pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Julia Putri Noor, Founder Yayasan JPN

KASUS kekerasan seksual dan pelecehan terhadap kian marak akhir-akhir ini. Pelakunya tidak jarang dari orang-orang terdekat. Karena itu sangat penting untuk memberikan edukasi serta proteksi bagi anak agar terhidar dari praktik berbahaya tersebut.

JULIA Putri Noor, Founder Jendela Pendidikan Nusantara (JPN) yang berkedudukan di Jakarta menyampaikan hal itu ketika menjadi narasumber dalam siniar (podcast) untuk kanal Youtube Berita Kota Makassar, Senin (10/1). Wanita berhijab asal Makassar ini sekarang lebih banyak fokus pada kegiatan sosial. Menjadi pemerhati anak, memberi edukasi serta pendidikan.
Ia menekuni dunia filantropi sejak tahun 2004. Ketika itu dirinya bergerak sendiri. Namun seiring perjalanan waktu, aktivitas Julia di bidang ini semakin bertambah. Dia pun membentuk yayasan.
”Awalnya di Yogyakarta. Saya tidak memainkan politik di sini. Tapi lebih pada edukasi dan sosialnya. Ibaratnya bibit tanaman yang dipertahankan hingga saat ini,” ujarnya.
Saat ini, JPN sudah terbentuk pada sejumlah kabupaten/kota di Sulsel. Secara legalitas, lembaga ini disahkan tahun 2013.
”Sekarang ini lagi booming tentang hal-hal tentang edukasi, khususnya terkait kejahatan seksual di dunia pendidikan. Sementara kami sudah bergerak dari beberapa tahun yang lalu untuk mensosialisasikan itu agar anak-anak lebih melek pada hal-hal yang berbahaya, yang mungkin saja halus dan tak terlihat,” terangnya.
Ia lalu menyebut praktik grooming. Modus pelecehan terhadap anak ini sangat jarang diketahui. Karena biasanya anak diangkat, dipuji-puji hingga akhirnya mendapat pelecehan.

Bagaimana dengan body shaming? Putri mengakui hal itu memang berbahaya. Namun ketika sudah dewasa akan menjadi sebuah kenangan.
”Ketika kecil dicalla-calla (bahasa Makassar terkait perundungan), waktu dewasa kan kita biasa ketemu dan meminta maaf akan hal-hal yang sudah lalu. Tapi bagi anak-anak sekarang hal itu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Padahal seharusnya tidak terpengaruh secara berlebihan. Karena orang mengatakan apapun terhadap dirinya, kamu yang mengetahui dirimu sendiri. Itu yang saya selalu tanamkan ke anak-anak. Semakin orang membicarakan kamu, semakin besar peluang kamu untuk berkembang,” jelasnya.
”Yang mengetahui untuk memperbaiki diri adalah kita sendiri. Itu yang saya edukasi ke teman-teman. Juga kepada adik-adik dan anak-anak di sekolah. Percaya pada dirimu sendiri. Itu yang terbaik bagi dirimu,” tambahnya.

Ditanya soal praktik kekerasan seksual di lingkungan sekolah agama, Putri menyebut hal itu berawal dari grooming. Pelakunya adalah orang terdekat, yang dihargai, dihormati dan sering dijadikan idola.
”Edukasi yang perlu disampaikan di sini adalah kita harus punya batas terhadap orang-orang terdekat, bahkan yang menjadi idola. Hendaknya memilih kepekaan diri. Alarm diri harus diaktifkan. Karena kalau ada hal di luar akal sehat, anak-anak harus tahu batasan mana yang bisa disentuh. Mereka harus paham itu,” tandasnya.
Diakui bahwa kepekaan di zaman modern sekarang ini sangat tergerus. Insting terhalus tidak lagi terpakai. Sementara kalau itu ada, dalam marabahaya seperti apapun pasti akan bergerak untuk memproteksi diri.
”Harapan saya ke depan bagaimana sekolah-sekolah bisa memberikan edukasi di luar dari program. Memperkaya anak-anak untuk menguatkan jiwa, dan instingnya hidup untuk memproteksi dirinya secara dini,” jelasnya.
Menurut Putri, ada banyak hal terkait pelecehan dan kekerasan seksual yang tidak terdeteksi dan tidak terlihat. Karena itu yang bisa dilakukan adalah memassfikan edukasi terhadap anak. Termasuk menambah kegiatan ekstrakurikuler karakter building dan social responsive. (*/rus)




×


Julia Putri Noor, Founder Yayasan JPN

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link