SUDAH menjadi rahasia umum aplikasi MiChat kerap disalahgunakan oleh sebagian orang untuk menyalurkan jasa prostitusi. Dari aplikasi ini para ladies membuka layanan pemuas nafsu secara online yang dimanfaatkan sejumlah pria untuk memesan jasa tersebut.
Menyikapi hal itu, Psikolog Perempuan dan Anak Unhas, Dr Hairiyah, menegaskan, maraknya prostitusi anak pelajar lewat aplikasi atau media sosial didasari banyak faktor. Terutama faktor ekonomi, pergaulan dan gaya hidup pelajar mau terjun di dunia prostitusi dan Keluarga.
“Perempuan utamanya anak-anak pelajar sekarang itu sudah banyak terkontaminasi dengan pergaulan utamanya gadget. Begitu banyak yang mendorong anak usia belia kita itu kearah sana, mulai ekonomi, pergaulan, gensi karena gaya hidup yang ingin wah dibandinv teman-temannya dan ada juga masalah disfungsi keluarga biasanya cikal bakalnya membuat anak remaja apalagi dia cantik, pasti banyak dari antaranya itu lari ke prostitus,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Kamis (28/10).
Selain itu, katanya bahwa remaja atau usia belia banyak terjebak dan dijebak oleh lingkungannya seperti pacar, teman, dan orang terdekatnya apalagi keluarga. Sehingga orang-orang yang terlibat dalam kegiatan prostitusi sulit untuk keluar dari praktik prostitusi itu karena mereka terjebak di dalamnya.
“Pola remaja ini banyak menemukan lingkungan yang tidak sehat, mulai teman, pacarnya bahkan keluarga sendiri. Jadi dimensi pola pikir anak ini pernah sebelumnya-sebelumnya dilecehkan dari dulu, pernah dilecehkan oleh orang tua, atau ditampar, dipukul, hingga karena sering bergonta ganti pacar yang melakukan sex bisa memicu anak ini memilih menjual diri saja. Nah jalan pintasnya menjajaki di online atau aplikasi itu yah,” bebernya.
Hanya saja, dalam bentuk media sosial atau aplikasi sedang marak digunakan ditengah bebasnya anak-anak menggunakan gadget. Namun tetap saja, prostitusi online hanya peralihan metode saja, bagaimanapun kegiatan prostitusi menawarkan jasa kepuasan seksual kepada penggunanya.
“Kalau kita mau larang atau mau berantasan bisnis prostitusi online tidak cukup hanya melalui aplikasi saja, tapi juga perlu memberantas ke tempat-tempat pelaksanaan prostitusinya langsung karena pasti ketemu. Bukan cuman satu aplikasi saja banyak sekali yang menggunakan media sosial Facebook, twitter, telegram semua itu tempatnya tapi tetap mereka pasti melakukan itu disuatu tempat,” jelasnya.
Namun saat ini kurangnya kepedulian pemangku kepentingan untuk memastikan anak mendapatkan pemenuhan layanan rehabilitasi psiko-sosial terutama, intervensi kesehatan reproduksi fisik dan psikologis remaja yang sudah kecanduan seks.
“Saya banyak menangani pasien anak remaja yang sudah sering melakukan hal itu dan ingin sembuh itu tidak murah biayanya dan pemerintah apa ada menyiapkan dana itu, karena lambat laun jika dibiarkan mereka akan menjadi maniak seks. Anak remaja kita yang terlibat prostitusi online merupakan korban media sosial. Perlu ada dan diingatkan terus mengenai seks bebas dan paham dengan risiko yang ditanggung apabila melakukannya,” tuturnya. (ita-jun)

