IDEALNYA, seorang ibu harus bisa membimbing anaknya dengan baik tanpa unsur kekerasan. Namun apa yang dialami Ls ini jauh dari harapan itu. Bocah malang itupun harus menanggung pilu akibat perbuatan ibu kandungnya sendiri.
LAPORAN: JULDAM HUSAIN
SEBUAH rumah yang dijadikan kos-kosan di Jalan Baji Pangasseng 5, Kota Makassar tampak ramai, Selasa (30/8) siang. Selain warga yang berkerumum di belakang sebuah sekolah dasar (SD) itu , ada pula polisi.
Seorang bocah perempuan berada tidak jauh dari sisi petugas kepolisian. Tubuhnya tampak begitu kurus. Rambutnya dipotong pendek. Wajahnya membiru. Matanya yang sebelah kanan memar. Di sebagian tubuhnya terdapat luka bekas penganiayaan. Jari tangan kiri dan kanannya membengkak.
Dia adalah Ls. Bocah yang masih berusia 14 tahun ini baru saja dibebaskan polisi dari dalam kamar mandi, tempatnya disekap oleh ibu kandungnya sendiri, Rahma.
Sang ibu punya alasan tersendiri memperlakukan putri sulungnya seperti itu. Rahma mengaku tak mampu menahan malu, karena Ls disebutkan terlibat dalam kasus pencurian. Diapun jengkel lalu kemudian memukul Ls dan menyekapnya dalam kamar mandi.
”Siapa yang tidak jengkel dan malu, Pak kalau anakta suka mencuri barang orang. Daripada malu dan diceritai orang, lebih baik saya kasih jera dengan memukulnya supaya dia kapok,” kata Rahma, enteng.
Ls merupakan anak satu-satunya Rahma dan pernikahan pertamanya dengan Basri. Keduanya sudah lama cerai. Ls ikut ke ibunya, sementara Basri kini berada di Mamuju.
Setelah ditinggal suaminya, Rahma menikah lagi dengan Arfah. Mereka telah dikarunia dua orang anak yang masih kecil.
Dari penuturan Rahma, selama menikah dengan Arfah, Ls selalu keluar rumah. Bahkan biasa satu bulan tidak pernah pulang.
Beberapa waktu lalu Ls dituduh mencuri di wilayah hukum Polsek Tamalate. Akhirnya Ls ditangkap anggota Polsek Tamalate dan membawanya ke Unit Perlidungan Anak dan Perempuan (PPA) Polrestabes Makassar.
”Minggu lalu sata dipanggil unit PPA Polrestabes untuk menjemputnya karena dituduh mencuri. Setibanya di rumah saya langsung marahi dan memukulinya sampai wajahnya membiru dan jari tangan kanan kirinya bengkak. Saya pukul dia supaya jera dan tidak mencuri lagi. Rambutnya juga saya gunting pendek supaya dia tidak bisa keluar dari rumah,” terang Rahma lagi.
Saat menganiaya anaknya seperti itu, Rahma mewanti-wanti suami keduanya.”Saya bilang ke suamiku, jangan ikut campur. Karena dia anak kandungku,” cetusnya.
Menyusul terbongkarnya kasus ini, Ls dan ibu kandung serta ayah tirinya kemudian dibawa ke Mapolsek Mamajang untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Kapolsek Mamajang, Kompol Jamal mengatakan, penyiksaan terhadap Ls diketahui setelah ada laporan dari warga Jalan Baji Pangasseng 5. Kepada polisi, warga menyampaikan bahwa Ls disekap di dalam kamar mandi dan dilarang keluar rumah.
”Laporan itu langsung kami tindaklanjuti. Anggota ke TKP untuk memastikannya,” terang Jamal.
Saat tiba di kamar kos Rahma dan suaminya, polisi langsung menanyakan keberadaan Ls. Rahma mengatakan kalau anaknya itu ada di dalam kamar mandi.
Tanpa menunggu lama, polisi langsung menuju ke kamar mandi dan mengeluarkan Ls. Saat itulah terlihat kondisi Ls yang sangat memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan wajahnya pucat.
Sebagian warga yang melihat kondisi Ls langsung menangis. Karena sebelumnya Ls tergolong gemuk dan badannya berisi.
Informasi dari tetangga, menyebutkan biasanya jika ada tamu yang datang ke rumah Rahma, ia langsung menyuruh Ls untuk sembunyi dalam kamar mandi. Tujuannya agar tetangga tidak tahu kondisi terakhir Ls.
Kanit Reskrim Polsek Mamajang, AKP Aris Sumarsono menegaskan, meski ibu kandung Ls berdalih memukul anaknya dan menyekap dalam kamar mandi serta menggunting rambut supaya anaknya tidak keluar rumah, pihaknya tetap meminta keterangan Rahma. Karena ia telah menganiaya anaknya. (*/rus)

