TIDAK semua orang ingin terjun menjadi relawan atau lazim disebut volunteer. Mereka beranggapan relawan hanya menghabiskan waktu karena lebih banyak menyediakan waktunya demi organisasi daripada keluarga.
Laporan: ARIF AL QADRY
Namun mereka tidak berfikir, bahwa menjadi relawan adalah perjuangan untuk merubah bangsa semakin baik. Dan keberadaan mereka pasti sangat dibanggakan oleh negara.
Apalagi, semakin banyak relawan di suatu negara, maka negara tersebut semakin maju karena memiliki nilai sosial yang tinggi.
Ketika menjadi relawan seseorang harus mampu mendedikasikan kemampuannya secara ikhlas untuk pengembangan pribadi dan organisasinya.
Kerja-kerja ikhlas tersebut juga dilakoni Karsia Tahir (30) tahun. Dia mulai berkecimpung sebagai relawan pendidikan setelah hatinya tergugah melihat masih banyaknya anak-anak di Kota Makassar yang putus sekolah. Bahkan mereka justru banyak yang memilih bekerja serabutan untuk membantu orang tua agar tetap bertahan hidup.”Banyak anak tidak lagi ingin bersekolah. Mereka lebih memilih menjadi pemulung mencari uang. Dalam hidupnya hanya uang dan uang,” ujar Cia sapaan akrabnya saat ditemui penulis.
Setiap hari, Cia berusaha sabar untuk membujuk anak-anak kembali ke sekolah. Bahkan jika ada yang tidak mau bersekolah, Cia memilih untuk mengajarkan baca tulis di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Antang.
“Banyak anak yang sulit untuk meluangkan waktu belajar. Saya mencoba untuk tetap membujuk dan merayu mereka, termasuk memberikan pelatihan keterampilan dan pengetahuan umum seperti apa yang di ajarkan di sekolah,” kata Cia.
Bahkan metode mengajar yang diterapkan Cia cukup berbeda dengan guru-guru di sekolah. Karena untuk mengambil hati anak-anak yang putus sekolah agar bisa ikut belajar sangat diperlukan pendekatan persuasif.
“Kalau anak anak yang putus sekolah dan hampir sebagian besarnya memilih untuk bekerja pasti memiliki prinsip waktu adalah uang. Jadi bagaimana saya sendiri bisa mengambil hati anak anak supaya mereka bisa berfikir dengan bepajar dia bisa pintar dan lancar mendapat uang,” kata Cia yang juga pendamping Pengurangan Pekerja Anak Program Keluarga Harapan (PPA PKH).
Setiap hari dirinya mengaku bisa mengajar tujuh orang anak yang putus sekolah. Kadang, aktifitas belajar mengajar yang dia lakukan juga sering terpisah atau tidak secara bersamaan. Dia mengaku, memulai terjun menjadi relawan pendidikan sejak tahun 1998 hingga saat ini, dan tidak mau menerima imbalan dari anak-anak putus sekolah.
“Harapan saya cuman satu, bagaimana anak didik saya bisa menggunakan seragam seperti anak yang lainnya. Dan rasa bangga itu sudah sering saya rasa karena ketika saya jalan, kadang ada anak pakai seragam putih biru menegur saya dan memanggil saya ibu guru. Saya baru tahu kalau anak itu yang sudah menggunakan sergam sekolah adalah anak didik saya. Maklum mungkin sudah sedikit tua ataukah sudah banyak anak yang pernah saya ajar,” katanya.

