MAKASSAR, BKM — Lima Piala Adipura kini bersemayam di Kota Makassar. Tiga diantaranya diraih secara berturut-turut di era pemerintahan Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto. Dua lainnya di masa Wali Kota Malik B Masry dan Ilham Arief Sirajuddin.
Danny mempersembahkan supremasi tertinggi di bidang pengelolaan kebersihan dan lingkungan hidup ini di tahun 2015 berupa Adipura Buana untuk kategori kota metropolitan, serta Adipura Kirana di tahun 2016 dan di 2017. Sementara Malik B Masry di tahun 1997 untuk kategori kota kecil. Sedang Ilham Arief Sirajuddin tahun 2013 pada kategori kota metropolitan.
Sebagai dedikasi terhadap raihan itu, dua tugu Adipura kini telah berdiri tegak di Anjungan Pantai Losari. Masing-masing Adipura tahun 1997 dan 2013. Sebelumnya, satu dari dua tugu ini tertancap di simpang tiga Jalan Urip Sumohardjo-Dr Leimena. Namun karena terdampak pelebaran jalan, tugu itu kemudian disatukan di Anjungan Pantai Losari.
Bagaimana dengan tiga Piala Adipura yang diraih di masa pemerintahan Danny? Apakah juga akan dibangunkan tugu sebagaimana dua Adipura terdahulu?
Ditemui di ujung rangkaian arak-arakan Piala Adipura 2017 di Anjungan Pantai Losari, Kamis (3/8), orang nomor satunya Makassar itu menjelaskan rencananya. Kata dia, dirinya tak punya keinginan ataupun rencana untuk membangun lagi tugu Adipura seperti yang ada saat ini.
Alasannya, membuat tugu megah seperti itu hanya menghambur-hamburkan uang. Juga tak terlalu penting menurutnya. Apalagi biaya untuk membangunnya cukup besar. Begitu pula tempatnya, dibutuhkan lokasi yang cukup luas.
”Kalau bagi saya tugu itu tidak penting. Yang penting adalah Adipura bisa menjadi sebuah kultur bagi kita. Adipura ini kan cuma lambang,” ujarnya.
Kalaupun nantinya di Kota Makassar ada pembangunan tugu untuk Adipura, Danny inginnya menggabungkan seluruh piala tersebut pada satu tugu. Hanya saja, hal itu masih perlu dipikirkan lagi.
”Saya lagi berpikir bagaimana baiknya kalau tugu-tugu sekarang dikumpulkan. Jadi satu tugu untuk lima adipura atau sepuluh Adipura. Jangan satu tugu satu Adipura. Supaya jangan gegara itu dikeluarkan lagi uang,” jelasnya.
Wali kota berlatar belakang konsultan ini menaksir, biaya untuk pembuatan tugu seperti yang telah ada di Anjungan Pantai Losari Makassar sedikitnya Rp15 juta untuk satu tugu.
“Yang saya rencanakan, batu yang kemarin batal ditandatangani presiden disimpan di Lapangan Karebosi Makassar supaya bisa ditulis penghargaan yang kita raih,” terangnya.
Diapun menegaskan, keberhasilan Kota Makassar kembali meraih piala Adipura tidak membuatnya puas. Sebab masih banyak tugas-tugas yang belum beres di Makassar. Khususnya kondisi pasar, drainase, taman dan pengelolaan bank sampah.
“Masih banyak yang harus dibenahi, seperti pasar, drainase, taman dan pengelolaan sampah. Itu yang harus diperbaiki. Karenanya, kita optimistis tahun depan bisa meraih penghargaan Adipura Kencana,” tandasnya.
Jika memang nantinya Danny jadi membangun tugu, anggota DPRD Makassar menyarankan agar peradaannya di lokasi yang strategis. Seperti Jalan Perintis Kemerdekaan atau TPA Antang.
”Kalau tugu itu saya kira pembangunannya sesuai kebutuhan saja. Yang terpenting, raihan Adipura tiga kali berturut-turut ini patut kita apresiasi,” kata Abdi Asmara, Ketua Komisi A DPRD Makassar, kemarin.
Sekrtaris Komisi A Mario David, menegaskan kedatangan piala Adipura memang perlu disambut oleh seluruh elemen masyarakat Makassar. Karena mereka juga telah memberi sumbangsih yang tidak sedikit selama proses penilaian berlangsung.
”Biarkan kebanggaan kita semua ini terpatri dalam hati. Kalaupun akan dibangun tugu untuk Adipura, saran saya lokasinya di jalan masuk tol Kecamatan Biringkanaya. Atau di TPA kita di Kecamatan Manggala,” sarannya.
Ketua Fraksi PDI Mesakh Raymond Rantepadang memandang wajar jika pemkot ingin membangun tugu sebagai bagian dari diraihnya Piala Adipura. “Saya kira sah-sah saja kalau Pemkot Makassar membangun sebuah menumen sebagai momentum dari torehan sejarah,” tandasnya. (arf-ita/rus)
MAKASSAR, BKM — Sidang perdana kasus dugaan korupsi yang menyeret Asisten I Pemkot Muh Sabri, berlangsung di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Makassar, kemarin. Selain Sabri yang jadi terdakwa, ada dua orang lainnya duduk di kursi pesakitan. Masing-masing Jayanti Ramli dan Rusdin.
Duduk di kursi terdakwa, ketiganya tampak rapi. Sabri mengenakan baju batik serta celana kain. Sepatu warna hitam yang dipakainya begitu mengkilap.
Tak jauh berbeda dengan dua terdakwa lainnya. Rusdin mengenakan baju lengan panjang warna biru, dipadu celana kain. Sabri dan Rusdin terlihat duduk bersebelahan.
Sementara Jayanti Ramli mengenakan baju batik dan jilbab warna abu-abu. Duduk agak jauh dari Sabri, Jayanti lebih banyak menundukkan kepala.
Banyak orang yang datang hendak menyaksikan persidangan ini. Salah satunya yang menarik perhatian adalah kehadiran Soedirjo Aliman alias Jen Tang. Ia terlihat berada di ruang sidang.
Namun, Jen Tang tidak berlama-lama di tempat ini. Selang 30 menit, ia bergegas meninggalkan ruangan, sebelum sidang digelar.
Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan, dipimpin oleh tiga orang majelis hakim yang diketuai Bonar Harianja serta dua hakim anggota, Cening Budiana dan Abdul Razak.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa ketiganya dalam kasus dugaan korupsi sewa lahan negara di Kelurahan Buloa, Kecamatan Tallo, Makassar. Sabri disebutkan berperan selaku fasilitator. Jayanti mengaku sebagai pemilik lahan. Sementara Rusdin selaku penerima pembayaran sewa lahan.
JPU Kamaria dalam dakwaannya menyebutkan, bila ketiga terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama hingga mengakibatkan timbulnya kerugian negara sebesar Rp500 juta.
“Terdakwa secara meyakinkan bersalah, telah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” tegas Kamaria.
Dalam dakwaannya, M Sabri melanggar pasal 2 ayat 1 dalam dakwaan primaer dan melanggar pasal 3 Undang-undang Tipikor dalam dakwaan subsider, serta junto pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Adapun hal yang memberatkan terdakwa Sabri, kata Kamaria, karena telah melakukan tindakan yang seolah-olah mengatasnamakan Pemerintah Kota Makassar. Tanpa sepengetahuan wali kota Makassar dalam kapasitasnya sebagai Asiten 1 Bidang Pemerintahan Pemkot Makassar.
Dalam dakwaannya, JPU juga menyebut sejumlah nama penting di berkas M Sabri. Salah satunya owner PT Jujur Jaya Sakti Soedirjo Aliman alias Jen Tang Bin Liem Eng Tek, dan laywer senior Ulil Amri. Jen Tang dan Ulil disebut selalu hadir di semua pertemuan proses sewa lahan tersebut.
Proses penyewaan lahan negara ini terjadi dan difasilitasi M Sabri. Ia mempertemukan pihak penyewa PT Pelindo dan PT Pembangunan Perumahan (PP) dengan Rusdin dan Jayanti Ramli selaku pengelola tanah garapan.
Bukti keduanya adalah pengelola tanah garapan didasari surat keterangan tanah garapan register nomor 31/BL/IX/2003 yang diketahui oleh Lurah Buloa Ambo Tuwo Rahman dan Camat Tallo AU Gippyng Lantara. Nomor registrasi 88/07/IX/2003 untuk Rusdin. Sementara Jayanti nomor registrasi 30/BL/IX/2003. Saksi lurah dan camat nomor registrasi 87/07/IX/2003.
“Dalam pertemuan pertama dihadiri Jen Tang selaku pimpinan Rusdin dan Jayanti di PT Jujur Jaya Sakti, serta Ulil Amri yang bertindak sebagai kuasa hukum keduanya,” beber Kamaria.
Kuasa hukum terdakwa M Sabri, Yusuf Gunco usai persidangan, mengatakan pihaknya keberatan dengan semua isi dakwaan yang dibacakan JPU dalam persidangan.
“Kami akan eksepsi dalam sidang lanjutannya nanti. Poin-poin eksepsinya nanti juga akan kita bacakan karena kita akan susun dulu,” tandasnya.
Menurut dia, kliennya tidak pernah hadir bahkan terlibat langsung, dalam proses penentuan harga sewa lahan tersebut, maupun pada proses pembayaran sewa menyewa lahan itu. (mat/rus)
MAKASSAR, BKM — Drama pembobolan brankas Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar memasuki tahap baru. Dua pria yang menjadi pelaku berhasil ditangkap. Masing-masing Hunawa (40) asal Ambon, dan Muh Iwan (29) warga Biringkanaya.
Hunawa diciduk anggota Resmob Polrestabes Makassar di Maluku Tengah, Ambon, Minggu (30/7). Ia bahkan terpaksa dilumpuhkan dengan tembakan pada kedua lututnya.
Demikian pula Muh Irwan. Saat hendak ditangkap di rumahnya di Biringkanaya, Senin malam (31/7), ia mencoba melarikan diri. Kakinya yang sebelah kiri juga ditembak.
Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Endi Sutendi didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani merilis pengungkapan kasus ini di mapolrestabes, kemarin. Ia menjelaskan, keberhasilan menangkap kedua pelaku berdasarkan sidik jari yang melengket di brankas.
”Ketika dibuka di laptop, sidik jarinya langsung terbaca. Tercantum identitas Hunawa yang beralamat di Ambon, dan Muh Iwan tinggal di Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanaya. Terungkap karena mereka sudah menggunakan KTP elektronik, sehingga mudah teridentifikasi identitas dan alamatnya,” jelas Endi.
Berdasarkan fakta itu, polisi langsung terbang ke Ambon. Diback up anggota Polres Ambon, aparat langsung melakukan pengejaran terhadap Hunawa. Setelah keberadaannya diketahui, pelaku bukannya menyerah. Malah mencoba melarikan diri.
Tak ingin buruannya kabur, polisi mencoba memberi tembakan peringatan. Namun pelaku tak menggubrisnya. Tindakan tegas diambil. Moncong pistol diarahkan pada kedua kakinya, hingga akhirnya Hunawa tak lagi bisa lari.
Selanjutnya tersangka dibawa ke Makassar dengan menggunakan pesawat. Tiba di bandara internasional Sultan Hasanuddin, Senin malam (31/7).
Dibawa serta barang bukti berupa uang hasil kejahatan sebesar Rp253 juta. Sebagian telah dipakai untuk membeli dua unit motor. Kendaraan roda dua itu kini dititip di Polres Ambon.
BKM mencoba meminta keterangan dari tersangka Hunawa. Namun dia memilih bungkam.
”Tersangka Muh Irwan ditangkap di Biringkanaya berdasarkan keterangan tersangka Hunawa yang ditangkap di Ambon. Hunawa merupakan pelaku utama yang membobol brankas. Sementara Muh Irwan membawa keluar uang yang disimpan dalam kantung,” jelas Endi.
Saat beraksi, lanjut Kapolrestabes, pelaku ada empat orang. Dua orang yang bertugas berjaga-jaga di luar kawasan kantor PDAM. Sementara dua lainnya bertindak selaku eksekutor.
”Sebelum melakukan aksinya, pelaku beberapa kali datang di kantor PDAM. Mereka berbaur dengan masyarakat lain. Tersangka berpura-pura membayar rekening air sambil memperhatikan situasi ruangan keuangan. Dari hasil pantauan pelaku, di dalam ruangan itu diketahui memiliki sebuah brankas,” terang Endi lagi.
Berbekal hasil pengamatannya, pelaku kemudian datang pada Minggu (24/7) pukul 22.30 Wita. Tersangka masuk area PDAM dengan mobil pada pukul 00.00 Wita. Mereka mengaku sebagai karyawan PDAM dan berhasil melewati pos Satpam. Pukul 02.00 Wita tersangka keluar dari area kantor dan tidak ditahan oleh Satpam.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Anwar mengemukakan, dari keterangan tersangka ia tidak mengetahui jumlah uang dalam brankas seperti dilaporkan pihak PDAM sebesar Rp1,2 miliar.
”Yang jelas, tersangka mengambil uang dalam brankas dan langsung pergi. Sebagian sudah dipakai. Sebagian lagi dibawa kabur dua orang rekannya yang masih buron,” jelas Anwar.
Kasat Reskrim menegaskan, dari hasil pemeriksaan, tidak ada kaitan orang lain ataupun keterlibatan pihak PDAM. Melainkan tersangka sendiri yang membobol brankas. Apalagi mereka merupakan residivis dalam berbagai kasus.
”Tersangka Muh Iwan sudah beberapa kali masuk keluar penjara dalam kasus pencurian laptop dan brankas di tol. Keterangan tersangka masih dikembangkan guna mencari dua rekannya yang masih buron,” terang Anwar.
Pada hari yang sama, kemarin, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo secara mendadak melakukan kunjungan ke PDAM Makassar. Setiba di kantor yang berlokasi di Jalan Ratulangi ini, ia langsung menuju lantai 2. Pertemuan tertutup pun digelar dengan Direktur Utama (Dirut) PDAM, Haris Yasin Limpo yang juga adik kandung SYL.
Pertemuan itu dilakukan sekitar 30 menit. Melibatkan Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda), Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulsel Andi Asmanto Baso Lewa.
Usai pertemuan tertutup, kepada wartawan, Syahrul mengaku kedatangannya hanya sebatas jalan-jalan biasa. “Sejujurnya saya datang jalan-jalan saja. Saya juga sudah telepon Pak Wali Kota kalau akan ke sini,” ungkapnya.
Orang nomor satu di Sulsel itu mengatakan pembicaraanya dengan Dirut PDAM hanya sebatas menanyakan pelayanan terkait air bersih kepada masyarakat
Namun, Syahrul akhirnya menjelaskan jika tujuan lain dirinya ke ke tempat ini adalah untuk menanyakan kondisi PDAM pascakebakaran dan pencurian terjadi.
“Yang sangat menarik, kalau gubernur datang dan tentu saja saya sudah telepon Pak Wali Kota untuk ke sini, karena baru habis kecurian kan. Terus belum selesai kecurian ada kebakaran. Jadi saya bilang ada apa nih, kenapa begitu,” cetusnya.
Tentu saja, lanjutnya, untuk kasus pencurian yang terjadi, saat ini sudah ditangani polda. “Kita semua tidak campuri dan tidak boleh masuk lagi,” jelasnya.
Namun terkait kebakaran, dia sempat bertanya-tanya apakah tidak ada unsur politis yang terlibat sehingga peristiwa itu terjadi. “Iya saya sempat bertanya-tanya, tidak adajikah politisnya inikah. Sebagai kakak dan gubernur tentu saya akan pertanyakan. Kan selesai urusan saya,” ungkap Syahrul.
Kalau memang demikian, pihaknya menyerahkan sepenuhnya ke aparat kepolisian dalam hal ini Polda untuk konsentrasi dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Selain itu, pihaknya juga akan langsung menggelar rapat dengan Kominda dan komunikasi intelijen dan kepolisian serta kabinda. Termasuk melibatkan unsur densus untuk memonitor keamanan di daerah ini.
Direktur Utama PDAM Kota Makassar Haris Yasin Limpo, menjelaskan kunjungan gubernur adalah silaturahmi biasa untuk mempertanyakan pelayanan di PDAM.
“Intinya beliau hanya menanyakan pelayanan kita ke masyarakat apakah tidak terganggu dengan apa yang terjadi sekarang. Kita bilang tidak terganggu. Semua normal saja bisa diantisipasi karena SOP nya jelas,” ungkap Haris.
Dia menekankan, pihaknya tidak bisa memberi jawaban terkait kasus pencurian karena sepenuhnya sudah ditangani aparat kepolisian.
“Untuk kasus pencurian, saya tidak bisa jawab itu karena sudah menjadi kewenangan polisi. Kami sudah serahkan sepenuhnya ke kepolisian. Nanti biar polisi yang ungkap apa kejadiannya, ada apa dan segala macam. Kami konsentrasi betul dulu ke persoalan pelayanan,” kelit Haris.
Dia mengaku, pihaknya terus membangun stigma positif dengan meningkatkan pelayanan agar masyarakat melihat jika PDAM tidak terpengaruh dengan peristiwa tersebut. Layanan tetap jalan seperti biasa.
Bakal calon wali kota Makassar menegaskan, aparat kepolisian harus melakukan penegakan hukum terhadap para pelaku kriminal, walaupun sekiranya dalam pengembangan kasus ditemukan ada orang dalam yang terlibat dalam peristiwa tersebut. (jul-rhm/rus)
TERKADANG, prestasi terlihat ketika seseorang mendapat sebuah penghargaan. Namun nyatanya, menjadi orang yang membuat orang lain mendapat penghargaan juga merupakan sebuah prestise. Karena kemampuan seperti ini tidak semua orang memilikinya.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DALAM membimbing seseorang, ternyata dibutuhkan skill yang mendalam. Sebab tidak semua orang yang dibimbing memiliki karakter yang sama.
Metode pembimbinganpun harus disesuaikan dengan karakter dan tujuan orang tersebut. Jika salah metode, bukannya orang yang dibimbing akan meraih prestasi, namun malah sebaliknya.
Hal itu disadari betul oleh Muhtar, salah satu mentor matematika di Lembaga Bimbingan Belajar Ranu Prima College (Bimbel RPC). Selama ini ia khusus mengajar siswa bimbingan yang akan mengikuti ajang olimpiade. Dengan metodenya, tahun ini salah satu siswa bimbingannya berhasil mendapatkan emas di ajang olimpiade internasional yang diadakan di Singapura. Luar biasa.
Muhtar lahir dan dibesarkan di Kabupaten Barru. Pria 42 tahun ini adalah putra dari ayah bernama Dolom (almarhum) dan ibundanya Hajar. Ia merupakan alumni di Jurusan Matematika di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Saat BKM menyambangi tempatnya membimbing, suasana modern tampak di sana. Bahan pembelajarannya bukan menggunakan buku, melainkan dengan HP tablet. Papan tulis kaca terlihat besar di tempat tersebut. Namun siswanya lebih sering menggunakan layar televisi untuk materi pembelajaran.
Suasananyapun cukup tenang. Di tengah tempat bimbingan terdapat taman yang biasa digunakan oleh para siswa bersantai jika selesai pelajaran.
Namun yang tak kalah unik adalah metode pembelajaran yang diterapkan oleh Muhtar. Pria yang masih berstatus lajang ini tak pernah memaksakan para siswanya belajar dengan keras.
Ia senantiasa membuat siswanya belajar dengan santai. Disadari olehnya bahwa proses pembelajaran yan dilakukan dengan tekanan, maka hasilnya tak akan maksimal.
Maklum saja, sebagian besar anak bimbingannya adalah pelahar Sekolah Dasar (SD). Siswanyapun hanya berjumlah lima orang.
“Saya membimbing khusus bagi anak yang mau mengikuti olimpiade. Ya, jelas saja pasti tidak banyak. Di sini saya benar-benar membimbing mereka supaya bisa mendapatkan hasil yang maksimal,” jelas Muhtar.
Sebagian mentor mungkin saja selalu meminta para siswa mengerjakan soal. Hal ini dianggap bisa membiasakan para siswa.
Namun Muhtar justru memiliki metode yang berbeda. Ia percaya jika para siswa tidak diajarkan mulai dari konsep dasar pembelajaran, maka pembiasaan mengenai soal akan sia-sia. Untuk itu ia selalu mengajarkan konsep soal tersebut dari pengetahuan awal asal muasal soal.
Bukan buku yang menjadi patokan dasarnya, melainkan tablet. Ia merasa dengan menggunakan tablet maka siswa akan lebih banyak mendapatkan reverensi. “Siswa saya menggunakan tablet. Keunggulannya, referensi bisa disapatkan dengan mudah dan cepat,” kata Muhtar.
Selain itu, ia juga selalu mengunakan kurikulum yang berbeda dengan yang didapatkan siswa jika di sekolah. Alasannya, karena dalam setiap olimpiade yang diikuti para siswa, soal yang didapatkannya biasa melampaui yang diajarkan disekolahnya. Hal inilah yang membuat Muhtar mengambil metode berbeda.
Hasilnya sangat terlihat jelas. Salah satu siswanya saat ini yang bernama Andi Pangeran Maulana berhasil mendapatkan emas dalam olimpiade matematika tingkat Internasional di Singapura.
Siswa kelas 6 SD Islam Athirah ini berhasil menjadi salah satu siswa yang mengharumkan nama Indonesia di ajang olimpiade tersebut. Sebelum dibimbing oleh Muhtar, anak ini bahkan tidak berhasil lolos di ajang yang sama di tahun sebelumnya. (*/rus/b)
SEBAGIAN besar orang masih menganggap petugas kebersihan adalah pekerjaan kelas bawah. Namun pada kenyataannya, kota besar seperti Makassar begitu sangat membutuhkan tenaga mereka.
Jangan kira bahwa yang mampu memperindah kota hanya orang-orang perencana tata ruang kota saja. Tanpa petugas kebersihan, Makassar tentu tak akan mendapat Piala Adipura.
Karena itu, sudah sepatutnya jika wali kota memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para petugas kebersihan jika Makassar meraih Adipura. Selayaknya pemerintah yang bertugas mengonsep penataan kota, petugas kebersihan lebih berperan vital di dalamnya. Tanpa mereka, Makassar mungkin menjadi kota dengan lautan sampah.
Sumber dari situs resmi Pemerintah Kota Makassar, makassarkota.go.id menuliskan bahwa saat ini jumlah petugas kebersihan Kota Makassar sebanyak 128 orang. Dari jumlah itu, cukup menarik jika kita menelisik sepasang petugas kebersihan yang berstatus suami istri ini. Sang suami sebagai pengangkut sampah. Sedangkan istrinya bertugas menyapu jalanan.
BKM menemui mereka saat sedang bersama. Selasa pagi (1/8) sekitar pukul 06.30 di Jalan Malengkeri, sang suami sedang mengangkut sampah hasil sapuan istrinya. Walaupun sebagai petugas kebersihan, mereka tampak terlihat bahagia menjalaninya. Harmonis sekali.
Mari kita tengok kehidupan sehari-hari mereka. Sang suami, Zainuddin Dg Sima merupakan penduduk asal Kabupaten Jeneponto. Pria 53 tahun ini hijrah ke Makassar demi mencari kehidupan yang lebih baik.
Awalnya Zainuddin bekerja sebagai sopir truk kontainer. Ini digelutinya selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya beralih profesi menjadi pengangkut sampah lima bulan lalu.
Wajar saja ia pindah. Selama menjadi sopir truk ia hanya digaji sebesar Rp300 ribu per bulan. Jumlah yang begitu kecil, mengingat ia memiliki keluarga yang harus dihidupi.
Bersama istrinya, ia harus menghidupi keempat anaknya. Yang pertama adalah seorang wanita yang saat ini telah menikah. Sampai saat ini belum memiliki pekerjaan. Namun Zainuddin tidak terlalu terbebani olehnya. Karena sang anak telah memiliki suami yang bisa menghidupi, walaupun bekerja sebagai petugas kebersihan.
Anak keduanya adalah seorang pria dan telah menikah pula. Saat ini juga bekerja sebagai petugas kebersihan. Anak ketiga dan keempat masih bersekolah di SMPN 24 Makassar. Anak ketiganya kelas 3 dan yang keempat masih kelas 1.
Tiap pagi pukul 6 sampai pukul 11, Zainuddin yang beralamat di Jalan Dg Tata Lorong 2 ini sudah harus berkeliing mengangkut sampah. Ia memiliki jalur pengangkutan dari Jalan Alauddin sampai Jalan Alauddin II. Setelah selesai, barulah Zainuddin pulang untuk beristirahat sejenak.
Ia akan kembali mengangkut sampah saat sore hari tiba. Jadwalnya jika sore adalah dari pukul 15.00 sampai pukul 17.00 Wita. Hal ini ia lakukan setiap harinya.
Tidak ada kendala dalam menjalani kesehariannya. Ia merasa bahagia saat ini dibanding menjadi sopir truk kontainer, karena gajinya sekarang mencapai Rp1,7 juta per bulan. Satu-satunya kendala bagi Zainuddin adalah penyakitnya saat ini. Walaupun saat ini sudah agak baikan, namun penyakit livernya kadang sangat mengganggu pekerjaannya.
Istri Zainuddin, Saturia Dg. Baji memiliki aktivitas yang hampir sama. Ia adalah seorang penyapu jalanan. Tiap subuh hari setelah salat, ia harus turun ke jalanan untuk menyapu. Ia menyapu dari ujung Jalan Malengkeri sampai di Perumahan Graha Malengkeri. Sore hari ia kembali turun ke jalanan pukul 15.00 Wita. Secara rutin ia lakukan pekerjaan tersebut tiap harinya tanpa kenal lelah.
Pekerjaan ini telah Saturia mulai sejak setahun lalu. Lebih awal dari suaminya. Selama menjalani pekerjaannya, Saturia telah banyak mendapat suka duka. Bagian sukanya mungkin ia kini mendapat gaji yang lumayan besar baginya, yaitu Rp 1,7 juta per bulan. Berbeda ketika dulu yang hanya seorang ibu rumah tangga.
Sementara dukanya, ia kerap kali nyaris ditabrak mobil. “Kalau ditabrak, sampai sekarang belum pernah. Alhamdulillah. Tapi sering sekalima hampir kasiahn,” kata Saturia.
Ditanya soal pekerjaannya, ia merasa senang dengan apa yang ia jalani saat ini. Baginya, pekerjaannya sekarang sudah amat cukup. Diapun belum memiliki niat mencari pekerjaan lain.
“Enakji selama ini. Beginimo saja deh,” kata Saturia sambil tersenyum.
Saturia juga boleh berbangga hati. Karena saat penyerahan Piala Adipura ketiga kalinya, dirinya lah yang diutus oleh wali kota untuk menyambutnya di bandara.
Gaji yang ia dapatkanpun saat ini lancar tiap bulannya. Soal bantuan, ia juga beberapa kali memperolehnya dari pemerintah kota. Walaupun saat ini masih ingin menikmati pekerjaannya sebagai petugas kebersihan, Saturia juga sangat berharap jika di masa yang akan datang dirinya juga bisa sukses.
“Harapanku semoga nanti bisa sukses. He..he..he,” tutup Saturia. (nug/rus/b)
MAKASSAR, BKM — Siapa yang didukung Partai Hanura di pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel masih menunggu proses yang sedang berjalan. Meski demikian, kelihatannya arah dukungan elit partai besutan Wiranto ini sudah condong ke Ichsan Yasin Limpo (IYL).
Hal itu nampak ketika Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Hanura Oesman Sapta Oddang (OSO) memperkenalkan IYL di hadapan ribuan pengurus dan kader Partai Hanura pada pelantikan pengurus DPD Hanura Sulsel di Celebes Convention Center (CCC) Tanjung Bunga, Senin (31/7) petang.
“Hadir sahabat dekat saya, adinda Ichsan Yasin Limpo. Calon gubernur yang sudah siap. Ilham (Andi Ilhamsyah Mattalatta) atur tuh,” ucap OSO memperkenalkan IYL ketika memberikan sambutan.
Mendengar itu, IYL yang mengenakan kemeja putih langsung berdiri dari tempat duduknya, sambil disambut aplaus meriah dari ribuan pengurus dan kader yang hadir di pelantikan itu.
Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) ini juga menceritakan pengalaman masa lalunya di Sulsel. Termasuk bagaimana kedekatannya dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.
“Dulu kita punya perkumpulan. Di situ ada juga Pak Syahrul. Namanya Gembel. Tapi jangan salah, gembel itu singkatan dari gemar belajar,” ujar pengganti Wiranto ini.
Kedekatan IYL dengan pengurus dan kader Hanura cukup dekat. Hal tersebut terlihat ketika IYL disambut secara khusus.
Selain yel-yel Punggawa yang spontan menggema di ballroom saat IYL memasuki ruangan, mantan bupati Gowa dua periode ini juga diperkenalkan sebagai kandidat gubernur Sulsel. Nama IYL disebut sebagai satu-satunya kandidat gubernur oleh pewara (MC) kala memulai kegiatan pelantikan.
IYL yang duduk berdampingan dengan Ketua DPRD Sulsel HM Roem, terlihat menundukkan kepala, sambil sebagian kader dan pengurus memberikan aplaus atas kehadirannya.
Ketua DPD Hanura Sulsel Andi Ilhamsyah Mattalatta ketika memberikan sambutan, juga secara khusus memperkenalkan IYL sebagai kandidat gubernur Sulsel. “Hadir di sini, Bapak Ichsan Yasin Limpo. Insyaallah akan maju di pilgub Sulsel,” tandas Ilhamsyah Mattalatta yang disambut aplaus.
Selain memperkenalkan IYL, putra almarhum Andi Mattalatta ini juga mengingatkan kepada segenap pengurus dan kadernya untuk melakukan konsolidasi dalam mencapai target di momentum politik. Termasuk di perhelatan pilkada ke depannya. “Pengurus dan kader Hanura harus terus belajar, belajar dan belajar,” pungkas Ilhamsyah Mattalatta.
Sebelum masuk, IYL mendapat sambutan oleh Sekjen DPP Hanura Syarifuddin Suddin. Sudding sempat berbincang sejenak dengan IYL yang membahas persiapan menjelang pilgub Sulsel. “Lebih cepat bergerak itu lebih bagus, Pak,” kata anggota DPR RI ini kepada IYL.
OSO melantik 60 pengurus DPD Hanura Sulsel yang diketuai Andi Ilhamsyah Mattalatta. Ilhamsyah dalam sambutannya mengatakan jika Hanura memiliki target tinggi di pileg 2019.
Jika pemilu sebelumnya hanya berada di posisi 8, maka tahun 2019 targetnya adalah posisi 5. “Kita akan menempatkan kader kita di setiap DPRD dan di DPR RI. Kader kita ada yang masuk dari setiap provinsi,” tandas Ilhamsyah.
Pelantikan pengurus DPD Hanura Sulsel dihadiri Gubernur Syahrul Yasin Limpo, Abd Rivai Ras, Datuk Luwu Andi Maradang Mackulau, Wali Kota Makassar Ramdhan Pomanto, Wali Kota Palopo Judas Amir, mantan Plt Ketua DPD Bahar Ngitung, Wakil Ketua PDIP Sulsel Andi Ansyari Mangkona dan Nasran Mone.
Soal dukungan Hanura di pilgub, OSO yang ditemui sejumlah wartawan mengatakan masih menunggu keputusan dari DPD. “Kita belum tahu ya. Soalnya kan DPD baru dilantik hari ini. Jadi masih menunggu keputusan yang akan disampaiakan kepada saya nanti,” jelasnya.
Sementara Ilhamsyah menjawab secara diplomatis bila semuanya tergantung DPP. “Kita tergantung DPP nanti. Mereka pasti punya ketentuan sendiri untuk memutuskannya,” kata Ilham.
Saat ini sejumlah bakal calon gubernur ikut mendaftar di tim desk Pilkada Hanura. Diantaranya Nurdin Halid, Nurdin Abbullah, Abd Rivai Ras, Agus Arifin Nu’mang serta IYL. (nug/rif)
Penghargaan dan Sertifikat:
Copyright © 2026 Berita Kota Makassar. All Rights Reserved.

