MELANJUTKAN hidup di perantauan memang menjadi tantangan sendiri. Ada banyak sekali harapan yang ingin dicapai dari bekerja di luar kota yang jauh dari kota asal. Hal itu sangat dirasakan oleh Rusmiati, wanita asal Flores yang bekerja di sebuah rumah makan di Jalan Gunung Nona.
Laporan: JUNI SEWANG
Menurut Rusmiati kepada penulis, memang butuh modal yang cukup besar untuk hidup di perantauan. Termasuk bagaimana mengatur gaji dengan baik agar gaji yang didapatkan tidak habis sia-sia, dan mampu disisipkan untuk mengirimkan ke orang tua.
Bagi orang tuanya yang mampu, mungkin para perantau sudah tidak memikirkan untuk mengirim uang ke kampung halaman. Tetapi bagi yang merantau dan memiliki keluarga kurang mampu serta harus menjadi tulang punggung keluarga, maka harus mengirim uang ke kampung halaman setiap waktu.
Rusmiati saat ini bertugas membersihkan rumah makan dan mengantarkan pesanan makanan. Gaji yang diperolehnya Rp1,5 juta, meski jauh dari upah minimum kota (UMK), Rusmiati tetap bersyukur. Sebab gaji yang diterimanya ia sisihkan untuk mengirimkan ke orang tuanya di Flores.”Saya kirim setiap bulan Rp1 juta, sisanya Rp500 ribu saya gunakan di Makassar. Apalagi di tempat saya bekerja, makan dan tempat tinggal sudah ditanggung pemilik rumah makan,” katanya.
Sebelum bekerja di rumah makan, Rusmiati sempat bekerja sebagai karyawan toko barang campuran. Merasa pekerjaannya berat dan gaji tidak memadai, ia memilih bekerja di rumah makan. Itupun setelah mendapat tawaran dari teman sekampungnya.
Sudah hampir dua tahun Rusmiati mengadu nasib di Kota Makassar, dan selama dirinya berada di Kota Makassar, hanya telpon sebagai pengobat kerinduannya dengan keluarga.
“Belum pernah pulang selama tinggalkan Flores, kami disini di fasilitasi tempat tinggal, makan ditanggung. Kami buka warung jam 09.00 pagi tutup jam 10.00 malam. Untuk pembagian kerja sudah terbagi ada menerima pesanan, antar pesanan, cuci piring, dan ada yang masak, saya bagian terima pesanan, dan antarkan pesanan, kadang juga dapat giliran mencuci piring,” jelasnya.
Kepada penulis, dia bercita-cita ingin seperti orang-orang dekat di kampungnya yang berhasil bekerja di perantauan. Rusmiati ingin seperti mereka yang ketika pulang kampung kondisi perekonomiannya nampak semakin meningkat. Hal itu yang membuat tekadnya bulat untuk merantau walaupun tak punya keahlian dan pengalaman.
“Saya tetap bercita-cita ingin seperti orang-orang dekat di kampungnya yang berhasil bekerja di perantauan. Saya juga ingin seperti mereka yang ketika pulang kampung kondisi perekonomiannya nampak semakin meningkat. Hal itu yang membuat tekadnya bulat untuk merantau walaupun tak punya keahlian dan pengalaman,” ujarnya.(jun)

