MAKASSAR, BKM– Suasana di lingkungan sekolah SMAN 21 Makassar kini dijaga aparat kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Makassar. Penjagaan dilakukan pascaaksi demo orang tua siswa yang menginginkan anaknya tetap bersekolah, meski pihak sekolah tidak menerima.
Imbasnya juga, Kepala SMAN 21 Makassar, Armin Amri dinonaktifkan Dinas Pendidikan Sulsel, karena dinilai tidak tegas dalam menangani kisruh penerimaan siswa baru pada Juni lalu.
BKM yang berada di lokasi SMAN 21 melihat kondisi sekolah sudah tampak kondusif.
Bahkan, Pelaksana Harian (Plh) Kepala SMAN 21 Makassar, Nur Laely Basir, mengatakan, persoalannya sudah kondusif. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dimana masih banyak riak-riak dan demo siswa untuk menerobos masuk bersekolah.
“Ada oknum yang merecoki anak-anak ini kasian untuk dijanjikan masuk disini, entah siapa. Ada yang menganggu stabilitasinya ini anak-anak. Saya tidak tahu apa maunya ini orang tu,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/11).
Nur Laely juga mengakui, sudah ada sebanyak 14 siswa yang diundang ke sekolah untuk membicarakan perihal keinginan dan jalan keluarnya.
“Senin lalu empat siswa yang datang, hari ini (kemarin-red) ada 14 siswa. Mereka menerobos masuk belajar di kelas. Kita sudah bicara dengan mereka dan mereka mau ji sekolah di swasta, ada juga yang minta dicarikan sekolah dan saya siap bantu. Tapi memang masih ada juga siswa yang tetap bertahan untuk bisa bersekolah di SMAN 21,” tuturnya.
Pengawas Pendidikan Sulsel ini menambahkan, masalah yang mengeluti SMAN 21 adalah persoalan miss komunikasi saja, sehingga siswa dan kepsek yang menjadi korban didalamnya.
“Sekolah juga mustahil bisa menambah kouta di Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sebab sudah berakhir, bahkan sudah dipasang di depan pagar besar-besar. Apalagi SMAN 21 telah menerima 378 siswa yang terbagi di 11 Kelas,” katanya.
Diketahui, penonaktifan Kepala SMA 21 melalui surat resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel yang ditandatangani Kadis Pendidikan, Irman Yasin Limpo.
Irman membenarkan jika Kasek SMAN 21 dinonaktifkan untuk sementara. Alasannya, mengkondusifkan suasana di sekolah tersebut. Untuk sementara, posisi kasek dipercayakan ke Koordinator Pengawas (Korwas) Disdik, Nur Laely Basir.
Menurut Irman, Armin tidak mampu mengendalikan situasi ketika ada desakan dari sejumlah orang tua yang memaksakan anaknya masuk ke sekolah tersebut. Akibatnya, 18 siswa masuk ke sekolah tersebut. Walaupun setelah itu, satu per satu siswa yang dimasukkan secara paksa ke sana mengundurkan diri.
“Kenapa nonaktifkan kasek karena kita mau ambil alih persoalan ini. Makanya kita turunkan pengawas untuk ambil alih. Ada keputusan dewan guru untuk tidak mengajar kalau anak yang dimasukkan secara paksa di sekolah itu masih ada, ” jelas None.
Selain itu, Armin dinilai terlambat melakukan koordinasi atau menginformasikan ke Disdik jika sejumlah orang tua yang memaksakan masuk ke SMAN 21 sudah mengancam para guru.
“Itu guru-guru diancam diculik. Ada rekamannya diancam untuk diculik. Mau didatangi rumahnya, mau dibuang ke kanal. Menurut saya, disitu keteledoran Kasek tidak merespon dengan cepat padahal ancaman sudah ada di depan mata,” ungkap lelaki yang akrab disapa None itu.
Akibat ancaman itu, lanjutnya, semua guru menjadi takut untuk mengajar. Itu juga yang membuat Disdik mengerahkan sejumlah Satpol PP untuk melakukan penjagaan di sekolah tersebut.
“Heran juga saya, ada ratusan ribu yang bermasalah dan tidak lolos penerimaan siswa baru, delapan orang ini mendesak untuk dimasukkan ke SMAN 21,” katanya.
Yang sangat disayangkan, delapan siswa yang ngotot dimasukkan itu sebenarnya sudah diterima di sekolah lain. Ada yang negeri ada juga yang swasta.
Kepala SMA 21 Makassar, Armin yang dikonfirmasi mengakui jika dirinya dinonaktifkan dan mulai Rabu (8/11) tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah yang berada di kawasan BTP (Bumi Tamalanrea Permai) Makassar.
“Suratnya saya terima. Saya dicopot jadi kepala sekolah, dan digantikan sama pengawas sekolah ibu Lily,” kata Armin.
Ia mengakui, jika dirinya dicopot gegara adanya gejolak masyarakat yang berujung demonstrasi di sekolah.
“Ini gara-gara demo orang tua siswa, mereka memaksakan anaknya masuk dan diterima di sekolah. Meski begitu, kami tetap komitmen dan tidak akan mengakomodir siswa lewat jendela,” ujarnya.
Menurutnya, memang beberapa hari ini ada gejolak di sekolah. Ada 18 siswa yang mendesak untuk dimasukkan ke SMA 21. Bahkan mereka sempat masuk dalam kelas, dan ikut belajar dengan siswa lainnya. Tapi kita tidak pernah akomodir, kita tidak mengakui itu,” cetusnya.
Menurut Armin, pencopotan dirinya merupakan hal yang wajar wajar saja. Ia merasa tidak ada yang salah, dan sampai saat ini dirinya tetap teguh dan komitmen dengan aturan penerimaan siswa baru.
“Biasaji ini, tidak adaji masalah. Jabatan itu ibarat daki, sekali digosok langsung hilang. Apapun resikonya kami terima,” tandasnya. (rhm-ita)

