KONDISI pekerjaan seorang bapak yang demikian padat, dibutuhkan kerjasama yang baik dengan sang istri. Khususnya di dalam membina dan merawat anak-anaknya. Hal itulah yang selama ini diamanahkan Ridwan ke sang istri.
Laporan: JUNI SEWANG
Ridwan mengakui selama 26 tahun menjadi penjaga tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar, ia tidak pernah kekurangan dalam hal membina anak-anak hingga menjadi dewasa. Pasalnya, sang istri-lah yang selama ini menjadi nahkoda dalam rumah tangga bila ia menghabiskan waktu di lapas demi menjalankan amanah selaku aparatur sipil negara.
“Definisi keluarga adalah intitusi utama dan pertama dalam hal pendidikan bagi anak. Jika itu tidak dijalankan maka akan memperlemah posisi keluarga dalam membentuk watak dan karakter anak,” jelasnya.
Ridwan juga mengaku bersyukur mendapatkan istri yang banyak tahu urusan rumah tangga dan anak, terlebih lagi, istrinya lebih banyak di rumah sebagai ibu rumah tangga. “Waktu saya banyak terbuang di kantor, sehingga dalam urusan anak saya percayakan ke istri. Anak saya empat orang dua anak laki laki saya, dua anak perempuan. Alhamdulillah saya bersyukur semua mengerti dengan profesi saya,” jelasnya.
Untuk membalasnya, jika waktu libur, Ridwan mengajak istri dan keempat anaknya berjalan-jalan ke mal, tempat wisata dan bahkan bermain bersama. “Anak saya rata-rata melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Termasuk anak bungsu saya. Alhamdulillah tidak banyak ji permintaannya dan lebih banyak membantu mamanya di rumah. Soal prestasi anak ada juga yang bagus, tapi tidak usah disebut,” katanya kepada penulis.
Dalam urusan kantor, ia sehari harinya bertemu dengan ribuan karakter, baik dari warga binaan sendiri sampai keluarga dari warga binaan (pembesuk). “Sedihnya kalau ada warga binaan yang melarikan diri. Itu menjadi beban batin tersendiri, termasuk jika ada warga binaan yang melanggar kami diberi brifing, lebih semangat agar tidak teledor.
Apalagi, ia pernah mengalami satu kasus terbesar selama bekerja, yakni pembakaran ruang tahanan oleh warga binaan di tahun 1999.
” Pernah terjadi pembakaran sel yang dilakukan oleh warga binaan. Kami para penjaga kena tegur. Itu beban batin bagi kami dan merasa hasil kerjanya belum bagus. Dari pengalaman itu, saya selalu melakukan pendekatan emosional ke seluruh warga binaan. Kalau mereka lebih tua kita tuakan dan bila lebih muda saya perlakukan saudara,” jelas Ridwan.
Kerjaan sipir tahanan memang dirasakan gampang-gampang susah. Resiko paling besar yang ditakuti semua sipir adalah kalau ada tahanan yang kabur. Olehnya itu, jadi sipir juga mesti waspada dengan segala tindak-tanduk narapidana. Tapi sipir juga harus siap jadi konsultan karena sering jadi tempat curahan hati para narapidana.
Seperti halnya yang dialami Ridwan, sipir tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Makassar.
Terangkat sebagai pegawai negeri sipil di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumhan) Sulsel tahun 1991, Ridwan memulai karirnya dan bertugas di Lapas Klas 1 Makassar dan langsung mendapat kepercayaan menjaga tahanan.
“Menjadi penjaga tahanan ngeri ngeri sedap, sedapnya ya’ banyak kenalan, banyak teman dari berbagai kalangan, profesi, latar belakang. Malahan mereka curhat penyebab sehingga mereka masuk menjadi warga binaan. Ngerinya kalau ada tahanan kabur, ” kata pria kelahiran Gowa, 19 Januari 1965 ini.
Bahkan kata Ridwan, karena dekatnya dia dengan narapidana, mereka yang sudah bebas masih komunikasi dengannya. ” Saya bersyukur mereka kembali berbaur dengan masyarakat meski masih melekat sebagai mantan narapidana. Meski begitu, mereka adalah keluarga dan teman saya,” ungkap Ridwan.
26 tahun mengabdi di lapas Klas 1 Makassar, di tahun ke 15, Ridwan mendapat penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI. Saat ini Ridwan menjabat kepala regu pengamanan dari regu II (dua).
” Alhamdulillah saya dipercaya menjadi kepala regu. Disini kami tim penjaga dibagi per regu, dalam satu regu memiliki 7 anggota, 1 kepala regu, jadi satu regu terdiri 8 orang penjaga. Tugas tambahan ketua regu yakni pantau anggota yang sementara bertugas, pantau petugas jaga di pos,” tuturnya.
Ditanya oleh penulis, apa saja yang diceritakan oleh para narapidana, Ridwan mengakui, rata-rata mereka berkeluh kesah tentang keluarganya, betapa rindunya mereka sama anak, suami, orang tua dan sanak saudara.
Selain mendengarkan isi dalam hati mereka, Ridwan juga sering memberi nasihat. ” Mereka juga manusia yang ingin mencari sosok orang untuk menjadi tempat curhat, seperti orang yang mau mendengar dan tetap memandang mereka sebagai seutuhnya manusia yang baik meski pernah melakukan sesuatu yang buruk. Apalagi, mereka memang manusia biasa yang nggak luput dari kesalahan yang harus dipertanggung jawabkan,” ujar Ridwan. (jun)

