pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Awalnya Dicicipi Lurah Hingga Dibawa ke Keraton Yogya

Tentang Bakpia Markisa, Oleh-oleh Khas Malino

MAKASSAR,BKM.COM–NAMA Malino tentu tidak asing lagi. Lokasi yang berada di ketinggian Kabupaten Gowa itu menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup digandrungi. Oleh-oleh begitu banyak dijajakan. Bakpia markisa menjadi ciri khas.

ADALAH Dapoer Noyutri yang memproduksi bakpia isi markisa itu. Pemiliknya, Ratnasari hadir di studio siniar untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar. Ia datang bersama Lurah Bonto Lerung Ramli Kiyo.
Nana –sapaan akrab Ratnasari– menyebut dirinya sudah setahun merintis usahanya. Ia kembali ke kampung halamannya setelah kurang lebih 24 tahun merantau. Ketika itulah muncul pertanyaan, apa kira-kira yang bagus dilakukan untuk daerahnya. Inspirasi pun datang. Oleh-oleh khas Malino harus dikembangkannya.

”Bakpia Medan sudah ada. Bakpia Manado juga ada. Yang bakpia Jawa jangan tanya lagi. Karena sering icip-icip bakpia, saya kemudian terinspirasi bahwa bagus membuat bakpia dari kearifan lokal. Saya lalu mencoba mengolah bakpia markisa,” terang Nana.

Awalnya, bakpia tersebut masih sebatas untuk kebutuhan rumah tangganya. Namun, setelah bertemu dengan Lurah Bonto Lerung Ramli Kiyo, pemikiran Nana semakin terbuka.
”Orang yang pertama saya mintai pendapat soal bakpia markisa ini adalah Pak Lurah. Selanjutnya, responsnya sangat luar biasa. Saya diminta untuk mengembangkan produk ini,” ungkap Nana lagi.

Tak lama setelah itu, Ramli Kiyo akhirnya menelepon Nana. Ia menyampaikan bahwa ada kegiatan pameran yang dilaksanakan di Bontomarannu. Ketika itu ada kunjungan menteri dan beberapa gubernur se-Indonesia. Mereka mengikuti kegiatan antikorupsi di daerah tersebut.

Pertama kali bakpia markisa diperkenalkan, ternyata cukup banyak peminatnya. Berawal dari situ, setiap ada kegiatan produk oleh-oleh yang dihasilkan Nana selalu diikutkan setiap ada event yang digelar.
Penjelasan Nana diamini Ramli Kiyo. Menurutnya, bakpia markisa awalnya dibawa ke pameran di Bontomarannu, lalu kemudian ke Jawa. Dari situ muncul gagasan, produk apa lagi yang bisa dikembangkan. Jadi bukan hanya bakpia, tapi juga oleh-oleh khas Malino lainnya.

Berita Terkait:

Setelah diperkenalkan di pameran Bontomarannu, bakpia markisa diboyong pada sebuah ajang expo di Kebumen. Bahkan, sampai masuk ke keraton di Yogyakarta. ”Saya sendiri yang bawa langsung masuk ke keraton,” kata Ramli Kiyo.

Ditanya tentang bahan baku markisa untuk mendukung usahanya, Nana mengaku mengambilnya dari petani lokal, bukan dari luar. Ia sangat berharap ke depannya bisa mengangkat dan membudidayakan buah markisa khas Malino. Namanya markisa tembang.

”Kami siap menampung buah markisa yang dihasilkan petani. Karena selain bakpia markisa, kami juga memproduksi dodol markisa. Kami mencoba menawarkan konsep jajanan kekinian,” jelas Nana.
Khusus untuk pengembangan markisa tembang, Nana menyebut, di awal ia menyiapkan 50 bibit secara mandiri. Nantinya akan ditanam oleh petani di wilayah Bonto Lerung, karena memang ada tempat yang disediakan khusus untuk budidaya buah markisa.

Untuk mendukung hal itu, menurut Ramli Kiyo, di sekitar kantor kelurahan terdapat lokasi yang cocok untuk budidaya markisa. Bahkan saat ini, di sepanjang jalan masuk pintu gerbang sudah dibuatkan wadah yang terbuat dari bambu petung. Di situlah nantinya pohon markisa akan merambat. ”Orang yang datang ke kantor kelurahan bisa sekalian berwisata menikmati tanaman markisa,” kata Ramli.

Wilayah Bonto Lerung yang berada 1.100 meter di atas permukaan laut (MDPL), terdapat bukit Johar. Di tempat ini pula nantinya akan ditata untuk penanaman markisa. Sebab di ketinggian ini sangat cocok untuk tanaman tersebut. Termasuk untuk tanaman kopi.

Melihat respons cepat dari lurah selama ini, Nana berharap UMKM bisa semakin berkembang ke depannya. Saat ini ada kurang lebih 10 UMKM yang dibina oleh Nana. Bukan hanya di Bonto Lerung, tapi Malino secara umum. Mereka masing-masing mengolah produk. Seperti dodol ketan Malino yang dikemas dalam bentuk sosis. Ada pula tenteng, baje, hingga cucuru te’ne.

Produk yang dihasilkan UMKM binaan Nana telah dipasarkan di tempa lain. Untuk kemasan besar dijual dengan harga Rp30 ribu. Sementara yang kemasan ekonomis isi delapan picis ditawarkan Rp20 ribu. Namun, harga tersebut untuk konsumen langsung. Nana membuka kemitraan dengan harga khusus.
Sebagai bagian dari pengembangan usaha, Nana dan UMKM binannya juga mengolah ikan khas dataran tinggi. Seperti otak-otak pallu ce’la, serta abon ikan pa’lu cella. Bahan bakunya diperoleh sari warga setempat. (*/rus)

 




×


Awalnya Dicicipi Lurah Hingga Dibawa ke Keraton Yogya

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link