KONTESTASI pilkada serentak telah usai. Sebagai masyarakat kita harus senantiasa kritis pada setiap kebijakan, baik dari skala nasional maupun regional.
Selaku anak muda, sikap kritis adalah hal yang harus selalu dikedepankan. Sebab dalam konteks politik dan kebijakan kita tidak boleh menggunakan unsur fanatisme di dalamnya.
Kita harus memahami bahwa dari historis menuju kemerdekaan, anak muda adalah golongan yang selalu menggunakan nalar kritis, yang kemudian mendorong sebuah peristiwa paling bersejarah, yakni Proklamasi Kemerdekaan yang mengantarkan kita lepas dari rantai kolonialisme yang selama bertahun-tahun membelenggu para anak bangsa.
Peran generasi muda dalam pembangunan sebuah negara memiliki tanggung jawab yang sangat besar guna menentukan arah bangsa. Generasi yang hari ini berkuasa pada akhirnya akan sampai di titik akhir kekuasaannya. Posisi mereka harus segera digantikan oleh generasi muda.
Oleh sebab itu, sikap kritis dalam menghasilkan keseimbangan untuk roda pemerintahan sangatlah diperlukan. Dalam bersikap kritis diperlukan literasi yang kuat agar menjadi bagian dari pembangun negeri.
Untuk itu, para pemuda hari ini tidak boleh bersikap apatis pada isu-isu penting yang ada di sekitar. Apalagi dalam kaitannya dengan kehidupan bernegara. Kelahiran negara ini merupakan bentuk dari spirit nasionalisme yang harus senantiasa diwariskan sebagai bentuk semangat dalam bernegara.
Sikap kritis tidak bisa dibangun dari ketidaktahuan. Oleh karenanya, setiap anak muda harus mengerti terlebih dahulu agar mampu mengkritisi sesuatu. Setiap hari seorang pemuda harus menyempatkan waktu untuk membaca atau mengamati siaran berita terkini. Anak muda harus update dengan akun-akun media massa yang tepercaya guna memahami isu terkini sebagai bentuk pengembangan nalar kritis.
Meski pemerintahan berangkat dari pilihan mayoritas rakyat, bukan berarti setelah itu kita tidak perlu melakukan pengawasan. Kekuasaan sendiri sangat rentan membuat siapa pun terlena. Tugas masyarakat, terutama generasi muda adalah siap bersikap kritis kapan pun diperlukan.
Sikap kritis bukan dalam rangka menjatuhkan pemimpin, tapi justru sebagai tanda sayang supaya kekuasaan yang dimilikinya tidak disalahgunakan. Jangankan dalam kehidupan bernegara, di kantor atau kampus pun ada hierarki kekuasaan. Ada pemimpin tertinggi dan para anak buahnya. Mereka sama-sama selalu perlu dikawal dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, walaupun telah mendapatkan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpin, tetaplah berpartisipasi aktif melalui sikap kritis.
Saat penguasa membuat kebijakan dengan arif, tentu kita perlu mengikutinya dengan taat. Sebaliknya, ketika pemerintahan mulai terlihat lalai dalam menjalankan tugasnya, inilah saatnya untukmu memberikan kritik yang membangun. Jika peran ini dijalankan generasi muda dengan baik, pemerintahan diharapkan jauh dari sikap lupa diri setelah merasakan nyamannya memegang mandat kekuasaan.
Setiap anak muda harus mengerti jika suatu isu dikatakan penting karena berkaitan dengan banyak orang baik secara langsung maupun tidak. Misalnya, kasus kekerasan di lingkungan pendidikan yang mengharuskan kita untuk bersuara dengan lantang agar memberikan suatu atensi agar hal tersebut menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa masyarakat selalu senantiasa mengawasi kondisi negara. (yus)

