KUNCI dalam membuka usaha yang diterapkan Muhammad Ipul (27) adalah setiap usaha perlu ada inovasi dan karya yang membuatnya menjadi lebih berharga. Sebab dari tahun demi tahun usaha yang dijalaninya semakin berkembang.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
“Alhamdulillah, percetakan saya sudah mulai sedikit demi sedikit berkembang meski tidak membuat saya kaya. Tetapi, keasyikannya itu yang paling utama mbak. Sama kecepatan kerja, pelayanan maksimal dan kualitas adalah kunci utama dalam mempertahan konsumen saya,” bebernya saat ditemui beberapa hari lalu.
Meski dalam menjalannya itu, Ipul masih banyak menemukan hambatan diantaranya ketika di awal merintis untuk membuka toko dengan modal pas-pasan, Ia harus menambah tenaga untuk membantunya. Hal ini merupakan tantangan berat bagi Ipul, karena karyawan yang ia ambil berasal dari kalangan mahasiswa yang basic dan ilmunya belum baik.
“Seperti ini Ari (tunjuk pegawainya) yang saya ambil adalah mahasiswa dan anak muda yang masih nol pengetahuannya di bidang desain dan buat stiker. Secara kerapian dan inovasi tidak ada sama sekali. Tapi saya apresiasi mereka karena mereka tidak pernah mengeluh, meski lembur sampai tengah malam, ngantar pesanan sana sini, kerja pasang sana sini makan tidak teratur namun mereka terus semangat,” jelasnya.
Persoalan lainnya yang sering dihadapi Ipul ialah kerusakan mesin. Jika sudah seperti itu, otomatis akan dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, sama halnya membeli bahan baku buat stiker itu mahal sebab nilai tukar rupiah terhadap dollar yang masih tinggi berdampak pada harga bahan baku yang selalu ia produksi.
“Awalnya itu sering rugi, apalagi beli bahan baku seperti tinta, kertas itu sekarang mahal mbak. Belum lagi mesin juga sempat rusak,” katanya.
Belum lagi, jelas Ipul, persoalan konsumennya yang berbagai macam permintaan dan keinginnan. Banyak maunya, tapi mint harga murah dan hasil bagus, menawar dengan harga yang jauh sekali serta membandingkan dengan desain yang lain dan kadang menelpon tengah malam untuk menyelesaian keesokan harinya.
“Sering saya lembur sampai 24 jam karena konsumen nelpon tengah malam dan minta jadi besok pagi. Ada juga PHP katanya pasti langganan tapi ternyata cuma sekali pesan habis itu hilang atau sudah pesan tapi menghilang,” kesalnya.
Intinya ini mba, kesabaran dan dibuat enak saja, karena saya jalani usaha in bukan karena sekadar mengejar uang saja. Tapi memang ini hobby yang saya jadikan pekerjaan, kalau saya terpaksa mungkin sudah lama berhenti karena kalau buka usaha seperti ini ada-ada saja, masalah dihadapi setiap harinya keluhan konsumenlah, pegawai atau saya sendiri terkadang juga,” tuturnya.
Selain itu Ipul juga mengaku dalam membuka usahanya, dorongan keluarga sangat dibutuhkan dirinya, sehingga segala masalah dan senang yang ia hadapi bisa dilaluinya. Apalagi saat ini hasil bisnisnya ia mampu mengumpulkan hingga Rp110 Juta lebih dalam setiap bulan.
“Kalau untung lumayan sih sekarang mba, kalau lancar-lancar seperti bulan lalu tembus Rp110-150 juta lah. Karena tidak menentu, yang rata-rata pelanggan semua yang datang. Lumayan juga bisa tabung untuk keluarga semuanya itukan untuk keluarga juga, pasti karena mereka (Keluarga) juga dukung,” ungkapnya.
Ipul juga berharap bisnisnya bisa berkembang, apalagi kini diakuinya untuk bisnis stiker ini masih sedikit di Makassar, sehingga ia masih mengandalkan bisninsya ini bisa berkembang lebih dari apa yang saat ini dan melebarkan lagi usahanya.
“Yah harapannya bisa banyak lagi pelanggannya, bisa tambah toko juga dan bisa buka bisnis baru lagi untuk istri, karena rencana istri mau buka usaha warung makan juga untuk bantu usaha juga,” tutupnya.
Dari hasil kerja kerasnya tersebut, kini Ipul sudah mampu memiliki lahan sendiri dengan membangun toko pembuatan stiker dibantu tiga pegawainya.
“Awalnya saya hanya penjual stiker di jalan-jalan sana mba (Tunjuk tempat jualannya dulu), saya cuman ambil stiker-stiker biasa dulu. Kalau pulang sekolah saya jualan di depan sekolah,” ungkapnya saat ditemui di tokonya di Jalan Abd Sirua.
Bermula dari situlah Ipul juga menekuni bidang desain. Ia mulai belajar dari tempat usaha pembuatan stiker. Bahkan kala itu, ia sering dimarahi orang tuanya sebab di jam pulang sekolah, Ipul tidak langsung pulang ke rumah. Bahkan ia lebih banyak menggambar daripada belajar pelajaran sekolah.
“Iya orang tua saya selalu marah, karena pulang sekolah saya selalu keluyuran. Keluyuran bukan berarti bermain bersama teman, tetapi saya ke tempat sablon lah dan belajar desain sambil menjual. Makanya sering dimarahi sama bapak karena terlambat pulang ke rumah dan tidak pernah belajar,” ucapnya.
Tapi hasil ketekunan itulah, Ipul bisa mengembangkan jasa pembuatan dan pemasangan stiker motor dan mobil. Kini seperti kehidupan Ipul, lelaki berumur 27 tahun ini menghidupi diri dan keluarganya dari lembaran-lembaran stiker buatannya.
“Tapi biar bandel banget mba dulu, saya itu orangnya pebisnis sekali, bahkan apa saja saya jadikan bisnis. Tapi memang bakat dan naluri saya jadi pebisnis stiker itu sangat bulat sekali, makanya biasanya saya lansung yang desain stiker-stiker disini, kalau yang lain (Pegawainya) tinggal polesi saja,” tuturnya.
Selain itu, bapak satu anak ini mengaku suka duka di bisnis yang ia jalani banyak, utamanya tuntutan gambar dan kata-kata menarik. Sekaligus desain gambar yang diinginkan konsumen, jadi salah satu pekerjaan rumah bagi Ipul. Untuk itu, ia biasanya mencoba mendesain sendiri atau membeli stiker-stiker yang sudah jadi namun berharga miring.
“Biasanyakan kita baru cetak kalau sudah ada permintaan desain seperti apa dari konsumen. Maunya konsumen inikan biasanya macam-macam, jadi harus digambar dulu polanya seperti apa maunya, biasanya yang begitu agak merepotkan, kecuali stiker yang sudah dipajang dan konsumen tinggal mau dipasangkan itu enak,” akunya.(ita)

