MAKASSAR, BKM — Angin segar sampai ke telinga Yusri, warga Toddopuli Raya, Kelurahan Borong, Kecamatan Manggala. Pagar beton yang mengelilingi rumahnya selama dua tahun akhirnya akan dibongkar.
Yusri mendapat pemberitahuan dari pihak kelurahan. Bahwa pagar beton setinggi dua meter yang mengelilingi rumahnya segera dibongkar. Saat ini tinggal menunggu desain jalan dari Lurah.
Hal tersebut dipastikan Yusri setelah Lurah Borong, Kecamatan Manggala, Muhammad Yahya, menemui pemilik lahan berulang kali dan melakukan musyawarah.
Akhirnya, upaya Yahya memperjuangkan jalan untuk tiga kepala keluarga itu berhasil.
“Alhamdulillah. Rencananya setelah ada kesepakatan tanda tangan seluruh pemilik lahan termasuk pemilik SPBU dan warga sekitar ini kita bongkar kalau tidak ada halangan tergantung cuaca kalau tidak hujan,” ujar Yahya, Selasa (22/2).
Yahya mengatakan, pihaknya berencana membongkar beton bagian samping yang sudah dipasangi pagar besi. Pemilik lahan juga sudah mengizinkan.
Pemilik lahan menyepakati akan membuka ruang sebesar dua meter agar bisa dilalui oleh Yusri dan dua kepala keluarga lainnya. Setelah itu baru diperbaiki dengan cara dipaving.
“Panjangnya 60 meter dan lebar dua meter. Masih berbentuk tanah merah, jadi setelah dibongkar rencana dipaving,” tuturnya.
Yahya pun berterima kasih ke pemilik lahan dan semua pihak yang sudah turut membantu. Ia mengatakan lorong itu jadi bukti bahwa filosofi Sipakalebbi, Sipakatau dan Sipakainge masih dipegang teguh oleh warga Makassar hingga saat ini.
Seperti diketahui sebelumnya, kabar tiga kepala keluarga yang terisolir karena rumahnya terkurung tembok viral di media sosial. Warga Jalan Toddopuli Raya itu tak bisa beraktivitas dengan bebas.
Rumahnya terkurung oleh tembok kampus, SPBU, rumah warga dan perumahan. Rumah Yusri dikelilingi oleh pagar sekitar dua hingga tiga meter. Dari depan, samping, maupun belakang.
Yusri mengaku sudah dua tahun terpaksa memanjat tembok jika ingin keluar masuk rumahnya. Keluarganya terpaksa memasang tangga kayu di samping kampus yang temboknya lebih rendah.
Yusri mengatakan tak hanya rumahnya yang terkurung tembok. Satu rumah lainnya milik Sugeng juga mengalami hal yang sama.
Sementara, ada tiga kepala keluarga yang tinggal di situ. Mereka juga punya anak yang masih kecil sehingga sulit bersosialisasi di luar karena tak punya akses. (jun)

