MENIKAH tentu adalah tujuan yang diharapkan para pasangan. Berbagai macam cara dan adat istiadat dalam pelaksanaan pernikahan menjadi impian pasangan muda-mudi. Belajar mandiri dan tidak merepotkan orang tua merupakan hal yang banyak dilakukan para pasangan. Olehnya itulah, banyak yang menabung sejak dini dari hasil gaji mereka.
Laporan: ARIF AL QADRY
Hal tersebut juga dilakukan Iqbal, Petugas Teknisi Listrik PLN Makassar Utara.
Upah yang didapat Iqbal setiap bulan sama dengan upah pekerja-pekerja biasanya. Namun angkanya tidak ingin dia sebutnya. Upah yang dia dapatkan setiap bulan tidak dia habiskan, sebagian dia berikan ke orang tuanya untuk ditabung dan sebagian lainnya dia gunakan untuk jajan.
Sekarang ini Iqbal masih berstatus lajang, dia baru akan menikah ketika uang tabungannya yang dia simpan di orang tuanya sudah cukup.
“Nantilah menikah kalau sudah cukup tabungan. Karena sebagian gajiku saya kasikan orang tuaku untuk tabung dan bantu dia untuk biaya sehari-hari,” tutupnya.
Pria kelahiran Ujung Pandang, 9 Juni 1996 itu, setiap hari turun melakukan pemeliharaan jaringan maupun karena ada gangguan. Bahkan ada saja masyarakat yang mencaci maki dirinya jika pemadaman listrik berlangsung lama.
Memanjat tiang listrik, memperbaiki dan mengganti kabel atau isolator yang rusak, telah menjadi aktifitasnya setiap hari.
Cuaca panas ataupun hujan bukan menjadi alasan bagi Iqbal dan timnya menunda aktifitas turun ke lapangan memperbaiki masalah kelistrikan. Semua itu dilakukan untuk memberikan pelayanan baik kepada masyarakat pelanggan PLN.
Penulis maupun pengguna jalan yang melintas di Jalan Adipura Raya, Kecamatan Panakkukang pasti memperhatikan Iqbal yang piawai memanjat tiang listrik. Aksi Iqbal berada di tiang listrik memperbaiki isolator dan kabel-kabel mampu menarik perhatian, apalagi saat itu hujan gerimis mulai turun membasahi jalan.
Dari atas tiang, Iqbal nampak menggunakan helm, sepatu boots dan safety belt atau sabuk pengaman yang melilit di pinggangnya. Sementara satu rekannya berdiri di bawah tangga membantu memberikan peralatan yang dibutuhkannya. Cukup lincah gerakan Iqbal saat berada di tiang listrik yang seakan tidak lagi takut terjatuh dan kesetrum listrik.
“Sebelum kita naik, arus listrik lebih dulu dimatikan jadi aman. Tapi tetap harus safety dengan menggunakan sabuk pengaman, helm dan sepatu boots. Keselamatan tetap nomor satu,” sebut Iqbal usai mengerjakan tugas.
Menurut Iqbal, dirinya sejak dulu senang manjat dan ketinggian. Itulah alasan mengapa dia ikut bergabung menjadi teknisi PLN selain dasar pengetahuan kelistrikan yang dimiliki ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK Citra Mulya di Jalan Batua Raya tempat Iqbal dulunya menempuh pendidikan selama tiga tahun.
“Pekerjaan ini sesuai dengan jurusan saya di SMK dulu yaitu kelistrikan. Memang waktu saya lulus sekolah saya cari pekerjaan teknik seperti ini dan saya dapat dari teman info lowongan ini. Ada satu minggu jarak waktu usai memasukkan lamaran saya dipanggip tes wawancara dan alhamdulillah saya diterima,” katanya.
Ketika diterima bergabung sebagai teknisi listrik, Iqbal langsung memberitahu ke dua orang tuanya dan ke dua orang tuanya juga mendukungnya. Risiko bekerja sebagai teknisi listrik sudah dia tahu, dan menurutnya itu adalah suatu yang menarik. Sebab semua pekerjaan memiliki risiko yang harus dihadapi.
Hal terpenting yang harus diperhatikan kata Iqbal adalah memperhatikan kesiapan kelengkapan keamanan lapangan agar dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan. Tidak hanya itu, koordinasi harus aktif dilakukan bersama anggota menggunakan handy talky memberikan informasi apakah listrik sudah siap di aktifkan atau belum.
“Tetap koordinasi kita lakukan. Listrik mulai di aktifkan kalau benar-benar tidak adalagi aktifiras pekerjaan di tiang. Jadi pentingnya koordinasi dan peralatan pengaman,” tuturnya. (arf)

