MAKASSAR sebagai kota metropolitan menjanjikan banyak pekerjaan. Bukan hanya yang sifatnya permanen, tapi juga ‘dadakan’. Salah satunya sebagai tim survei.
LAPORAN: ARIF ALQADRI
PAGI hari di bawah jembatan flyover. Beberapa orang terlihat mengenakan rompi dengan warna mencolok, oranye. Sambil duduk bersila, mereka menempatkan alat khusus di atas paha.
Alat tersebut terbuat dari papan yang ukuran panjangnya sekitar 50 cm dan lebar 20 cm. Di atas papan itu terpasang beberapa alat khusus yang biasa dipakai untuk menghitung.
Mata mereka tidak lepas dari kendaraan yang lalulalang, baik dari arah Jalan Tol Reformasi, Urip Sumoharjo maupun AP Pettarani. Pada saat yang bersamaan, jari-jari tangan mereka bergerak di atas alat hitung yang ada di pangkuan.
Ya, mereka tengah menghitung kendaraan yang lewat di bawah flyover. Kegiatan ini merupakan bagian awal dari rencana pembangunan jalan tol layang dalam kota, yang oleh Pemerintah Kota Makassar dijadwalkan dimulai awal tahun 2017 mendatang.
Pekerjaan yang mereka lakukan di bawah flyover merupakan survei pengambilan data atau studi kelayakan berupa penghitungan volume kendaraan. Selain itu, ada pula penyelidikan tanah, pengukuran serta survei lainnya.
Untuk survei volume kendaraan, tim survei menghitung jumlah kendaraan jam melintas setiap jam. Mulai dari motor, mobil, angkutan umum, seperti bus, petepete dan angkutan barang, seperti mobil pick up roda empat, truk 2 as, 3 as, 4 as hingga 5 as.
Studi kelayakan dan survei pengambilan data dilaksanakan oleh PT Mitrapacific Consulindo Internasional yang telah ditunjuk oleh PT Bosowa Marga Nusantara (BMN), dengan mengeluarkan surat tugas dengan tembusan dari Wali Kota Makassar, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Makassar, Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, Dinas Perhubungan Kota Makassar dan Kasat Lantas Polrestabes Makassar.
Untuk pelaksanaan survei ini, PT Mitrapacific Consulindo Internasional mempekerjakan puluhan orang, yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Mereka yang bekerja sebagai tim survei ‘dadakan’ ini menghitung volume lalulintas selama seminggu, yang dilaksanakan mulai Sabtu (13/2) hingga Sabtu (20/2).
Survei penghitungan volume lulintas yang dilakukan puluhan pekerja yang didominan para remaja ini, dilakukan di dua tempat berbeda secara bertahap. Di hari pertama dilaksanakan di Jalan Boulevard selama empat hari, dan di Jalan Urip Sumoharjo (bawah flyover) selama empat hari pula.
Mereka yang bekerja untuk mendata atau survei penghitungan volume lulintas, sebagian besar adalah remaja yang masih kuliah, pelajar tingkat SMA, bahkan ada yang sudah bekerja, seperti di warung makan.
Tenaga survei yang masih berstatus SMA hanya bekerja di saat libur, seperti di hari Minggu. Sementara pekerja yang berstatus mahasiswa ataupun pekerja warung makan, memilih full kerja selama seminggu.
Jam kerja mereka dibagi per shift. Shift pertama masuk pada pukul 06.00-14.00 Wita, shift dua pukul 14.00 – 22.00 Wita dan shift ketiga 22.00-06.00 Wita. Dari pekerjaan itu, mereka mendapatkan honor per hari sebesar Rp150 ribu.
Satriyanti atau akrab disapa Yanti (32), warga Jalan Mannuruki yang sebelumnya bekerja sebagai pelayan rumah makan (RM), memilih untuk izin bekerja selama seminggu ikut menjadi tim survei. Salah satu alasannya, karena honornya terbilang lumayan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarganya.
Sejak pertama sampai akhir survei yang dilakan, Yanti mengaku sama sekali tidak memiliki rasa takut duduk bersila di pinggir jalan yang ramai dilalui kendaraan, baik sepeda motor hingga mobil truk. ”Sebelum keluar rumah, saya selalu berdoa diberi keselamatan. Pada saat bekerja, saya fokus dengan kondisi yang ada di sekitar,” ujarnya.
Diapun berbagi pengalaman selama bergabung menjadi tim survei, terutama saat menghitung jumlah kendaraan yang seakan tidak pernah ada habisnya meluncur di jalan raya.
”Kendalanya biasa ketika sepeda motor yang akan dihitung terhalang di balik truk yang ukurannya lumayan panjang, yang dapat menyembunyikan beberapa sepeda motor. Di situ kita terpaksa harus memprediksi berapa sepeda motor yang melintas di samping truk. Selanjutnya kota fokus memperhatikan kendaraan yang lewat untuk mendapatkan data yang akurat,” ujarnya.
Pengalaman lainnya, di hari pertama bersama teman-temannya bekerja di Jalan Boulevard. Ia sempat ditegur oleh seorang petugas kepolisian, yang mempertanyakan legalitas dan apa yang dilakukan bersama teman-temannya di pinggir jalan.
Karena sudah dimodali dengan surat tugas, iapun langsung memperlihatkannya kepada polisi tersebut. Surat itu resmi ditandatangani oleh Direktur Utama BMN, dengan tembusan ke sejumlah pihak.
Setelah memperlihatkan surat tugasnya, polisi itupun bergegas pergi meninggalkan Yanti bersama teman temannya. Sampai kemudian berpindah ke bawah flyover, dia mengaku sudah tidak lagi mendapat teguran dari pihak lain. Hanya para pengendara yang kebanyakan pandangannya tertuju ke arah Yanti duduk bersama teman-temannya di bawah jembatan flyover.
“Selam di sini (bawah flyover), sudah tidak ada lagi orang yang datang mempertanyakan apa yang kami lakukan. Hanya para pengendara yang lewat sering melihat kami. Mungkin karena rompi kita yang kontras warnanya, jadi kita dilihat-lihati,” ucapnya.
Setelah menyelesaikan kontraknya sebagai tenaga survei, Yanti mengaku akan kembali menjadi pelayan rumah makan. Ia sangat berharap suatu saat nanti bisa mendapatkan pekerjaan seperti ini lagi. Karena pekerjaannya tergolong santai, sementara honor yang didapatkan terbilang cukup tinggi. (*/rus/b)

