BERAWAL dari sebuah pengabdian dan kepedulian terhadap anak-anak Indonesia, Yusri mendirikan komunitas dongeng yang ia namai “Aksikita”. Setiap akhir pekan, Yusri mendongengkan anak-anak di beberapa sekolah, anak-anak dilingkungan kumuh, sampai anak-anak penderita kanker di rumah sakit.
Laporan: NUGROHO
Tujuannya adalah memberikan nilai-nilai positif, membentuk karakter, dan memberikan kebahagiaan kepada anak-anak. Saat ini Aksikita tidak hanya dikenal di Makassar saja. Dalam dua tahun terakhir, Aksikita telah bisa memenuhi undangan mendongeng di beberapa daerah di Sulawesi Selatan.
Inisiatif untuk mempublikasikan kegiatan yang mereka lakukan di berbagai media sosial, Aksikita mulai dikenal luas. Hal ini jelas sangat mengundang apresiasi dari berbagai pihak. Teranyar, undangan mendongeng ke Bulukumba dan Bone pun berhasil dipenuhi.
Sambil penuh senyum, Yusri bercerita banyak pengalamannya saat mendongeng di daerah-daerah tersebut. Ia mengatakan jika semuanya lagi-lagi tanpa bayaran sedikitpun. Baginya, memberikan sesuatu yang bernilai positif kepada anak-anak sudah sangat berharga. Dan hal itu pulalah yang selalu ia tanamkan kepada para anggota Aksikita.
Saat di Bulukumba, Yusri mengatakan, jika saat itu ia diundang pada acara Indonesian Movement Project yang bekerjasama dengan Pemda Bulukumba. Dalam acaranya, sengaja disisipkan sehari penuh untuk Aksikita mendongeng. “Bahagia sekali rasanya bisa berbagi dengan anak-anak di Bulukumba,” kata Yusri.
Selain di Bulukumba, Yusri juga pernah diundang ke salah satu sekolah yang ada di Bone. Saat itu ia bekerjasama dengan Yayasan Kalla dalam program Desa Bina Bangkit. Tempatnya berada di sebuah desa yang terpencil. Medan untuk ke lokasi tersebut juga cukup berat karena harus melewati jalan berbatu. Namun Yusri mengatakan jika sulitnya menuju ke lokasi itu terbayarkan setelah melihat antusias anak-anak di sana yang sangat luar biasa. “Saat mendongeng, bukan hanya anak-anak dari sekolah itu saja yang datang, tapi banyak juga anak-anak dari desa sebelah yang datang. Mereka harus berjalan kaki ke sekolah itu, melewati sungai-sungai dan hutan. Luar biasa lah mereka,” ungkap Yusri sambil sesekali mengusap dada.
Beberapa kali Aksikita juga mendongeng di panti asuhan. Pernah juga di RSUD Wahidin Sudirohusodo, mendongeng di hadapan anak-anak penderita kanker. Dan banyak tempat lagi.
Banyak suka dan duka yang dialami yusri selama mengurus komunitas ini. Tak jarang orang mencemoohnya. Banyak orang beranggapan jika apa yang Yusri dan Aksikita lakukan hanyalah sekedar hiburan dan tak bermanfaat. Namun Yusri selalu yakin jika semua yang ia lakukan, sekecil apapun, pasti memiliki manfaat.
Membentuk karakter dan menyisipkan nilai-nilai moral kepada anak-anak tidak sembarang dilakukan. Bagi Yusri, dongeng merupakan salah satu media yang mempu melakukan itu secara santai dan tidak membebani pikiran anak. “Kalaupun nilainya tidak sampai, setidaknya kita bisa berbagi kebahagiaan. Kebahagiaan itu saya pikir bisa berpengaruh besar pada pertumbuhan psikologis anak,” jelas Yusri dengan penuh keyakinan.
Apa yang dilakukan Yusri dan para pendongeng Aksikita ternyata tak sia-sia. Melalui kerja ikhlasnya untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak, Yusri mendapatkan banyak apresiasi oleh berbagai kalangan.
Salah satunya adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setiap tahunnya, KPK rutin mengadakan Festival Anti Korupsi di beberapa daerah. Nah, nanti ketika akan diadakan di Makassar, Aksikita dipercaya untuk meng-handle pelaksanaannya. Hal ini karena kinerja Aksikita yang dinilai baik oleh KPK dalam membentuk karakter anti korupsi pada anak.
Untuk kedepannya, Yusri berharap jika akan lebih banyak lagi orang yang mengenal dongeng. Akan lebih banyak orang tua yang mendongegkan anaknya. Dan semakin banyak lagi anak-anak yang menuntut untuk didongengkan oleh orang tuanya. “Karena sebenarnya, fokus kami bukan hanya anak-anak, namun juga orang tuanya,” kata Yusri.
”Dongeng itu bukan hanya sekedar hiburan, namun bisa menanamkan nilai positif kepada anak, dan paling tidak bisa menebar kebahagiaan kepada anak sendiri,” tutup Yusri.(nug/war/b)

