MAKASSAR saat ini menjadi salah satu kota yang memiliki daya tarik untuk orang berkunjung. Belum pas rasanya apabila tidak mengelilingi Kota Makassar serta menikmati berbagai macam makanan dan minuman khas Indonesia.
Laporan: ARIF AL QADRY
Di pinggiran jalan termasuk di Jalan Hertasing banyak kita temukan pedagang-pedagang yang menjajakan dagangan mereka,seperti pedagang pakaian,tas,sandal, pedagang jam tangan, penjual makanan dan minuman.
Bahkan ada satu minuman khas pulau Jawa yang juga dijajakan di Jalan Hertasing yakni Es Dawet. Para penjual es dawet rela untuk meninggalkan kampung halamannya semata-mata merantau di Makassar mencari kehidupan, seperti yang dilakoni Nurulloh.
Memang banyak suka duka yang dialami Nurulloh selama berjualan es dawet, yaitu apabila cuaca sedang terik atau panas maka es dawet yang dia jajakan akan laku terjual, dan dukanya apabila sedang musim hujan,dagangan akan sepi oleh pembeli,sehingga daganganya tidak terjual habis. Akhirnya Nurulloh harus membuang dagangan esnya yang tidak laku terjual.
Nurulloh berjualan es dawet di Jalan Hertasing hampir tiap hari, dia membuka daganganya sejak pukul 09.00-16.00 sore.
Harapan Nurulloh tidaklah muluk-muluk, keuntungan yang diperoleh dari berjualan es dawet disisikan untuk modal pulang ke kampung di Jawa Tengah.
Inilah salah satu contoh fenomena kehidupan pedagang-pedagang perantau yang mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka di Makassar.
Di depan penulis, Nurulloh mengaku hanya bermodal uang Rp1 juta, dia bersama empat kawannya dari Banjarnegara berangkat ke Kota Makassar. Sesampai di Makassar, dia langsung ke Jalan Tamalate IV di rumah bosnya.
Bekerja sebagai penjual es dawet diakui Nurulloh jauh lebih baik dari pada menjadi driver. Selain makan tiga kali sehari, tempat tinggal di Makassar disediakan oleh bosnya. Meskipun upah yang dia dapat tergolong masih sangat minim.
“Ini kerjaanku lebih baik dari dulu. Saya senang dengan kerjaanku ini karena masih bisa kirimkan orang tua uang yang ada di kampung. Karena makan, tempat tinggal di Makassar semuanya kan ditanggung sama bos. Apalagi saya punya persenan dan itulah yang saya pakai untuk har-hari. Kalau dulu setiap hari upah Rp50 ribu habis untuk makan saja,” terangnya.
Nurulloh mengakui, jualan es dawetnya selalu ramai diserbu masyarakat apalagi di siang bolong. Setiap hari, pria kelahiran Banjarnegara, 10 Februari 1996 itu mampu menjual es dawet 100 gelas atau sampai 150 gelas. Ia mulai berjualan dari pukul 10:00 sampai 17:00.
“Setiap hari selalu ramai apalagi siang hari. Kalau pulang tidak pernah sisa, biasanya malah nambah 50 sampai 60 gelas setiap hari,” katanya.
Menurut Nurulloh, es dawet yang dijual diperoleh dari bos yang juga asal dari Jawa Tengah. Nurulloh bersama teman-temannya dari Banjarnegara hanya menjaga dan melayani pembeli yang datang. Dengan upah setiap bulannya Rp600 ribu. Beda dengan persenan yang dia dapat dari hasil penjualannya.
“Saya juga dapat persenan setiap hari dari hasil penjualan 10 persen,” sebutnya.
Sebelum ke Makassar pada Februari 2017 mengikuti ajakan dari teman-temannya berjualan es dawet, Nurulloh sebelumnya pernah bekerja di pabrik lem di Semarang. Saat itu dia bekerja sebagai driver antar barang. Tiga tahun bekerja di pabrik lem dengan upah Rp50 ribu perhari, Nurulloh mengajukan pengunduran diri dari tempat dia bekerja. Alasannya pada saat itu dia ingin menjaga ibunya di Banjarnegara yang sedang jatuh sakit. Setelah mendapat persetujuan dari tempat kerjanya, dia kemudian bergegas ke rumah keluarganya yang dia tempati tinggal selama berada di Semarang.
“Selama berada di Semarang saya tinggal di rumah tante saya. Saya juga sempat meminta izin untuk pulang ke kampung halaman untuk jaga ibu saya. Mereka dapat kabarnya juga jadi saya langsung diantar ke kampung,” sebutnya.
Setelah kondisi ibunya sudah membaik, dia mulai pusing untuk mencari pekerjaan. Apalagi ayahnya lebih memilih tinggal bersama istri keduanya. Sedangkan dua saudara kandungnya dari ibunya semuanya telah berkeluarga dan tinggal bersama berkelurganya. (*)

