pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken
pulsa.rovindo.com - Pusat Distributor Pulsa dan TOken

Dijelek-jelekkan Hingga Ditipu Pelanggan

MENJALANKAN bisnis tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras dan perjuangan untuk membesarkan sebuah bisnis. Bahkan tidak jarang bisnis yang dijalankan gulung tikar karena orang tidak yakin.Perjuangan keras itu juga dijalani Fitriani Ulma, dalam menjalani profesi hijab syar’i.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Ulma sapaan akrabnya merintis dunia bisnis hijabnya dengan menjadi agen dropship beberapa brand muslim selama empat tahun lebih sejak kuliah sebelum memutuskan memilliki brand sendiri.
“Sebelumnya saya ambil barangnya orangnya terus saya pasarkan, karena dari dulu itu cita-cita ku ingin punya brand bisnis sendiri. Berawal dari situ saya belajar bisnis, mulai cicil-cicil kain dari hasil jualan, lama-lamakan tambah banyak,” ungkapnya saat ditemui penulis di sela-sela kegiatannya di Makassar.
Ulma mengakui di awal perjalanan bisnisnya butuh banyak suka duka, utamanya melawan dirinya sendiri yang kerab dilanda kemalasan dan tidak percaya diri. Bahkan ketika orang di sekitarnya mencela bisnis yang ia geluti dan tidak adanya dana besar untuk membuka bisnis dengan brand sendiri.
“Kalau mau dicerita soal suka duka bisnisku banyak sekali, utamanya itu kalau ada yang sengaja menjelek-jelekkan kualitas jilbab ta. Belum lagi pernah ditipu pelanggan saat barang hijabku sudah dikirim tapi uangnya belum dikirim karena kan rata-rata saya jual online dan offline,”akunya.
Perempuan kelahiran Jeneponto, 23 mei 1994 ini membeberkan pasca dirinya mempunyai modal yang dibilang tak seberapa dari keuntungan menjualkan brand orang. Akhirnya Ulma memutuskan berhenti menjadi agen dropship sebelum menjalan bisnisnya sendiri, pelan-pelan Ulma kemudian memproduksi sendiri barang dagangannya dengan label Ulma Hijab.
“Jadi saya tabung uang beasiswaku sejak kuliah ditambah hasil jual hijab, semua itu saya kumpulkan sampai bisa beli kain dan mesin jahit. Saya mulai merintis bisnis jilbab dengan menjadi agen dropship sejak 2015, baru diakhir-akhir 2016 saya menjadikan namanya sendiri sebagai brand saya,” bebernya.
Selama itu, Ulma bercerita jika dirinya menjalankan bisnis memerlukan kegigihan. Ia sering mengkampanyekan label Ulma Hijab melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Namun, label Ulma Hijab baru dipasang ke dalam produk dagangan jilbabnya pada tahun 2016, karena pada tahun ini Ulma baru memiliki uang untuk memasang label tersebut.
Selain itu, Ulma juga bercerita bahwa memulai bisnis jilbab buatannya sendiri dengan modal minim, ia pun terpaksa membeli bahan jilbab semampunya. Kadang hanya membeli bahan sekitar 10 meter, 20 meter, dan 40 meter dengan harga eceran di pasar, kemudian dijahitkan ke orang lain. Begitulah Ulma memulai bisnis jilbabnya dengan kucuran keringat dan kerja keras.
“Awalnya cuman beli kain seadanya sesuai kemampuan keuangan, karena biasanya saya buatkan hijab orang berdasarkan pesanan. Karena kalau menjahit lebih dulu biayanya mahal dan belum tentu laku. Sekarang saja bisnis hijabku dijahitkan orang karena kewalahan,” terangnya.
Produk jilbab yang pertama kali ia pasarkan adalah jilbab khimar Jumlahnya pun tak banyak, hanya sekitar 10 hingga 20 pcs. Produk jilbab ini difoto menggunakan kamera handphone, kemudian diupload di media sosial untuk dijual secara online. Namun, kini beberapa produk jilbab Khodijah Hijab dalam iklan penjualannya sudah menggunakan model, maka jasa photographer profesional juga dilibatkan, lainnya yang tidak menggunakan model tetap difoto sendiri menggunakan kamera handphone.(*)



×


Dijelek-jelekkan Hingga Ditipu Pelanggan

Bagikan artikel ini melalui

atau copy link

Tinggalkan komentar