pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Golkar Harus Berubah Jika Ingin Kembali Menang di Sulsel

Lima pemateri dalam diskusi Refleksi 61 Tahun Partai Golkar; Sulsel, Masihkah Lumbung Golkar? di redaksi Harian Berita Kota Makassar. Dari kiri ke kanan Armin Mustamin Toputiri, Zulkarnain Arief, Dr Rahmat Muhammad, Prof Madjid Sallatu, dan Arif Situju.

BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Selama ini Partai Golkar dikenal luas masyarakat Sulsel. Setiap pemilihan umum (pemilu), partai berlambang beringin rindang ini selalu tak terkalahkan. Sulsel menjadi lumbung utama Sulsel dalam meraih suara. Namun, pada pemilu legislatif 2024 lalu, secara mengejutkan, Golkar dikalahkan oleh Partai Nasdem.

Pengamat politik Dr Rahmat Muhammad dalam diskusi Refleksi 61 Tahun Partai Golkar, Sulsel, Masihkah Lumbung Golkar? yang berlangsung di Redaksi Harian Berita Kota Makassar, Kamis, 30 Oktober 2025 menyebut kata yang tepat disemanatkan untuk Partai Golkar pada pemilu 2024, yakni Golkar dilambung di lumbung. Diksi dilambung di sini berarti disalip.

“Masa jaya Golkar di Sulsel lewat karena dilambung di lumbung,” beber Rahmat dalam diskusi yang dipandu Pemimpin Redaksi Berita Kota Makassar Andi Rustan.

Sebenarnya, kehebatan Partai Golkar tidak bisa dipungkiri. Karena selalu eksis di masa lampau, saat ini dan masa depan. Namun kekalahan Golkar di Sulsel pada pemilu legislatif 2024 lalu sangat disayangkan. Padahal tradisi mentalitas memang Partai Golkar itu sangat kuat.

Rahmat yang ketika menulis tesis membahas tentang Partai Golkar memaparkan, pada pemilu legislatif 2019 lalu, Golkar berhasil meraup 157 kursi se-Sulsel. Namun di 2024, turun menjadi 153 kursi.

Untuk posisi ketua DPRD, pada 2019 Golkar berhasil mendudukan 11 kadernya sebagai ketua. Tapi pada 2024, hanya tujuh kader yang mampu duduk sebagai ketua DPRD.

“Menyikapi kondisi itu, Partai Golkar harus mempersiapkan strategi ambil alih kemenangan. Mau lambung kiri atau kanan, masih banyak waktu dan cara untuk merebut kembali itu,” kata Rahmat.

Pembicara lain, Prof Madjid Sallatu mengemukakan, sejak dulu kader Partai Golkar selalu bangga sekali kalau memakai jaket Golkar, mengingat besarnya partai tersebut. “Namun, kalau bicara sekarang, saya minta maaf, sesuai pengalaman saya, terjadi pembiaran, terutama tokoh muda (Partai Golkar) lalai dalam intelektual exercise,” ungkapnya.

Menurut pengamatannya, dalam kurun waktu 10-15 tahun ini, yang terlihat di matanya, muncul kepemimpinan eksklusif di kepengurusan Partai Golkar.

“Kalau sekarang dibilang ordal (orang dalam). Saya kecewa sekali melihat itu. Yang jadi persoalan, terjadi ketergelinciran dalam integritas Golkar, terjadi degradasi. Kondisi yang ada sekarang ini harus diubah di Golkar. Perubahan yang dibutuhkan yakni kolaborasi,” tandasnya.

Dari kacamata media, Arif Situju, wartawan Politik Harian Berita Kota Makassar mengatakan salah satu faktor yang cukup memengaruhi popularitas Golkar kalah dibanding Partai Nasdem sebagai pemenang pemilu legislatif di Sulsel adalah frekuensi pemberitaan.

Dia melihat, pemberitaan Partai Nasdem selama ini lebih masif dan jor-joran dibanding Partai Golkar. Di sisi lain, lanjutnya, setelah Musda Golkar lalu, terjadi kerenggangan antarpengurus lama dan pengurus baru.

Arief juga melihat muncul berbagai kepentingan kelompok elite saat Taufan Pawe menjabat sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel.

“Ada loyalis Nurdin Halid, Taufan Pawe, dan Syahrul Yasin Limpo. Kelompok-kelompok ini masih sulit disatukan ketua yang terpilih,” kata Arief.

Dia menegaskan, Golkar bisa kembali keluar sebagai pemenang di pemilu mendatang jika menemukan sosok yang teruji, berpengalaman, mampu membaca tantangan dan peluang.

Figur Ketua yang Tepat

Sementara itu, pengurus Golkar Sulsel Zulkarnain Arief optimistis Golkar bisa mengembalikan kejayaannya dan menjadi partai pemenang pemilu di tahun 2029 mendatang. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kejayaan partai beringin rindang adalah menemukan figur dan sosok ketua Golkar yang tepat.

Dia membeberkan, salah satu yang digadang-gadang untuk menakhodai Golkar adalah Munafri Arifuddin, Ketua DPD II Partai Golkar Makassar saat ini. Sosok politisi yang akrab disapa Appi yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Makassar, dinilai sangat tepat karena memenuhi kriteria paling lengkap.

“Pak Appi sudah membuktikan diri seorang petarung. Bisa memenangkan kontestasi pilkada di Makassar. Saat ini memimpin kota dengan jumlah penduduk 1,5 juta. Kita tidak ragukan lagi. Apalagi, Appi masih muda,” beber lelaki yang akrab disapa Zul itu.

Dia menegaskan, Ketua Golkar Sulsel ke depan haruslah seorang pengusaha dan berkecimpung di pemerintahan. ”Dan itu ada di sosok Appi,” imbuhnya.

Lebih jauh dipaparkan, sejauh ini sudah ada 17 DPD II atau sekitar 67 persen suara yang menyatakan dukungan ke Appi. “Kalau nanti pemilihannya aklamasi, aturannya kan cuma 50 plus satu suara. Dengan 67 persen dukungan suara, sudah bisa mengantarkan Appi menjadi Ketua DPD I Partai Golkar,” kata Zul.

“Kita tinggal tunggu momentum tanggal 19 November, di mana kepengurusan lama sudah berakhir
masa jabatannya. Selanjutnya persiapan musda,” tambahnya.

Dia menambahkan, salah satu faktor menurunnya perolehan suara Golkar di pileg karena tidak adanya kebersamaan caleg mulai DPR RI hingga daerah. Sehingga ke depan, tidak boleh lagi caleg jalan sendiri dengan keluarga. Semuanya harus menggunakan model tandem.

Salah satu kader Golkar, Armin Mustamin Toputiri lebih menyoroti gaya pengkaderan anggota Golkar zaman dulu dan saat ini. Selain itu, dia melihat model rekrutmen caleg juga tetap bertahan dengan gaya pengkaderan.

Sementara di sisi lain, partai-partai yang ikut pemilu mengandalkan gaya pragmatis. Cari caleg yang
punya modal alias duit yang banyak. “Nah yang harus ditekankan, apakah Golkar akan tetap bertahan dengan gaya pengkaderan atau berubah ke pragmatis. Apakah sistem yang berubah, atau Golkar yang merubah sistem,” tandasnya. (rhm)



×


Golkar Harus Berubah Jika Ingin Kembali Menang di Sulsel

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link