MAKASSAR, BKM — Tingkat keterpilihan atau elektabilitas bakal calon wali kota Makassar di masa pandemi covid-19 ternyata terus menanjak. Padahal, para bakal calon sulit untuk melakukan sosialisasi maupun konsolidasi tim di lapangan.
Sejumlah tokoh partai politik maupun pengamat politik memberikan tanggapan maupun analisa yang beragam kenapa elektoral para bakal calon terus terdongkrak.
Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulsel Muhammad Risman Pasigai, mengemukakan bila para bakal calon kembali mulai dati titik nol. “Saya kira semua calon star dari titik nol di tengah pandemi covid. Jadi bicara elektabilitas calon mereka perlu strategi khusus dalam menghadapi masa-masa pilkada,” ujarnya, Rabu (10/6).
Hal sama dilontarkan Wakil Ketua Golkar Sulsel Arfandi Idris. Kata dia, selama pandemi covid-19 yang sudah berjalan kurang lebih 3 bulan, para bakal calon kepala daerah tidak berhenti melakukan komunikasi politik pada masyarakat dengan berbagai pendekatan.
Di samping itu, juga tetap berusaha agar para bakal calon ini bisa terekam dalam survei yang dilaksanakan oleh bakal calon atau pun yang dilaksanakan oleh partai politik, untuk menjadi salah satu indikator dalam menetapkan bakal calon yang akan diusung pada pilkada nantinya. Apalagi situasi dan kondisi sekarang ini terlihat betul aktifitas sosialisasi yang dilakukan untuk membantu masyarakat dalam penanganan covid-19.
“Seperti kegiatan bag-bagi sembako. Melakukan penyemprotan disinfektan. Membagi masker, handzanitiser dan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan. entu masyarakat merasakan betul kehadiran para bakal calon kepala daerah tersebut,” jelas Arfandi.
Sekretaris DPD Partai Gerindra Sulsel Darmawangsyah Muin, mengungkapkan bahwa balon wali kota semakin massif turun membantu mereka yang terdampak covid 19, sehingga masyarakat bisa lebih dekat dan menilai mana yang akan mereka pilih saat pilwali Makassar 9 Desember nanti.
Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel Andi Jamaluddin Djafar, mengungkapkan bahwa salah satu yang mengangkat elektabilitas bakal calon wali kota adalah dengan cara komunikasih lewat WhatsApp, Facebook, atau pertemuan dengan cara virtual.
Balon Petahana Menguat
Pengamat politik dari Unhas Dr A Ali Armunanto memberi analisanya, bahwa untuk kondisi saat ini dirinya yakin elektabilitas para calon akan mengalami stagnasi. Hal itu seiring dengan berbagai pembatasan fisik yang diterapkan oleh pemerintah.
Kemungkinan yang bisa mengambil untung dari kondisi ini adalah mereka yang mampu memanfaatkan teknologi sosial media dan virtual untuk meningkatkan elektabilitas. Itu pun akan terbatas pada kaum milenial.
“Dalam pandangan saya, yang paling diuntungkan adalah kandidat-kandidat lama yang berada pada top of mind pemilih. Karena mereka tetap diingat oleh pemilih sebagai calon wali kota. Sedangkan bagi para pendatang baru, mereka akan dirugikan dengan aturan pembatasan fisik ini, karena akan semakin kesulitan dalam melakukan sosialisasi,” ucapnya.
Pengamat komunikasi politik dari UIN Alauddin Dr Firdaus Muhammad, menjelaskan bahwa bakal calon petahana menguat di pilwali. Bahkan bisa kotak kosong seperti di Kabupaten Gowa, Soppeng, serta Maros. “Sebaliknya, pendatang baru kesulitan konsolidasi akibat pandemi,” ujarnya.
Dosen politik Unibos Dr Arief Wicaksono, menilai jika sosok atau calon wali kota yang rajin menyapa masyarakat, turun ke bawah membantu dengan kreatif, dengan tetap melaksanakan protokol covid-19 yang akan lebih tinggi elektabilitasnya ketimbang, calon yang hanya bermain gambar di dunia maya. Atau sekadar numpang memberikan nasihat kesehatan di media promosi luar ruang.
Apalagi dengan adanya covid, banyak lapisan masyarakat yang tiba-tiba hidupnya sulit. Mungkin karena dagangannya tidak laku, atau diberhentikan dari tempat kerjanya.
”Nah, raihan elektabilitas yang relatif baik itu hanya bisa dicapai oleh calon dengan kapasitas dan kapabilitas yang baik pula. Dengan kata lain, hanya calon yang paling sering terlihat turun ke bawah, yang nanti akan panen elektabilitas. Selain itu, mungkin relatif tidak akan diperhatikan oleh masyarakat,” jelas Arief. (rif)

