TAHUN BARU biasanya identik dengan terompet. Saat tahun baru tiba, kita biasa mendengar berbagai tiupan terompet baik yang bibunyikan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Terompet jelas telah menjadi ciri khas tersendiri dari pelaksanaan tahun baru.
Laporan: NUGROHO
Biasanya, menjelang malam tahun baru tiba, banyak pula bermunculan berbagai penjual terompet. Di pinggir-pinggir setiap sudut jalan biasa kita dapati banyak penjual terompet dadakan muncul. Mulai dari terompet klasik yang berbahan kertas, sampai yang terlihat modern terbuat dari plastik.
Tak terkecuali di sepanjang Jalan Sultan Alauddin Makassar, bisa kita dapati berbagai penjual terompet musiman yang tiba-tiba saja muncul. Di salah satu sudut jalannya, penulis menghampiri salah satu penjual terompet tersebut. Namanya Daeng Lewa.
Daeng Lewa akan mulai menjual terompet hanya saat menjelang malam pergantian tahun tiba. Selain di momen tahun baru, Daeng Lewa tentu tidak mau menjual terompet karena tidak ada yang mau beli. “ Saya tiap mau tahun baru pi jual terompet, bagus karena kalau mau tahun baru, banyak yang cari,” kata Daeng Lewa.
Di tahun 2017 ini sendiri, ia telah memulai meletakkan terompet-terompet dagangannya sejak Rabu (20/12) lalu. Ia pun akan berhenti kembali berjualan terompet setelah malam pergantian tahun lewat. “ Kalau selesai mi tanggal satu, tidak menjual mi. Tidak ada mi juga yang jual terompet itu,” kata Daeng Lewa.
Daeng Lewa adalah seorang pria berumur 47 tahun. Ia asli dari Makassar. Saat ini ia tinggal di Jalan Manuruki 3 bersama anak dan istrinya. Istrinya bernama Nuryanti. Sedangkan anaknya kini masih berusia 4 tahun bernama Rehan.
Sehari-harinya, Daeng Lewa sebenarnya bukanlah seorang pedagang. Ia adalah seorang buruh bangunan. Ia berjualan terompetpun hanya dijadikan sebuah pekerjaan sampingan karena bisa menunjang penghasilannya. Ia memanfaatkan momen tahun baru ini untuk keluarganya supaya bisa memberikan sesuatu yang lebih untuk perekonomian keluarga.
Di lokasi berjualannya, ia menjual teromper dengan berbagai macam dan berbagai harga. Mulai yang paling murah dengan harga Rp 7 ribu, ada juga yang seharga Rp 20 ribu, Rp 25 ribu, Rp 30 ribu, dan yang termahal dengan harga Rp 40 ribu.
Daeng Lewa mengatakan, jika sebenarnya tidak banyak juga keuntungan yang biasa ia dapat selama menjual terompet. Bahkan di beberapa hari pertama ia bahkan tak mendapatkan pembeli satupun. Hal ini ia katakan sangat berbeda kondisinya pada tahun-tahun sebelumnya.(nug/war/b)

