MENCARI rezeki memang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Manusia dituntut tetap ikhlas dan sabar menjalankan aktifitas hidupnya.
Laporan: JUNI SEWANG
Ikhlas dan sabar itulah yang menjadi kunci bagi Sapri Dg Sila (37) dalam melakoni hidup sebagai penjual kue tradisional buroncong.
Meskipun Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) giat melakukan penertiban Pedagang Kaki Lima (PK-5) di sepanjang Jalan Penghibur, dia masih tetap bertahan untuk berjualan di lokasi yang dilarang tersebut.
Menurutnya, tidak ada pilihan lain untuk tidak berjualan. Tanpa berjualan dia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan keluarga.
“Sekalipun harus kejar-kejaran dan main kucing-kucingan dengan petugas Satpol PP, saya tetap berjualan buroncong daripada pergi mencuri,” ucap Sapri.
Sapri mengaku, jika ada razia, dia sembunyi dulu, kalau pihak Satpol PP meninggalkan Pantai Losari dia berjualan kembali.
Lelaki asal Galesong Utara ini menambahkan, dia mulai mencampur bahan untuk dibuat buroncong pukul 04.00 Wita dini hari dan siap berangkat jualan keliling jam 05.30 Wita.
Tiap hari menggunakan bahan membuat buroncong, kelapa tua 3 biji, gula 1/2 kg, terigu 2 kg. Modal seluruhnya Rp50 ribu. Dari modal itu, Sapri bisa memperoleh hasil tiga kali lipat atau Rp150 ribu setiap harinya.
“Setiap pagi saya keliling menjual buroncong dan mulai berangkat dari rumah kontrakan di Jalan Gusung, Pasar Pattingaloang, pukul 05.00 Wita. Tujuan utama saya berjualan di Anjungan Pantai Losari. Lumayan hasilnya, sebab setiap minggu Pantai Losari ramai oleh warga kota yang berolah raga,” jelasnya.
Lebih jauh cerita Sapri, dia menjual buroncong tidak hanya pagi hari, pada sore hari dia juga melayani pembeli di Pantai Losari hingga larut malam pukul 22.30 Wita.
Bahkan, pria yang sudah puluhan tahun berjualan buroncong di Pantai Losari mengaku, tetap memilih berjualan kue buroncong agar makanan tradisional ini tetap bertahan dan jangan sampai dilupakan oleh anak-anak saat ini.
Yang lebih utama lagi, jelas Sapri, menjual kue buroncong untuk mempertahankan hidup bersama istri dan kedua anaknya yang masih kecil.
Baginya, berjualan di Pantai Losari merupakan lokasi yang menjanjikan. Apalagi, kawasan Pantai Losari jarang sepi pengunjung baik wisatawan lokal maupun manca negara.
Sambil mengangkat kue buroncong yang sudah berwarna coklat menggunakan gancu, Sapri mengaku menjual buroncong tidak selamanya untung, kadangkala jualannya juga sepi.”Menjual buroncong tidak selamanya untung. Kadangkala jika apes, saya tidak membawa pulang uang lebih, itupun hanya kembali modal saja. Setiap subuh saya meninggalkan rumah rumah kontrakan di Jalan Gusung, Pasar Pattingaloang,” katanya sambil sesekali mengusap keringat yang bercucuran di lehernya.
Ya, meski dipaksa keadaan, Sapri mengaku tak ingin menyerah begitu saja. Dia jalani hidup dengan ikhlas, tanpa mengenal kata menyerah. Dia percaya, suatu saat hidupnya pasti lebih baik dari yang sekarang.
Dia menambahkan, menekuni usaha kue buroncong sudah berpuluh tahun sejak masih bujangan hingga sudah berkeluarga.”Saya tidak punya keahlian untuk bekerja di tempat lain, sehingga mau tidak mau saya jualan buroncong saja yang penting halal,” ujarnya.
Menurut dia, untuk membuat buroncong sepintas gampang karena cukup menyediakan terigu, kelapa lalu diaduk dengan garam dan gula serta dicampur air secukupnya, setelah itu dipanggang dalam cetakan. Tetapi disinilah dituntut keahlian untuk mengaduk campuran bahan dengan benar.
“Campuran tidak boleh terlalu kental atau encer karena hasilnya bisa keras atau lembek. Kalau adonanya seperti itu pasti mempengeruhi selera pembeli,” katanya.(jun/b)

