SIANG KEMARIN, nafas seorang laki-laki tua tampak terdengar saat mendorong gerobak es lilin saat mengintari sudut-sudut Kota Makassar.
Laporan: JUNI SEWANG
Meski belum banyak yang menikmati es lilin buatannya sendiri yang tersimpan dalam wadah kecil berbentuk memanjang yang dikelilingi es batu, semangat pak Warto (56) tahun tetap terlihat walau keringat mulai bercucuran di dahinya.
Baginya, berjualan es lilin yang telah dilakoninya bertahun-tahun adalah tumpuan hidupnya bersama istri dan tiga orang anaknya.”Allah tidaklah melihat apa yang kita hasilkan, tapi apa yang kita usahakan”, itulah satu bait kalimat yang selalu menjadi penawar lelah dengan profesinya itu.
Tentu saja selama hidupnya ia tak pernah terbayang jika akan menggeluti usaha menjual es lilin di tengah gempuran usaha es yang lebih modern dengan rasa yang beragam saat ini.
Sebelum beranjak siang, dia mulai menjajakan es lilin di lorong dan pusat keramaian kota, karena terik matahari yang mengeringkan tenggorokan pasti akan memaksa orang untuk meneguk air segar pelepas dahaga, dan ss lilin bisa menjadi alternatif lain yang bisa mereka pilih dengan harga yang sangat murah.
Hari telah menjelang dhuhur, akhirnya sampai juga di dalam lorong Jalan Rappocini Raya. Lalu lalang anak-anak hingga mahasiswa dari sekitar kampus di Rapocini Raya mulai membeli satu persatu es lilin.
Betapa senangnya, terlihat dari wajah Warto ketika satu persatu pembeli datang, dengan senyum penuh bahagia aku layani mereka.
Menurut Warto kepada penulis, ia memulai menekuni berjualan es lilis sekitar tahun 80 an. Pada tahun itu, ujarnya, es lilin masih menjadi minuman yang digemari anak-anak hingga orang dewasa, sebab belum satupun es dengan bentuk yang berbeda dijual di jalan kecuali es manis dan es lilin.
Berbeda saat ini, sudah banyak usaha penjualan es mulai dari usaha sederhana hingga bermodalkan miliaran berdiri di Kota Makassar. bahkan harganya-pun terbilang mahal.
“Masih ada saja yang menggemari es lilin meski hanya beberapa orang. Bahkan harganya relatif murah dibandingkan usaha es lainnya,” kata Warto.
Warto juga mengaku, dengan berjualan es lilin, dia bisa mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan rumah sederhana dan berukuran kecil di Jalan Sungai Saddang.
Ia-pun mengaku tidak akan mengganti profesinya sebagai penjual es lilin.
“Jualan sudah saya lakoni sejak tahun 1982, sebelum Jalan Sungai Saddang ini tembus saya sudah jualan. Sampai sekarang saya tetap bertahan. Saya memang tidak berkeinginan mengganti profesi saya, kalau ganti profesi ganti peralatan lagi, ganti peralatan pake modal lagi, modalnya itu yang sulit,” tambahnya.
Warto menambahkan, waktu yang terbaik ketika kita berjualan di area sekolah adalah waktu istirahat dan pulang, kalau keliling di perumahan biasanya waktu sore hari (karena waktu pagi sampai siang anak-anak masih disekolahan), termasuk keramahan, kesopanan, salam, senyum, sapa harus dimilikinya untuk melayani dan memberi hal yang lebih terhadap pembeli.(jun/war)

