ZAMAN yang semakin berkembang seperti sekarang ini, penggunaan sumur galian seakan sudah tak lagi diminati masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan air, lebih cenderung menggandalkan sumur bor dan mesin pompa. Alhasil, para penjual gorong-gorong buis beton seperti Erni Bani hanya bisa gigit jari.
Laporan: ARIF AL QADRY
Keberadaan sumur tradisional di tempat umum semakin sulit kita jumpai. dulu kita masih menjumpai masyarakat sibuk seakan berlomba mengambil air dalam sumur mulai untuk memasak, mencuci pakaian serta mandi, kini suasana penuh keakraban itupun mulai menghilang.
Hadirnya sumur bor dengan sistem galian yang lebih cepat dan praktis membuat orang-orang beralih untuk menggunakannya. Mereka banyak menggunakan di sejumlah kompleks perumahan.
Selain kejernihan airnya, alasan lain karena jika memakai sumur konvensional memakan banyak tempat. Sedangkan sumur bor sendiri ukurannya kecil dan lebih menghemat tempat.
Kurangnya peminat sumur konvensional sangat dirasakan Erni Bani, penjual buis atau gorong-gorong beton di Jalan AP Petta Rani. Ia sudah 20 tahun lebih berjualan gorong-gorong mulai dari tanah liat hingga buis beton. Perempuan kelahiran Ujung Pandang, 26 Juni 1980 ini mengaku sudah lima tahun terakhir pesanan buis beton untuk sumur galian mulai hilang. “Saya mulai kesulitan menjual buis beton. Berbeda tahun 90-an, dimana masyarakat masih membutuhkan sumur,” jelasnya.
Syukurnya, jelas Erni kepada penulis, ia tidak hanya menjual buis beton saja, ia juga menjual paving blok dan ventilasi udara rumah. “Orang rata-rata datang hanya memesan paving blok dan ventilasi rumah dari beton. ada juga yang memesan pot bunga. Kalau pesanan buis beton untuk sumur sudah sepi,” katanya.
Olehnya itu, kata Erni, ia beralih ke menjual buis beton untuk keperluan pembuatan WC. Buis beton pembuatan WC atau bak penampungan dan sebagai pondasi bangunan. hanya saja, ukurannya lebih kecil dibandingkan buis beton untuk sumur. Kalau sumur galian berdiameter 80 mm kalau untuk WC hanya 60 mm.
Beda ukuran tentu beda harganya juga. Buis beton yang dia jual dengan diameter 60 cm senilai Rp135 ribu per biji. Dan buis beton diameter 80 cm senilai Rp160 ribu per biji. Harga itu sudah termasuk ongkos kirim. Jika ingin membeli tanpa jasa antar buis beton cuma seharga Rp80 ribu sampai Rp90 ribu per bijinya.
“Sekarang pemesan buis beton sudah sepi. Lebih banyak orang pesan buis untuk fondasi bangunan dan buat bak WC. Kalau untung pasti lebih baik harganya buis untuk sumur karena bisa saya jual dengan harga Rp160 ribu per bijinya. Sekali buat sumur perlu enam sampai tujuh buis beton, jadi lumayan ji. Dari pada usaha tutup, mending kita terima juga pesanan buis ukuran kecil,” katanya.
Buis beton yang dijual di AP Petta Rani yang tidak jauh dari kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Makassar dia buat bersama keluarganya. Saudaranya semua adalah pembuat dan penjual buis beton, ventilasi, dan paving block. Takaran dan cara pembuatan semuanya dia dapat dari bapaknya yang sudah lama membuat dan menjualan bahan-bahan tersebut.
Kalau rezeki nomplok datang, dalam seminggu, ibu dua anak itu bisa membuat buis beton sebanyak lima 20 biji. Hanya butuh waktu tiga hari, buis sudah bisa diangkat. Dan ketika hujan, pembuatan buis sampai proses pengeringan bisa memakan waktu empat hari.
“Kadang dalam seminggu tidak ada yang laku. Untung maki kalau ada yang laku dalam satu minggu. Biasanya dalam satu bulan hanya laku tiga sampai empat biji ji. Sama ji paving block susah lakunya dan lama. Kecuali ventilasi lumayan cepat ji,” tambahnya.(arf)

