pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Kandangkala Dimaki Hingga Nyaris Pingsan

Ahmad M, Petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Makassar (2-Habis)

TERNYATA, menjadi seorang petugas pemadam kebakaran selain dituntut bekerja selama 2 kali 24 jam. Tak jarang pula, Ahmad bersama rekan-rekannya mendapatkan cacian atau sambutan kurang menyenangkan dari warga.

Laporan: ARIF AL QADRY

Ia seringkali dicaci bahkan dipukuli jika petugas pemadam kebakaran datang terlambat, sampai menilai petugas tidak becus memadamkan api.
Ironisnya lagi, jika warga yang panik melihat kobaran api langsung merampas selang air dari tangan petugas untuk ikut menyemprotkan air ke lokasi kebakaran.
Hal tersebut menurut Ahmad sangat menganggu kerja petugas pemadam kebakaran. Pasalnya, para petugas pemadam yang memiliki target untuk menjinakkan api secepatnya harus terganggu oleh aksi para warga yang terkesan tidak sabar melihat usaha para sang penakluk api.
“Kami kadang mendapatkan cacian di lokasi kebakaran. Mereka melontarkan kata-kata tolol, lama, kurang armada atau ada juga yang langsung merampas selang air dari kita,” jelas Ahmad.
Bahkan, ujar dia, suka dukanya kalau ada warga yang tidak sabaran menunggu armada datang dan melihat proses yang kita lakukan langsung marah dan memukul petugas atau kaca mobil pemadam. Padahal, kita tidak punya niat buruk untuk memperlambat tugas, sebagai petugas pemadam harus dituntut berusaha keras menjinakkan api sebelum merembes ke lokasi, bahkan jika sampai memakan korban.
“Kalau kita dapat menjinakkan api dengan waktu yang cukup singkat. Kami juga memiliki perasaan yang lega dan puas meski warga tidak memberikan pujian,” katanya.
Meski begitu, jelas Ahmad, dia juga kadang mendapati warga yang hendak berusaha bersama petugas untuk memadamkan api, meski warga menghabiskan air dari got yang diisi di ember lalu menyiram lokasi yang terbakar.
“Ada juga sebagian warga yang berinisiatif untuk membantu kerja petugas pemadam dengan cara menguras air dari got dengan menggunakan ember lalu menyiramkan air got ke rumah atau bangunan yang terbakar. Padahal tujuan kami dan warga itu sama, yaitu dapat segera mungkin memadamkan api,” katanya.
Ahmad juga mengaku, beberapa kali nyaris pingsan di dalam bangunan yang terbakar setelah kekurangan oksigen. Untungnya, beberapa rekannya lekas membantu menyelamatkannya keluar dari bangunan yang dipenuhi asap dan dikelilingi api dengan suhu yang cukup panas.
“Saya dulu hampir pingsan waktu memadamkan api di gedung pasar sentral. Waktu itu kondisi saya kurang sehat, dan secara mendadak saya mendapatkan tugas dan langsung turun ke lokasi untuk memadamkan api,” kisahnya.
Waktu itu, dia berada di dalam gedung untuk memadamkan api dan tiba tiba penglihatannya berubah menjadi gelap, hawa panas semakin terasa dari semua sisi.”Meski baju saya basah karena keringat, tetap saya merasakan hawa panas menyelimuti. Mungkin karena kekurangan oksigen, saya tiba-tiba merasa dada sesak dan sudah tidak mampu lagi berdiri seperti mau jatuh. Untungnya, salah seorang teman yang tepat berada di belakang, menolong saya dengan cara merangkul dan mengarahkan saya menuju pintu keluar untuk mencari udara segar dan memperbaiki perasaan,” ungkapnya.
Meskipun profesi yang dilakukan Ahmad terbilang cukup berbahaya, tapi dia mengaku sangat mencintai profesinya. Seperti ia mencintai keluarganya sendiri. Ia juga mengaku, semangatnya dalam bekerja melawan api karena sang istri dan anak-anaknya mendukung dan setia memberikan motivasi dan semangat setiap melangkah meninggalkan rumah untuk bekerja menolong orang.
“Biarpun profesi yang saya geluti sudah sekitar 19 tahun lamanya terbilang cukup berbahaya. Saya tetap mencintai profesi saya ini. Selain untuk menolong orang lain, saya juga dapat menghidupi keluarga saya dan tetap menyekolahkan anak anak saya,” tegasnya.
Dia juga berharap ke Wali Kota Makassar, Romdhan Pomanto dan Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal agar tetap memperhatikan kesejahteraan para sang penakluk api. Apalagi dengan melihat kebutuhan yang hampir setiap tahun naik membuat dia harus lebih ekstra memutar otak untuk mengelolah keuangan agar bisa cukup memenuhi kebutuhan keluarga.
Ahmad mengaku pertama kali bekerja sebagai petugas pemadam di awal tahun 1998 yang dimana saat itu dia masih berstatus honorer dengan upah sebesar Rp75 ribu.
“Saya ingat waktu awal kerja saya di tahun 1998. Saya masih mengantongi honor sebesar Rp75 ribu. Selanjutnya tahun 2002 saya sudah mendapatkan upah sebesar Rp250 ribu dan proses itu semua saya nikmati dengan penuh keikhlasan,” katanya.
Karena kesabaran Ahmad dalam menjalani pekerjaan meski upah yang dia dapatkan tidak sebanding dengan resiko pekerjaanya, di tahun 2008, Ahmad diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) dengan gaji yang ia dapatkan naik menjadi Rp500 ribu/ bulan.
“Saya merasa senang terangkat PNS Pemkot Makassar dengan pangkat Dandru 3 B. Gaji awal yang saya dapatkan Rp500 ribu. Tapi, saya tetap memiliki harapan dan berharap kembali sukses mewujudkan harapan untuk tetap menjadi orang yang dibutuhkan masyarakat,” tukasnya.(arf/b)



×


Kandangkala Dimaki Hingga Nyaris Pingsan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar