BAGI masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar, kelompok sandiwara Petta Puang sudah tidak asing lagi. Mereka mementaskan aneka peran dari panggung ke panggung. Logat Bugis-Makassar menjadi senjata andalan.
Laporan: Rahma Amri
BERPECI, rambut dan kumis lebat yang memutih, menggunakan jas tutup dan bersarung, serta tak lupa tongkat yang menjadi penopang saat dirinya berjalan. Itulah Petta Puang.
Petta Puang adalah sosok tua yang feodal. Tetapi pada sisi lain, memiliki kearifan dan kecerdasan luar biasa, seperti kata “luar biasa” yang sering ia ucapkan. Ketidakseimbangan sikap emosional dan rasionalnya adalah ciri perwatakan yang ada padanya.
Tak banyak yang tahu jika sosok aristrokrat berdarah biru itu mampu diperankan secara total oleh seorang lelaki pecinta teater bernama Abdul Rodjak.
Meski seni teater dipelajari secara otodidak, namun lelaki kelahiran Makassar, 10 Oktober 1969 itu bisa disejajarkan dengan aktor-aktor teater besar di daerah ini.
Ihwal berdirinya rombongan sandiwara Petta Puang, menurut Abdul Rodjak, dimulai tahun 1992. Waktu itu, dirinya masih bergabung di Teater Mekar Buana. Ada kegiatan pertunjukan rakyat di Departemen Penerangan. Bersama beberapa rekannya, dikemas sebuah cerita bertema puang.
Ternyata, cerita itu mendapat tempat di hati masyarakat. Berproses dan kemudian terciptalah grup sandiwara Petta Puang. Bersama salah seorang sutradara teater, Bahar Merdu, grup itu perlahan namun pasti mulai dikenal masyarakat.
Dan hingga kini, sudah hampir 24 tahun, Petta Puang sudah memberi warna tersendiri bagi dunia teater di Sulsel khususnya, dan di tanah air umumnya.
Sejak awal terbentuk hingga kini, Abdul Rodjak secara konsisten mampu memerankan karakter Petta Puang menjadi sangat hidup. Bahkan menjadi ikon grup tersebut.
Dia mengaku, grup sandiwara ini dirintis secara ‘berdarah-darah’. Dari nol.
“Banyak cibiran, makian, dan kritik tajam. Tapi kita lewati tanpa memedulikan komentar yang ada. Ternyata, justru itu yang membuat survive dan bertahan hingga 24 tahun,” tuturnya kepada Berita Kota Makassar di ruang kerjanya, Kamis (14/1).
Dia menuturkan, dalam melakoni peran, pemain Grup Sandiwara Petta Puang mengacu pada pola pertunjukan rakyat dalam wacana akar budaya Bugis-Makassar dan sekitarnya.
Sehingga tidak heran jika setiap kesempatan tampil, kendati tujuan utamanya menghibur penonton, Petta Puang selalu menyelipkan kearifan-kearifan lokal dan budaya masyarakat Bugis-Makassar.
Sebagai Petta Puang, Abdul Rodjak selalu berupaya menjadi ‘mata pedang’ dalam menafsir perilaku masyarakat sekitarnya yang terus bergerak memasuki wilayah modernitas sosial. Dia harus cerdas dan punya kemampuan observasi untuk mendalami peran yang dilakonkan.
Kendati tema atau topik pertunjukan teater yang akan ditampilkan sesuai dengan pesanan yang punya hajatan, namun dirinya dituntut bisa berimprovisasi agar karakter Petta Puang tetap hidup dan tidak membosankan. Bukan sekadar pesanan sponsor.
Karakter Petta Puang diakui Rodjak memang agak unik. Hanya dengan telunjuk atau bahasa mata misalnya, penonton sudah bisa paham apakah Sang Petta Puang lagi marah atau menasihati.
Dan itu yang harus selalu dijaga oleh Abdul Rodjak.
“Ada gestur yang mengandung beribu bahasa dan dipahami penonton. Itu yang harus selalu dijaga,” ungkapnya..
Dia mengaku, sebenarnya Petta Puang bukanlah siapa-siapa. Ia hanyalah tokoh rekaan yang lahir dari imajinasi pemainnya.
Namun, Petta Puang dapat menjadi siapa saja, atau siapa saja adalah dia, tergantung tuntutan karakter. (*/rus/b)

