HINGGA saat ini, Alex masih eksis mengembangkan usahanya. Di tengah deru persaingan yang cukup ketat, dia terus memacu produksi dengan mengusung kreatifitas.
Laporan: RAHMA AMRI
Desain produk baru harus selalu ada agar bisa mendapat hati dari masyarakat.
Dibantu beberapa anaknya yang diharapkan bisa mengembangkan usahanya ke depan, dia mencoba membaca dan menerobos peluang pasar.
“Kita harus kreatif kalau mau tetap eksis. Kreatif menciptakan model-model produk yang baru,” ungkapnya.
Di rumahnya yang juga menjadi tempat produksi, banyak berserakan rotan yang siap untuk dianyam.
Ada beberapa produk setengah jadi, ada juga yang sudah jadi.
Dua pekerjanya sibuk menghaluskan permukaan rotan. Ada juga yang mengecat.
Saat ini, Alex cukup banyak menerima pesanan berupa kursi kafe untuk warung kopi. Bukan hanya di Makassar saja, malah permintaan sudah tembus ke Timika dan Jayapura.
Ke depan, dia bertekad untuk menembus pasar internasional. Ekspor furniture rotan asal Indonesia memang sudah cukup terkenal di mancanegara.
Namun, untuk menembus pasar ekspor, kata Alex, banyak hal yang harus dipersiapkan. Terutama kualitas produk.
“Kualitas produksi yang utama harus di tingkatkan sambil terus melirik peluang pasar. Tentu saja, modal juga jadi hal utama karena permintaan untuk luar negeri kan cukup besar,” ungkapnya semangat.
Selain furniture, dia juga menerima pesanan anyaman seperti tempat parcel.
Permintaan cukup tinggi biasa datang jelang hari raya seperti Idul Fitri dan Natal.
“Permintaan anyaman rotan untuk tempat parcel kadang kalau waktu-waktu seperti ini, jelang natal, meningkat. Begitu juga kalau mau lebaran,” tandasnya.
Jadi, tujuannya menggeluti profesi ini tidak hanya semata demi memenuhi kebutuhan keluarganya melainkan demi mempertahankan Indonesia sebagai negara penghasil rotan terbesar di dunia serta menyalurkan hobi menganyam.
Kata Aleks Lapaksa, profesi yang digelutinya sejak 1985 hingga saat ini sangat bermanfaat selain dapat membantu perekonomian keluarganya juga mampu menyalurkan bakat kepada keempat buah hatinya.
“Saya bersyukur karena saya sudah salurkan bakat kepada seluruh anak saya sehingga mereka tidak lagi mencari pekerjaan di luar sana,” ungkapnya.
Awalnya, usaha ini dirintis dengan modal Rp1 jutaan. Namun, tidak banyak produk yang bisa dihasilkan dengan modal sebesar itu. Beruntung ada program CSR untuk modal bantuan UMKM dari salah satu perusahaan otomotif sebesar Rp5 juta, usahanya bisa dikembangkan.
Saat ini, Aleks tidak hanya membuat produk furniture untuk wilayah Makassar dan sekitarnya, namun sudah meluas hingga ke Papua.
Pesanan juga bukan sebatas skala rumah tangga melainkan juga kafe-kafe yang mengusung tema unik. (*)

