MAKASSAR, BKM — Sulsel terancam kehabisan tenaga guru sekolah menegah kejuruan (SMK) yang berstatus Aparatur Sipil Negara. Sementara dalam seleksi calon pegawai negeri sipil yang digelar pemerintah saat ini, Sulsel tidak menerima jatah formasi untuk penerimaan guru SMK tersebut.
Hal tersebut dibenarkan Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo. Bahkan kata None sapaan akrabnya, kondisi tenaga pengajar saat ini sangat terbatas, membuat sekolah kesulitan. Satu-satunya harapan tertumpu pada guru honorer. Malah untuk Sulsel, tahun ini Kemenpan-RB tidak memberikan jatah sama sekali untuk tenaga pengajar untuk jajaran SMK.
Padahal, keberadaan guru SMK yang ASN menjadi kebutuhan terbesar Disdik Sulsel untuk tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.
Untuk SMK, kata dia, ada sekitar 1.500 guru kejuruan. Semuanya diprediksi akan pensiun pada 2020 mendatang. Untuk beberapa jurusan tertentu, sudah ada persiapan honorernya. Hanya saja, ada guru jurusan yang sulit dicarikan penggantinya.
“Tahun ini ada 145 guru kejuruan SMK yang pensiun. Sementara SMA 256. Guru SLB ada 11 orang. Sementara penggantinya minim, tidak sesuai kebutuhan disdik,” ungkap None, Senin (8/10).
Dia menggambarkan, misalnya untuk guru mesin las. Untuk memenuhi kebutuhan, terpaksa direkrut honorer atau kerjasama dengan pihak swasta.”Dimana mau dicarikan itu. Masa’ tukang las yang mau mengajar,” ungkapnya.
Olehnya itu, BKD Sulsel diharapkan mengusulkan ke Kemenpan RB bisa mempertimbangkan ini, termasuk tidak mengusulkan jurusan tertentu seperti Bahasa Jerman, yang kurang dibutuhkan.“Kita terbatas untuk honorer. Apalagi anggaran insentifnya tak besar, meskipun pemerintah sudah naikkan,” tambahnya.
Untuk insentif, APBD Sulsel hanya bisa membiayai 4.000 orang. Anggarannya Rp38 miliar. Sisanya dibiayai oleh Dana BOS setiap sekolah.
Terpisah, Kepala Bidang SMK Disdik Sulsel, Rusli juga membenarkan, jika kondisi tenaga pengajar SMK saat ini sangat kekurangan. Diprediksi hingga dua tahun kedepan, guru kejuruan sudah pensiun dan tak bisa mengajar.
Makanya untuk menyiasati ini, tenaga yang pensiun kembali diangkat sebagai tenaga honorer. Selain itu tambahan perekrutan guru tenaga honorer lain, untuk menambah sumber daya.
“Ada sekitar 1.500 sampai 2.000 tenaga guru kejuruan. Ini terus berkurang, tidak pernah bertambah. Apalagi tidak tidak jatah khusus untuk pengangkatan bagi SMK,” tambahnya.
Terpisah, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Sulsel, Ashari Fakhsirie Radjamilo mengatakan, pihaknya sudah berusaha untuk memenuhi kebutuhan. Usulan formasi sesuai kebutuhan sebenarnya sudah dikirim ke pusat. Namun, penentuan akhir ada di tangan Kemenpan RB.
“Kami sudah sampaikan bahwa penentuan formasi bukan ditentukan BKD tapi Kemenpan RB dan pusat. Kita ini sesuai dengan kita kirim kebutuhan kita. Keinginan kita, semua sekolah-sekolah baik SMA/SMK secara keseluruhan terpenuhi semua bidang studi. Tapi ini pusat semua yang tentukan,” ungkap Ashari.
Solusinya, tambah Ashari, kita tunggu regulasi apa yang akan ditentukan pusat. (rhm)

