memungkinkan untuk sekolah tatap muka, menurutnya tidak ada masalah. Pada intinya, harus ada pengkajian matang dari Dinas Kesehatan dan ahli epidemiologi.
“Nanti kita buatkan kriteria. Kita minta kaji dulu Kadis Kesehatan dan ahli epidemiologi. Nanti kita parsial atau bagaimana modelnya,” ujarnya.
Kendati demikian, ia menegaskan belum ada instruksi resmi dari pemerintah pusat. Karena memang selama ini pembukaan sekolah tatap muka dikembalikan ke pemerintah daerah dengan pertimbangan kondisi kasus covid-19 yang ada.
Terpisah, Sekretaris Pendidikan Sulsel Hery Sumiharto mengungkapkan, sebenarnya sejak awal tahun ini, penyelenggaraan sekolah tatap muka sudah disiapkan. Namun, seiring dengan kasus covid-19 yang kembali meningkat, maka pihaknya hanya menunggu instruksi dari pemerintah.
“Pembelajaran tatap muka ini seiring dengan situasi daerah masing-masing. Kita tunggu surat edaran dulu dari Pak Gubernur,” jelasnya.
Sebagai informasi, dalam surat edaran yang belum ditandatangani Sudirman, perpanjangan pembelajaran jarak jauh/online/belajar dari rumah berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2021.
Sebelum Pemprov Sulsel mengeluarkan surat penundaan belajar tatap muka, Pemerintah Kota Makassar sudah lebih dulu mempertimbangkan hal itu. Rencana penundaan diambil seiring kasus covid-19 di Makassar yang mengalami tren peningkatan. Awalnya, pembelajaran tatap muka digelar awal Juli mendatang. Wali Kota Danny Pomanto mengatakan pihaknya bersikap hati-hati dalam memutuskan hal tersebut.
“Sampai sekarang juga belum ada keputusan pasti. Tapi bagi kami yang pasti adalah persiapkan saja (prokes). Kapan itu dimulai, nanti kita lihat kondisinya,” ujarnya.
Dia memprediksi, paling cepat pembelajaran tatap muka dilakukan setelah lebaran Idul Adha. Itupun jika memang kondisinya sudah memungkinkan dan kasus covid-19 tidak mengalami kenaikan yang drastis. “Kita lihat kondisi dulu. Kita lihat seperti apa setelah Idul Adha,” jelas Danny.
Dia memastikan keputusan yang akan diambil tetap memperhatikan pertimbangan sejumlah pihak. Seperti dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan para orang tua yang menginginkan adanya penundaan pelaksanaan sekolah tatap muka.
“Pokoknya semua pertimbangan itu menjadi perhatian kita. Keselamatan warga menjadi prioritas utama bagi kita,” terangnya.
Di sisi lain, Danny menyebut persiapan terus dilakukan melalui penyediaan sarana prasarana protokol kesehatan. Selain itu, melakukan tes antigen terhadap pelajar sebelum memasuki sekolah tatap muka. Jika berpotensi digelar, sepekan sebelumnya siswa bakal dirapid antigen.
“Termasuk ini antigen. Kita persiapkan antigen 200 ribu orang malah. Tapi kita lihat, kan antigen salah-salah kalau sekarang, baru nanti dua minggu kita kerjakan toh. Bagusnya antigen itu menjelang masuk, minimal seminggu,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Makassar mengerahkan satuan Pemadaman Kebakaran (Damkar) untuk melaksanakan sterilisasi covid-19 pada semua sekolah yang akan menggelar pertemuan tatap muka yang mulai efektif pada Juli 2021.
“Ini adalah kick off (permulaan) untuk bergerak secara fisik dalam persiapan tatap muka anak sekolah. Ada 400-an SD dan SMP yang akan disemprot dalam otoritas Pemerintah Kota Makassar. Kalau SMA kita menunggu konfirmasi dari provinsi,” ucap Danny Pomanto. (jun-rhm)

