TAHUN 2009 menjadi awal perjalanan bagi Rahmat memulai pekerjaannya sebagai cleaning service atau petugas kebersihan di kantor Balai Kota Makassar di Jalan Ahmad Yani. Sembilan tahun bekerja tentu memiliki banyak cerita yang dapat dikisahkan.
Laporan: ARIF AL QADRY
Dalam ceritanya, pria kelahiran Gowa, 15 Oktober 1985 menyebut awal dirinya sampai masuk dan jadi petugas kebersihan di kantor Balai Kota Makassar setelah dia ditawarkan oleh keluarganya untuk bekerja. Saat itu, putugas kebersihan masih bernaung di Bagian Umum Sekretariat Pemkot Makassar.
Tanpa berpikir panjang, pria yang karib disapa Mamat itu langsung memasukkan permohonan kerjanya. Dan tanpa menunggu waktu lama dia mendapat panggilan memulai berkerja menjadi petugas kebersihan.
Selama satu tahun pertama, Mamat ditugaskan untuk menyapu sampah – sampah yang ada di halaman luar kantor Balaikota Makassar. Itu dilakukan seorang diri dari pagi sampai sore. Semua sampah dikumpul menjadi satu dan kemudian dibuang di kontainer sampah.
“Tugas dibagi-bagi, ada yang menyapu di halaman luar, dalam kantor, ada juga yang membersihkan toilet. Dan saya sendiri dua tahun menyapu di luar halaman, satu tahun di dalam, dan sekarang kumpulkan sampah-sampah dari lantai dasar sampai lantai 11,” katanya.
Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah mimpi dan cita-citanya sejak dulu. Bahkan pernah sekali pada saat dibuka pendaftaran CPNS dia ikut. Hanya saja rezekinya belum ada untuk menjadi PNS.
“2009 sampai 2006, petugas cleaning service masih masuk di Bagian Umum, dan 2006 sampai 2009 sudah beralih ke outsourcing. Tapi sampai sekarang saya masih berharap nantinya bisa terangkat menjadi pegawai honor hingga PNS karena dari dulu saya bercita – cita mau menjadi PNS, bahkan pernah saya mendaftar CPNS tahun lalu, tapi belum ada rezeki alias tidak lulus,” ucap Mamat dengan senyum.
Upah yang didapat setiap bulan kata Mamat tidak besar sekitar Rp2 juta per bulannya. Sementara waktu kerja dari Senin-Sabtu. Khusus dihari Sabtu, waktu kerjanya berkurang dari pukul 07:00 sampai 12:30.
Untuk menambah penghasilan bulanan diluar dari upah menjadi petugas kebersihan, Mamat sambilan menjadi tukang ojek langganan antar anak sekolah. Langgananya adalah anak dari Kasubag Pengaduan Masyarakat, Nuri Tri Hendrayani.
“Saya bersyukur karena masih ada ji tambah-tambah penghasilan bulanan. Saya antar jemput anaknya ibu kasubag ke sekolah. Upahnya lumayan besar dan sangat membantu saya juga,” katanya.
Usai salat subuh, dia sudah keluar meninggalkan rumah di Gowa di Desa Tanrara, Kecamatan Bontonompo Selatan dan langsung menjemput langganannya di Jalan Metro Tanjung Bunga. Kebetulan lokasi sekolah langganannya berada tidak jauh dari tempatnya bekerja.
“Dari kelas dua SD sampai kelas satu SMP saya yang ojek itu anaknya ibu, saya bersyukur karena saya mendapat kepercayaan untuk itu dan tambah-tambah penghasilan. Kalau siang, saya minta izin di kantor untuk menjemput ojek langganan saya,” tutupnya.
Tanpa memperlihatkan rasa jijik, satu per satu isi tempat sampah basah dan kering dipindahkan ke tempat sampah yang ukurannya lebih besar lagi. Sesekali tangan Mamat dimasukkan ke dalam tempat sampah kecil jika isi tak kunjung jatuh keluar ke dalam tempat pemampungan sampahnya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi bapak satu orang anak itu memindahkan sampah kering dan basah, hanya kurang 1 menit Mamat kemudian melanjutkan langkah kakinya menyusuri setiap lorong kantor Balai Kota dari lantai dasar hingga lantai 11 mengumpulkan sampah-sampah yang ada.
Menjadi tukang bersih, jelas Mamat membantu orang-orang juga untuk menjadi nyaman berada di lokasi dan sekaligus mengejar pahala.(arf)

