pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Tetap Bertahan Meski Tergerus Angkutan Daring

TUKANG becak, profesi ini pasti dikenal semua kalangan. Dengan tempat duduk di depan serta memiliki roda dua yang digayuh oleh pemiliknya, profesi ini hanya dipandang sebelah mata. Meski begitu, mereka tetap bangga mengayuh becak hingga usia tua.

Laporan: AGHITS RENALDY

Perempatan di Jalan Antang Raya adalah lokasi yang cukup strategis bagi para tukang becak mendapatkan penumpang karena banyak penumpang yang turun dari petepete untuk memasuki perumahan. Penumpang merasa becak adalah transportasi yang pas untuk mengantar mereka.
Salah satu tukang becak yang bermukim di daerah Nipa-nipa Lama, Kampung Manggala Pabo Dg Nai yang mengaku sejak tahun 1955 berprofesi sebagai tukang becak ia mangkal hingga di perempatan Jalan eks Irian.
Selain menjadi tukang becak tidak ada pekerjaan lain yang ia jadikan penopang untuk menafkahi istri hanya dengan alasan hanya pekerjaan inilah yang ia bisa lakukan.
Ia pertama kali mengayuh becak saat berumur 12 tahun.Daeng Nai’ berangkat dari rumah pada pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 16.00 sore.
Pendapatan sehari-hari tidak menentu. Bahkan terkadang beliau tidak membawa pulang uang sepeserpun.
Menurutnya, menurunnya pendapatan tukang becak sekarang, karena banyaknya angkutan yang lebih modern. Seperti taksi dalam jaringan (daring) atau lazim disebut online, becak motor (bentor), pete-pete. Daeng Nai’ juga berkata, bahwa lebih enak mengayuh becak pada jaman Presiden Soeharto. Karena pada saat itu Daeng Nai’ bisa mendapat penghasilan sekitar 300 ribu rupiah perharinya. Jumlah yang sangat besar di jaman itu. Alasan Daeng Nai’ tetap menjadi tukang becak adalah, karena ia lebih menyukai profesi tukang becak dibanding pekerjaan lainnya semisal kuli bangunan.
Pria 75 tahun ini juga enggan beralih ke bentor dikarenakan tidak memiliki biaya membeli bahkan menyewa bentor. Miris memang dijaman modern seperti sekarang, masih ada orang seperti Daeng Nai’ yang setia pada profesinya sebagai tukang becak.(*)



×


Tetap Bertahan Meski Tergerus Angkutan Daring

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar